RMco.id  Rakyat Merdeka - Dua pekan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta menutup 96 perusahaan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta Andri Yansah memaparkan, dari total 96 perusahaan, ada yang ditutup sementara karena ditemukan kasus Covid-19.

Sedangkan 41 sisanya, ditutup karena melanggar protokol kesehatan. Jumlah karyawan yang masuk, melebihi 25 persen kapasitas.

Berita Terkait : Langgar Aturan PSBB, 25 Perkantoran di Jakpus Ditutup Sementara

Untuk diketahui, PSBB kali ini lebih ketat dari PSBB awal yang memperkenankan karyawan masuk kantor dengan ketentuan jumlah tidak boleh melebihi 50 persen kapasitas. Pada PSBB ketat kali ini, perkantoran dan perusahaan dibolehkan berkegiatan di kantor, dengan syarat tidak boleh melebihi 25 persen kapasitas.

"Penutupan karena melanggar protokol kesehatan, dilakukan tiga hari," kata Andri melalui keterangan tertulisnya, Senin (28/9).

Pada PSBB ketat dua pekan pertama, Dinas Tenaga Kerja melakulan inspeksi mendadak di 581 perusahaan. Disnaker akan terus menyidak pada perpanjangan pembatasan sosial selama 14 hari, hingga 11 Oktober mendatang.

Berita Terkait : PSBB Diperketat, Angkutan Kargo Naik Di Tengah Covid-19

Andri menuturkan, hingga saat ini, pemerintah belum menjatuhkan sanksi denda perusahaan yang melanggar protokol kesehatan.

Sanksi progresif bakal diberikan, jika perusahaan atau perkantoran melakukan pelanggaran berulang.

Jakarta Selatan tercatat sebagai wilayah yang paling banyak memiliki kasus perkantoran ditutup, dengan 19 kasus. Sisanya tersebar di Jakarta Pusat (3), Jakarta Barat (12), Jakarta Utara (11), Jakarta Timur (10) dan Jakarta Selatan (19).

Berita Terkait : Protokol Kesehatan Kunci Sukses Pilkada 2020

Sedangkan kantor yang ditutup karena melanggar PSBB, paling banyak ada di Jakarta Pusat, dengan jumlah 19 perusahaan. Selanjutnya, ada di Jakarta Selatan (10) , Jakarta Timur (6), Jakarta Barat (4), dan Jakarta Utara (2). [FAQ]