Baru Ada Di Fatmawati Dan Lebak Bulus

Seharusnya Park And Ride Ada Di Seluruh Stasiun MRT

MRT mulai digunakan masyarakat. Masih gratis. (Foto : twitter@mrtjakarta)
Klik untuk perbesar
MRT mulai digunakan masyarakat. Masih gratis. (Foto : twitter@mrtjakarta)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sehari setelah Moda Raya Terpadu (MRT) diresmikan Presiden Jokowi di Stasiun Hotel Indonesia (HI), angkutan massal kebanggaan warga Jakarta itu hari ini resmi beroperasi komersial.

Walau beroperasi komersial, tetap saja gratis lagi selama seminggu, sampai 31 Maret 2019. Sebab, tarif belum ditentukan. Tapi 1 April 2019 sudah ada tarifnya. Warga wajib membayar untuk bisa naik MRT.

Sebelumnya warga Jakarta sudah bisa menjajal MRT secara gratis selama 13 hari, 12-24 Maret 2019, yakni saat uji coba publik. Setelah beroperasi komersial, yang menjadi sorotan adalah bagaimana dengan park and ride di stasiun-stasiun MRT.

Saat ini park and ride hanya dibangun di Stasiun Lebak Bulus dan Stasiun Fatmawati. Sedangkan 11 Stasiun MRT lainnya yang terbentang dari wilayah Jakarta Selatan sampai Jakarta Pusat. Yakni Stasiun Cipete Raya, Haji Nawi, Pasar Blok A, Blok M, Sisingamanga­ raja, Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI, tidak ada pembangunan park and ride.

Baca Juga : Korban Corona Guru Dansa, Terpapar Virus Usai Berdansa Dengan WN Jepang

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, area park and ride yang tengah disiapkan berada di lahan eks Kavling Polri persis di sisi selatan Stasiun MRT Lebak Bulus. Area ini sudah dipagari. Alat penunjang mulai dari gate sampai ticketing telah terpasang. Selain di eks Kavling Polri, park and ride juga berada di lahan milik Jakarta Tourisindo dan pull Lorena di Jalan Kartini.

Park and ride di Lebak Bulus diperkirakan mampu menam­ pung 500 unit sepeda motor dan sebanyak 150 unit mobil. Terkait tarif yang dibebankan masih mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 31 Tahun 2017 tentang Tarif Layanan Parkir, Denda Pelanggaran Transaksi dan Biaya Penderekan atau pemindahan kendaraan bermotor.

Tarifnya Rp 2.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Tarif itu flat untuk seharian. Pengamat Transportasi dan Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga menyayangkan hanya dua stasiun yang dibangun park and ride. Semestinya PT MRT membangun fasilitas park and ride di seluruh stasiun.

Park and ride, kata Nirwono, bertujuan agar masyarakat mau memarkir kendaraan pribadi dan beralih ke moda transportasi massal. Diingatkannya, keliru jika park and ride disebut tidak dibu­tuhkan di stasiun-stasiun pusat kota. Apalagi, stasiun-stasiun yang ada, dinilainya belum ter­integrasi dengan baik dengan Jak Lingko dan Transjakarta.

Baca Juga : KRI Semarang-594 Jadi Pusat Komando Observasi di Pulau Sebaru

Di titik pusat kota seperti Blok M dan Dukuh Atas juga perlu park and ride untuk mengurangi ken­daraan pribadi dari dalam kota. “Memang yang paling dibu­ tuhkan di Stasiun ujung dekat perbatasan wilayah. Tapi di tengah kota pun, seperti di Bun­ daran HI itu juga perlu,” kata Nirwono saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Diterangkan Nirwono, park and ride ini dibutuhkan di set­iap stasiun selain untuk parkir kendaraan, juga sebagai tempat antar jemput angkutan on line. “MRT wajib menyediakan drop zone atau lay by atau shelter untuk angkutan online. Jika tidak ada pasti akan menyebabkan kemacetan di jalan-jalan seputar stasiun,” ingatnya.

Jika terkendala pembebasan lahan, Nirwono menyarankan, Pemprov DKI dan PT MRT bekerja sama dengan gedung- gedung sekitar stasiun. “Kalau susah mendapatkan lahan di banyak stasiun, kerja sama dengan pemilik gedung atau pusat belanja di sekitar stasiun,” sarannya.

Fauzal Effendi, driver ojek online yang biasa mangkal di kawasan Senayan dan seputaran Bundaran HI ini memberi saran, sebaiknya di setiap Stasiun MRT diberi tempat untuk naik turun penumpang angkutan aplikasi. “Supaya kita tertib dan ng­gak bikin macet. Pelanggan sih terserah order di mana aja. Tapi kalau ada park and ride, otomatis dari aplikasinya diarahkan jem­ put dan nurunin di lokasi drop zone,’’ paparnya.

Baca Juga : Cegah Kasus Jiwasraya Terulang, Perketat Pengawasan BUMN

Sistemnya, lanjut Fauzal, me­mang begitu, kayak di Bandara. Langsung diarahkan tempat jemput parkiran motor atau mobil. Naik turunnya nggak di pinggir jalan. Jika tak ada drop zone, bisa di­ pastikan dia dan rekan-rekannya akan menaikkan dan menurunkan penumpang di pinggir jalan. “Kalau tidak ya, sesuai pe­sanannya. Di pinggir jalan, di depan gedung begitu. Kalau ada tempat khusus, drop zone, penumpang dan driver kayak dipaksa ke situ,’’ paparnya.

Pemprov DKI Jakarta memasti­ kan fasilitas park and ride pendu­kung layanan MRT Depo Lebak Bulus dan Stasiun Fatmawati siap dioperasikan sebelum MRT beroperasi akhir Maret.

Fasilitas park and ride pendukung MRT diprioritaskan di dua Stasiun ini. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko menyatakan, park and ride lebih dominan berada di kawasan Lebak Bulus- Fatmawati lantaran menjadi pin­tu gerbang masuk ke Jakarta. “Kalau di tengah kota kita hanya siapkan layanan angkutan umum saja,” ujar Sigit. [FAQ]