Datangi Crisis Centre Lion Air

Istri Korban Kenang Foto Terakhir Suami

Laporan keluarga maupun kerabat korban diproses petugas posko di Bandara Halim Perdanakusuma (Sumber; Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Laporan keluarga maupun kerabat korban diproses petugas posko di Bandara Halim Perdanakusuma (Sumber; Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kecelakaan kembali terjadi di dunia penerbangan Tanah Air. Pesawat maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610, jatuh di Karawang, Jawa Barat setelah beberapa menit mengudara dari Jakarta menuju Pangkal Pinang, Bangka Belitung (Babel).Matahari pada Senin (29/10) itu, masih belum muncul saat Lydia Levina, istri Sayerz Petrus Rudolf, salah seorang penumpang yang terdaftar di manifes pesawat naas tersebut, mendapat pesan dari sang suami. Isinya, meminta izin akan berangkat menuju Pangkal Pinang, Babel.

Tak lupa, sang suami mengirimkan gambar bahwa ia telah di duduk di kursi pesawat. Pesan tersebut pun dibalas Lydia. Sayang, pesan balasannya belum sempat dibalas sang suami. Lydia bilang, sang suami mungkin telah menonaktifkan telepon selulernya karena pesawat akan berangkat. Meski pesannya tak dibaca, saat itu Lydia pun tak terlalu memikirkannya. Dia yakin suaminya akan tiba dengan selamat di Kota Pangkal Pinang. Di kota itu, Petrus berencana mengurus beberapa keperluan yang ditugaskan dari tempatnya bekerja. Beberapa jam dari jadwal ketibaan suaminya di Pangkal Pinang, belum ada kabar diterima Lydia. Wanita tersebut malah mendapatkan telepon dari rekan kantor suaminya. Rekan sang suami memberitahu Lydia. Pesawat yang ditumpangi Petrus jatuh. Setelah itu, Lydia segera menyalakan televisi untuk memastikan kabar tersebut. 

Berita Terkait : Lion Air Bantah 1 Penumpang Rute Wuhan-Denpasar Terjangkit Virus Corona

Sembari menangis,Lydia bercerita bahwa ia langsung menangis mengingat pesan sang suami sebelum pergi ke bandara. Dia tak menyangka, permintaan maaf sang suami sebelum berangkat, jadi kalimat terakhir yang dia dengar.“Nona (Lydia) saya minta maaf kalau saya ada salah sama kamu. Kalau saya ada kasar sama kamu. Saya minta maaf,” cerita Lydia. Air mata Lydia tak terbendung mengenang momen-momen terakhirnya dengan sang suami. Suaminya sempat mengabadikan foto di dalam kabin sebelum pesawat tersebut lepas landas.

“Terus pas di dalam pesawat, dia foto, ‘doain aku selamat sampai Pangkalpinang ya’. Jadi ada foto terakhir dia di atas pesawat,” ucap Lydia, dengan mata yang sembab akibat menangis. Usai telepon dari rekan kantor suaminya, Lydia segera berangkat ke posko pusat crisis (crisis centre) di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, setelah menyambangi posko di Bandara Soekarno-Hatta. Di posko itu, Lydia segera melapor ke beberapa petugas yang telah bersiaga sejak siang. Usai melapor, Lydia yang ditemani tiga kerabatnya menunggu perkembangan terbaru dari petugas di posko tersebut. “Sekarang cuma bisa berdoa. Semoga ada keajaiban. Saya juga mohon doanya yang terbaik,” pintanya.

Baca Juga : Mantap, Pasar KPR BTN Capai 90,82 Persen

Menjelang sore hari itu, halaman Gedung Teknik Angkasa Pura II Bandara Halim Perdanakusuma didirikan posko. Sebuah tenda berukuran cukup besar dengan ratusan kursi disediakan untuk menampung kerabat maupun keluarga korban yang melapor. Sementara di meja, terdapat petugas dari Jasa Raharja dan Lion Air. Mereka memegang daftar nama penumpang yang naik pesawat tersebut. Satu per satu, keluarga maupun kerabat korban mendatangi meja. Meminta kejelasan dari petugas.

Di meja tersebut, keluarga maupun kerabat diminta data diri.Ada secarik kertas yang mesti diisi. Isinya berupa keterangan hubungan dengan korban dan harus disertai alamat tempat tinggal. Setelahnya, keluarga maupun kerabat diminta untuk menunggu perkembangan terbaru dari petugas di posko. Di sebelah tenda tersebut, beberapa bus berukuran kecil disiagakan. Bus-bus tersebut dipakai untuk mengantarkan keluarga korban yang ingin menginap di Hotel Ibis, Cawang. Selain sebagai tempat menginap, hotel tersebut juga dipakai sebagai salah satu posko crisis centre. Selain di dua posko tersebut,posko crisis centre juga terdapat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Sejak dibuka, para keluarga korban berdatangan untuk menanyakan nasib sanak saudara mereka. Posko di bandara ini berada di Terminal 1B. Kesedihan tampak dari keluarga dan kerabat penumpang pesawat yang datang ke posko tersebut.

Baca Juga : Schneider Electric Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Betniati, salah seorang keluargayang mendatangi posko menyebut keluarganya turut menjadi korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh itu. Betniati mengetahui saudara kandungnya bernama Wahyu dan keponakannya yang masih berusia empat tahun turut menjadi korban, berawal dari penasarannya usai melihat berita. “Tadi setelah didata, nama Wahyu ada di daftar. Nama anaknya juga ada,” kata Betniati, saat ditemui. Betniati menjelaskan, sebelum memastikan keluarganya menjadi korban jatuhnya pesawat dengan rute Jakarta-Pangkalpinang tersebut, dirinya melihat sebuah pemberitaan terlebih dahulu terkait kecelakaan tersebut. Dari situ, dirinya memutuskan langsung mengunjungi Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang Banten, untuk mendapatkan informasi atas keluarganya.

“Saya lihat berita, terus saya feeling harus ke sini karena keponakan saya memang naik pesawat itu,” ujarnya. Dia menjelaskan, sebagian keluarga korban pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, termasuk dirinya diarahkan ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Petunjuk tersebut didapat setelah para keluarga korban mendatangi posko terpadu yang berada di Bandara Soekarno-Hatta. “Pihak Lion Air meminta untuk pindah ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Lion mengarahkan ke Bandara Halim,” ujar Betniati. Betniati menyebut, pihak bandara menyediakan fasilitas bus untuk keluarga korban yang ingin ke Bandara Halim Perdanakusuma.
Namun, dia memilih pakai kendaraan pribadinya untuk pergi ke sana. [PYB]