RMco.id  Rakyat Merdeka - Jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa anggota komisi VI DPR RI Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso menerima suap sebesar Rp300 juta. Uang tersebut, berasal dari Direktur Utama (Dirut) PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat. 

"Terdakwa menerima juga uang sejumlah Rp 300 juta dari Lamidi‎ Jimat," kata Jaksa KPK, Kiki Ahmad Yani saat membacakan surat dakwaan Bowo Sidik Pangarso di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (14/8).

Baca Juga : Perpres 73 Tingkatkan Efisiensi Penyampaian Informasi Intelijen ke Presiden

Uang sebesar Rp 300 juta tersebut, diduga merupakan suap atau kompensasi untuk Bowo Sidik Pangarso karena telah membantu PT Ardila Insan Sejahtera (AIS) menagih utang PT Jakarta Lloyd sebesar Rp 2 miliar.

Tak hanya itu, uang tersebut juga diduga untuk memuluskan PT A‎IS mendapatkan pekerjaan penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Marine Fuel Olil (MFO) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd. Bowo menerima suap sebesar Rp300 juta secara bertahap.

Baca Juga : Diperpanjang 10 Kali Pun, PSBB Transisi Nggak Ngefek

Sebelumnya, Bowo juga didakwa telah menerima suap sebesar 163.733 dolar Amerika Serikat dan Rp 311 juta. Uang tersebut berasal dari Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Taufik Agustono dan anak buahnya, Asty Winasty.

‎Uang suap tersebut diterima Bowo Pangarso karena disinyalir ‎telah membantu PT Humpuss Transportasi Kimia mendapatkan kerja sama pekerjaan sewa kapal untuk pengangkutan dari PT PILOG. 

Baca Juga : Homologasi Disahkan, KSP Indosurya Siap Jalankan Kesepakatan

Atas perbuatannya tersebut, Bowo didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Nomor 20 Tahun 2001 tentang‎ pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 ‎Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. [OKT]