Saran Untuk Stafsus Milenial

Minimalkan Bicara, Maksimalkan Bekerja

Klik untuk perbesar
Para Stafsus Milenial Presiden Jokowi berfoto bersama seusai kerja. Foto ini dipamerin Stafsus Billy Mambasar di akun @kitongbisa, kemarin.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gracia Billy Yosaphat Mambrasar, salah satu stafsus milenial Presiden Jokowi, bikin kehebohan. Lewat akun Twitternya, @kitongbisa, dia sempat membuat cuitannya yang mengungkit perseteruan antara 01 dan 02 di Pilpres lalu.

Dia pun dirundung alias di-bully banyak warganet. Berkaca dari kasus ini, hendaknya para stafsus meminimalkan bicara. Lebih baik maksimalkan kerja.

Bunyi cuitan Billy tersebut berbunyi, “Stlh membahas ttg Pancasila (yg bikin kubu sebelah megap2), lalu kerja mendesign kartu Prakerja di Jkt, lalu sy ke Pulau Damai penuh keberagaman: BALI! Utk mengisi materi co-working space, mendorong bertambahnya jumlah entrepreneur muda, utk pengurangan pengangguran dan angka kemiskinan.”

Billy mencuitkannya pada Sabtu (30/11). Setelah ramai diprotes, pendiri Pusat Studi Kitong Bisa itu kemudian menghapus cuitan itu dan membuat klarifikasi. Ada sekitar 7 kultwit yang dibuatnya, kemarin.

Berita Terkait : Jokowi Bapak Sawit dan Biodiesel Indonesia

Cuitan pertama dibuka dengan salam. Pemuda asal Papua ini kemudian menyampaikan permohonan maaf, sembari ikut menambatkan tagar #StafsusRasaBuzzeRp.

“Assalamu’alaikum dan salam sejahtera utk kita semua. Sy pertama memohon maaf atas kesalahpahaman yg muncul krn salah 1 cuitan sy yg menggunakan kata yg menimbulkan multitafsir, yaitu kata: ‘Kubu’,” tulis Billy di bagian pertama.

Di bagian kedua, dia mengaku tidak bermaksud tendensius ke kelompok masyarakat mana pun. “Saya dgn ini memohon utk dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya karena kesalah pahaman tersebut,” harapnya.

Di bagian ketiga, ia menceritakan latar belakang orangtuanya yang merupakan perpaduan suku dan agama. Ayahnya Papua dan beragama Kristen. Ibunya berasal dari Jawa Timur dan beragama Islam.

Berita Terkait : Keputusan Jokowi Pertahankan BG sebagai Kepala BIN Bisa Dimengerti dan Tepat

Di bagian kelima dan keenam, dia menceritakan hubungan dengan saudara-saudaranya yang Muslim dan Kristiani. Ia mengaku sering mendapat hadiah di hari-hari besar kedua agama itu.

Soal jabatannya yang banyak disorot akibat cuitan itu, ia meminta doa dan dukungan masyarakat agar bisa amanah. “Mohon doa restunya & maafkan bila ada kekhilafan sy,” pungkasnya di bagian ketujuh.

Meskipun sudah minta maaf dan memberikan klarifikasi panjang lebar, ekspresi kemarahan warganet belum terbendung. Kemarin, tagar #StafsusRasaBuzzeRp sempat jadi trending topic. Hingga tadi malam, tagar tersebut masih terus menggelinding.

Stafsus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonius Benny Susetyo, mencoba menasehati Billy. Kata Romo Benny Billy harus lebih bijak, negarawan, bisa menjadi teladan, dan punya pengetahuan tata negara. “Pejabat negara harus berhati-hati dalam ber-statement supaya pernyataannya tidak multitafsir,” ucapnya, kemarin.

Berita Terkait : CT Semoga Puas

Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio memaklumi kekhilafan itu. Hanya saja, ia menyarankan agar stafsus tidak banyak bicara ke publik. Karena tugas itu sudah ditangani juru bicara Presiden. Tugas stafsus adalah bekerja maksimal melayani Presiden Jokowi.

“Kelepasan itu. Sementara kita maklumi saja. Memang kedewasanan kebijaksanaan tak bisa dikarbit,” kata Hensat, sapaan akrabnya kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin meminta para stafsus milenial untuk lebih banyak belajar. Sebab, meski punya pengetahuan mumpuni, para anak muda itu masih miskin pengamalaman di politik dan pemerintahan.

“Mereka belum aqil balig di politik. Jadi komunikasi politiknya offside. Komunikasi politiknya bermasalah. Perlu jam terbang untuk menjadi stafsus,” ucap Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu. [SAR]