Kasus Dana Hibah Kemenpora Ke KONI

KPK Turut Periksa Asisten Pribadi Menpora

Asisten Pribadi Menpora Miftahul Ulum (kiri) turut diperiksa KPK dalam kasus hibah dana Kemenpora ke KONI. (Foto: Twitter @ulumdonjuan)
Klik untuk perbesar
Asisten Pribadi Menpora Miftahul Ulum (kiri) turut diperiksa KPK dalam kasus hibah dana Kemenpora ke KONI. (Foto: Twitter @ulumdonjuan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menciduk 12 orang dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan pada Selasa (18/12) malam. Dari 12 orang itu, KPK menetapkan 5 orang sebagai skandal akal-akalan penyaluran dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun Anggaran 2018. Dua tersangka yang diduga bertindak sebagai pemberi gratifikasi adalah Ending Fuad Hamidy selaku Sekretaris Jenderal KONI dan Jhonny E selaku Bendahara Umum KONI. Sedangkan tiga tersangka yang diduga menerima gratifikasi adalah Mulyana selaku Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga, Adhi Purnomo selaku PPK sekaligus tim verifikasi Kemenpora untuk Asian Games 2018 dan kawan-kawan, serta Eko Triyanto selaku Staf Kemenpora dan kawan-kawan.

Berita Terkait : Miftahul Ulum Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp 8,6 M Bersama Imam Nahrawi

Hingga tadi malam, KPK masih memeriksa satu orang lagi. Yakni Miftahul Ulum, asisten pribadi Menpora Imam Nahrawi. “Saya baru dapat update, selain 12 orang yang dibawa, datang satu orang lagi dengan inisial MU. Saat ini, yang bersangkutan masih dalam proses pemeriksaan. Nanti, kita lihat bagaimana keterkaitannya dengan dugaan suap ini,” ungkap Jubir KPK Febri Diansyah.

Berita Terkait : Staf Pribadi Imam Nahrawi Didakwa Terima Suap Rp 11,5 M

Dalam kasus ini, KPK mengendus dugaan keterlibatan bos Miftahul, yakni Menpora Imam Nahrawi. “Saya belum bisa simpulkan itu, tapi indikasinya memang peranan yang bersangkutan (Menpora) signifikan ya,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. Saut memastikan, komisi antirasuah tidak akan tebang pilih dalam penanganan perkara ini. Bila buktinya cukup, KPK akan langsung menjerat Menpora, ataupun petinggi KONI yang lainnya.‎

Baca Juga : Soal Upah Buruh, Ini Penjelasan Aice

"Kalau kita katakan bahwa kok kesannya cuma yang bawah saja, saya nyebutnya bubur panas sampai buburnya basi. Panas di pinggir-pinggirnya, karena memang kita kekuatan buktinya yang paling penting. ‎Tetapi yakinlah, sekarang kalau buktinya cukup karena istilah 'dan kawan-kawan' (pada penetapan tersangka) akan ke mana-mana,” tegas Saut. [OKT]