RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Wakil Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lina Nurhasanah dalam penyidikan kasus suap terkait penyaluran pembiayaan dengan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora pada KONI Tahun Anggaran 2018.

Lina diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi (IMR). 

Berita Terkait : Kasus Suap Izin Ekspor Benur, KPK Garap 7 Saksi

"Dipanggil sebagai saksi untuk tersangka IMR terkait tindak pidana korupsi suap penyaluran pembiayaan dengan skema bantuan pemerintah melalui Kemenpora pada KONI Tahun Anggaran 2018," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah lewat pesan singkat, Selasa (19/11). 

Lina sebelumnya pernah bersaksi di Pengadilan Tipikor untuk terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy pada April lalu. 

Baca Juga : PUPR Gandeng BPKP Audit Pekerjaan Venue PON XX Papua

Dalam kesaksiannya pada saat itu, dia mengaku pernah menyaksikan adanya aliran uang Rp2 miliar dari Ending Fuad untuk Miftahul Ulum selaku asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi.

Namun, dalam kesempatan yang sama di persidangan ketika itu Ulum membantah terkait adanya uang tersebut.Dalam perkara ini, KPK menetapkan Imam dan asisten pribadinya, Miftahul Ulum, menjadi tersangka kasus suap dan gratifikasi di Kemenpora. KPK menduga Imam telah menerima duit dengan total Rp 26,5 miliar selama kurun waktu 2014-2018. Sebagian uang itu, ia terima melalui Ulum.

Baca Juga : Ikhlaskan, Insya Allah Syahid

KPK menengarai sebagian uang yang diterima Imam berasal dari pencairan dana hibah KONI tahun anggaran 2018. 

Selain itu, sebagian uang lainnya juga diduga diterima Imam selaku Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima dan terkait jabatan Imam lainnya di Kemenpora. Imam Nahrawi sudah membantah tudingan menerima uang Rp1,5 miliar dalam kasus korupsi itu. [OKT]