RMco.id  Rakyat Merdeka - Tragis benar nasib warga Jakarta korban banjir. Walau rumahnya ‘dijajah’ luapan air hujan, mereka tetap bertahan. Khawatir terpapar Virus Corona (Covid-19) jika mengungsi.

“Diminta mengungsi tapi nggak mau karena takut kumpul-kumpul, kan lagi Corona,” ujar Oni, warga Kebon Pala, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, kemarin. 

Warga Rukun Tetangga (RT) 11 dan Rukun Warga (RW) 05 itu mengaku tetap bertahan di lantai dua rumahnya. Sebab, di lantai 1 terendam air. 

Dia menungkapkan, hujan yang turun sejak Minggu (4/10) malam, sangat mengkhawatirkan. Makanya langsung pindah ke lantai dua. Kemarin siang, kata Oni, air limpahan dari Kali Ciliwung sudah mulai surut. 

Warga pun mulai membenahi dan membersihkan rumah serta perabotan yang terendam. Lurah Kampung Melayu, Setiawan mengaku, banyak warga tak mengungsi. Mereka memilih tetap berada di lantai dua rumah masing-masing. 

“Ada 1.264 jiwa yang terdampak di 5 RW. Sejak pukul 07.30 WIB air sudah mulai surut. Siang perlahan mulai hilang,” kata Setiawan. 

Dia mengungkapkan, banjir mulai terjadi sejak pukul 22.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), Minggu (4/10). Saat pintu air Depok siaga tiga. Ini akibat hujan lokal, dan air kiriman dari Jakarta Selatan. 

“Sebanyak lima RW, yakni 04, 05, 06, 07 dan 08 terendam. RW yang paling parah terkena banjir, RW 07 dan 08. Sebanyak 11 RT terendam banjir di 2 RW itu,’’ papar Setiawan. 

Berita Terkait : Arab Saudi Buka Kembali Penerbangan Internasional

Hingga kemarin siang, masih ada kawasan yang banjir. Yakni di perkampungan Hongkongbeng, Jalan Kemang X, Kelurahan Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. 

Ketinggian air sekitar 40 sampai 60 centimeter. Warga di sana mengaku, banjir terjadi setelah hujan deras dengan intensitas sedang mengguyur sejak Minggu malam. 

“Air masuk seleher orang dewasa. Ada warga yang sampai ngungsi ke Mushola,” ujar Zia, warga setempat. 

Pada dini hari, lanjut Zia, warga dievakuasi oleh petugas menggunakan perahu karet ke tempat pengungsian. 

257 Orang Mengungsi 

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdatin BPBD) DKI Jakarta, Mohammad Insaf memaparkan, hingga Senin siang, ada dua titik pengungsian banjir. 

Yakni di Mushola Al-Ma’muriah di Kelurahan Cilandak Timur dan Masjid Al Ma’mur di Kelurahan Pejaten Timur. “Total pengungsi ada 257 jiwa,” ungkap Insaf dalam keterangannya, kemarin. 

Menurut Insaf, sebanyak 56 RT atau 0,18 persen yang tergenang di Jakarta. Perinciannya, di Jakarta Selatan terdapat 23 RT. 

Berita Terkait : Tahun Baru, Warga Demak Kebanjiran

Terdiri dari ketinggian 10 hingga 30 centimeter (cm) sebanyak 4 RT, ketinggian 31 sampai 70 cm di 11 RT, ketinggian 71 sampai 150 cm ada 6 RT, dan ketinggian lebih dari 150 cm ada 2 RT. 

Di Jakarta Timur terdapat 31 RT. Terdiri dari ketinggian 10 sampai 30 cm di 5 RT, ketinggian 31 sampai 70 cm di 10 RT, ketinggian 71 sampai 150 cm di 16 RT. 

Kemudian di Jakarta Barat terdapat 2 RT terdiri dari ketinggian 10 sampai 30 cm. Hingga Senin pagi, menurut Insaf, ada 20 ruas jalan yang tergenang di Jakarta. 

Sampah Diangkut 

Sejak dini hari kemarin, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengerahkan 50 petugas untuk mengangkut sampah yang terseret aliran Kali Ciliwung di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan. 

“Hingga pukul 08.00 kami telah mengangkut 93 meter kubik sampah dari Pintu Air Manggarai,” ungkap Juru bicara DLH DKI Jakarta Yogi Ikhsan. 

Pihaknya, menerjunkan puluhan personel untuk mencegah tumpukan sampah di pintu air tersebut. Saat ini, telah menyiapkan 15 armada truk berbagai ukuran untuk mengangkut sampah. 

Selain itu, tiga alat berat untuk mengangkut sampah yang tersangkut di pintu air. 

Baca Juga : Total Korban Meninggal Dunia Tembus 28 Orang, 12 Hilang

Bikin Embung 

Wali Kota Jakarta Barat (Jakbar) Uus Kuswanto akan membangun embung dan normalisasi saluran air untuk antisipasi banjir. 

“Embung atau penampungan air skala besar akan dibangun di belakang Rumah Susun (Rusun) Lokbin Tegal Alur,” ujar Uus. 

Embung itu, lanjutnya, berfungsi menampung air hujan dan luapan air dari Kali Semongol. 

“Ada sekitar 5.000 meter per segi lahan di belakang Rusun yang bisa dibuat embung,” ungkap Uus saat meninjau lokasi rawan banjir di belakang Rusun Lokbin Tegal Alur, Kalideres, Jakbar. 

Embung juga akan dibangun di daerah rawan genangan di Kampung Bulak RT 10 RW 01, Semanan, Kalideres. Pihaknya juga akan mengoptimalkan pompa air yang dapat mengalirkan air ke Kali Mookevart. 

Sementara solusi untuk lokasi rawan genangan di Jalan Dharma Wanita 1 RW 01, Kelurahan Rawa Buaya, Cengkareng, adalah dengan normalisasi Kali Pecotong. 

“Sedimentasi lumpur dikeruk, sehingga dapat memperlancar aliran air. Nanti kita koordinasikan dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta. Kita sudah mengetahui permasalahannya, sehingga ada solusi untuk mengatasi genangan atau banjir,” paparnya. [FAQ]