Gak Akan Naik Sampai 2020, Listrik Bikin Asyik

Menteri ESDM Ignasius Jonan. (Foto: Istimewa).
Klik untuk perbesar
Menteri ESDM Ignasius Jonan. (Foto: Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan tarif listrik tahun depan tak akan naik mes ki subsidinya di Rancangan Ang garan Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020, dipangkas.

Pasalnya, harga batu bara dan gas lagi murah. Menteri ESDM, Ignasius Jonan mengatakan, pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) masih membahas pengurangan subsidi listrik.

Karena itu, dia belum bisa memastikan pelanggan listrik mana yang subsi dinya dicabut. Meskipun akan ada pengurangan anggaran subsidi, Jonan menegaskan, belum tentu tarif listrik naik.

Soalnya, harga primer energi, seperti batu bara dan gas melemah. Kedua jenis komoditas itu merupakan bahan bakar mayoritas pembangkit listrik yang memenuhi kebutuhan daya di dalam negeri.

"Kami lihat harga gas turun banyak dalam enam bulan terakhir, harga batu bara juga turun,” kata Jonan, di Jakarta, kemarin.

Eks Dirut KAI itu menambahkan, penurunan paling kentara ada di harga batu bara. Untuk kalori 6.322 GAR harganya sekitar 65 dolar AS per ton.

Baca Juga : Jepang Bakal Setop Visa Untuk Warga China dan Korsel, Plus Wajib Karantina

“Jadi, mestinya harga listrik tidak perlu ada penyesuaian naik,” ujarnya.

Untuk harga batu bara, Jonan mengatakan, berlaku hingga akhir 2019. Sesuai dengan keputusan Menteri ESDM tentang harga khusus batu bara yang mulai berlaku sejak 12 Maret 2018 - 31 Desember 2019. Keputsuan tersebut mengatur harga khusus batu bara bagi pembangkit listrik ditetapkan 70 dolar AS per ton jika harga batu bara acuan (HBA) berada di atas 70 dolar AS per ton.

Namun, bila harga di bawah 70 dolar AS per ton. maka transaksi batu bara bagi pembangkit listrik merujuk pada HBA.

Merujuk pada ketentuan itu, maka saat ini PLN membeli batu bara sebesar Rp 62,21 triliun. Besaran subsidi listrik dialokasikan antara lain kepada pelanggan dengan daya 450 volt VA, daya 900 VA dan 900 VA rumah tangga mampu.

Pengamat energi dari UGM, Fahmy Radhi setuju, tarif listrik pada 2020 tidak perlu naik, meski subsidi dipangkas. Karena, variabel pembentuk harga listrik tak mengalami kenaikan.

Ketiga variabel itu adalah harga minyak Indonesia (ICP), kurs dolar dan inflasi. mengacu pada HBA lantaran harga komoditas di bawah 70 dolar AS ton.

Baca Juga : PLN Siap Sambut Investor Di Provinsi Bengkulu

Faktor lain yang mendukung tarif listrik tak perlu naik adalah nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp14.000 per dolar AS.

“Kalau kurs di Rp 14 ribuan, mestinya tidak naik,” katanya. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani meminta pemerintah tetap memberlakukan harga khusus tersebut di 2020.

Dengan harga khusus itu, maka menjaga tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat tatkala harga komoditas melonjak.

“Bahan bakar itu porsinya 60 -70 persen dari biaya pokok penyediaan tenaga listrik,” ujarnya.

Dalam RAPBN 2020, Kementerian ESDM mengusulkan subsidi listrik Kabar ini mendapat sambutan hangat dari warganet. Sejumlah pegiat media sosial bersemangat membagikan berita ini kepada followernya.

Seperti akun @Dsukahar dan @Iskandarhelmi47. “Jonan jamin listik tak bakalan naik,” cuit @Dsukahar, sambil menautkan link berita terkait. “Terima kasihPak Jonan.

Baca Juga : Pemprov DKI Jual Masker Murah, Satunya Cuma Rp 2.500

Listrik jadi asik,” ujar @ Iskandarhelmi47. “Jokowi memang hebat,” ujar @Yuchi di laman berita detikfinance.

Pemilik akun @nayokomadani ikut bersyukur dengan kabar itu. Dia berharap pemerintah konsisten, memegang teguh omongannya. “Terimakasih pemerintahku yang baik,” ujarnya. “Valid gak nih berita nya?” tanya @dadipujajera.

Sebagian warganet meminta pemerintah mulai fokus memanfaatkan energi lain agar tidak tergantung pada pasokan batubara dan gas.

“Mulai memanfaatkan sumberdaya alam yang lain yaitu energy nuklir biar listrik turun harganya. Untuk Jepara dan Rembang, Jawa Tengah,” ujar @silvanusAdiwiy.[BCG]