RMco.id  Rakyat Merdeka - Warga pesimistis perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di Jakarta bisa menghentikan penularan virus corona atau Covid-19. Ini tidak akan berefek signifikan tanpa ketegasan petugas gabungan.

Buktinya selama enam pekan diterapkan PSBB transisi, angka positif penderita Covid-19 kian merajalela di Ibu Kota. Sebab, pelonggaran aktivitas di berbagai sektor kian terbuka. Sementara kedisiplinan warga me nerapkan protokol kesehatan sangat rendah. Bahkan banyak yang tak peduli lagi dengan pandemi ini.

Berita Terkait : Kapasitas Lebih Dari 2.500 Kamar, Tower 4 dan 5 Wisma Atlet Disiapkan Untuk Pasien OTG

Tetapi anehnya, petugas gabungan tidak bertindak tegas. “Orang udah banyak nggak pakai masker. Pasar, mall, udah balik normal. Sudah susah mau PSBB diperpanjang 10 kali pun, kalau tak ada kesadaran warga dan petugas tak tegas,” ujar Husni, warga Kedaung Kali angke, Jakarta Barat.

Pantauan Rakyat Merdeka, jalanan di Jakarta kian ramai. Tempat-tempat kegiatan ekonomi, seperti pasar, mall, restoran, transportasi massal, juga sudah tak sepi lagi. Namun, penerapan ketat protokol kesehatan hanya ada di tempattempat dan waktu tertentu.

Berita Terkait : Agar Ampuh, PSBB Total Tak Boleh Setengah Hati

Check point pengawasan PSBB pun demikian. Bak pajangan doang. Petugas hanya berjaga saat jam sibuk. Kegiatan berskala besar mulai bergeliat. Car Free Day (CFD) setiap pekan dihelat di 32 titik. Aksi demonstrasi di berbagai lokasi juga tak dilarang. Warga yakin, perpanjangan PSBB hanya ecek-ecek saja jika tak dibarengi dengan ketegasan sanksi kepada pelanggar.

“Denda dong yang nggak pakai masker di luar rumah. Katanya udah dibagiin 20 juta masker dari Pemprov DKI Jakarta. Perbanyak aparat patroli dan pengawasan. Lakukan sepanjang hari. Di pasar dan kawasan pemukiman padat penduduk,” ungkap Wenny Agustian, warga Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
 Selanjutnya