NTT Masuk Kategori High Risk ASF, Kementan Perketat Kawasan Perbatasan Timor Leste

I Ketut Diarmita (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
I Ketut Diarmita (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) menginstruksikan kepada para petugas kesehatan hewan, karantina, dinas pertanian dan para pemangku kebijakan di Nus Tenggara Timur (NTT) untuk melakukan pencegahan dini terhadap kemungkinan masuknya virus African Swine Fever (ASF) yang menyerang hewan babi. Upaya pencegahan dan deteksi dini harus disiapkan untuk mencegah jangan sampai virus ASF yang telah menyerang Timor Leste masuk ke Indonesia melalui perbatasan.      

"NTT ini termasuk high risk sehingga perbatasan ini sangat rawan. Timur Leste ini kan berbatasan darat dengan NTT sehingga bisa masuk dari pintu mana saja," kata Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita, saat membuka Bimbingan Teknis Penanggulangan Hewan Eksotik ASF, di Kupang, NTT, Rabu (14/12).      

I Ketut menegaskan, Timor Leste sendiri sudah dinyatakan positif terserang virus penyakit yang juga dikenal Demam Babi Afrika ini. Karena itu, mitigasi menjadi sangat penting sehingga jalur tikus penyeberangan hewan babi masuk ke NTT bisa dideteksi.      

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

"‎Nah bagaimana awasi lalu lintas (jalur tikus) itu karena Timur Leste sudah dinyakan positif oleg FAO (Badan Pangan Dunia PBB). Tapi kalau kita tidak bisa endus lubang-lubang tikus masuknya, bagaimana kita bisa ambil jalan. Apalagi virus ASF termasuk penyakit yang mortalitas dan morbiditsnya sangat tinggi sampai 100 persen. Sementara di NTT ini termasuk barang mahal disini bahkan menjadi adat budaya disini. Ini yang perlu kita jadikan titik-titik kritis," jelasnya. ‎   

Karena itu, dia meminta para petugas di lapangan tidak meremehkan apalagi sampai main-main mengantisipasi ASF ini. Apalagi penyebaran penyakit ASF ini sangat cepat sehingga potensi ancaman masuknya penyakit ini semakin besar. Kewaspadaan dini harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis.    

"Tolong diidentifikasi sentra-sentra babi ini dimana saja. Kemudian diperhatikan juga sebarannya karena penyakit ini sampai saat ini belum ada obat juga vaksinnya dan cepat sekali penularannya. Kalau kawan-kawan dinas sudah lihat ada gejalanya, segera lakukan tindakan jangan sampai petani kita menjual secepatnya itu karena penyakit ini bisa pindah ke tempat. Untuk itu langkah isolasi dan slaughter menjadi penting," katanya.      

Berita Terkait : Curah Hujan Tinggi, Kementan Minta Petani Terapkan Jurus Ini

Penyakit ini, kata dia, tidak menular ke manusia. Hanya menjadi masalah karena penyakit ini bisa membunuh populasi babi di satu kawasan. Untuk itu, sangat penting juga kepada para petugas untuk mengenali gejala ASF pada babi ini. Adapun gejala ASF pada babi biasanya diawali dengan nafsu makan menurun, demam hingga paling kritis babi mengalami pendarahan hebat.      

Untuk itu tindakan teknis dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan harus difokuskan pada surveilans, biosekuriti dan dilanjutkan dengan tindakan depopulasi, disposal dan dekontaminasi. Makanya dengan bimbingan teknis atau bimtek ini‎,kapasitas dan pengetahuan petugas tentang penyakit ASF bisa lebih baik. “Kompetensi-kompetensi yang dimiliki petugas tersebut sangat penting untuk mengantisipasi ancaman masuk, terjadinya, dan potensi menyebarnya penyakit," katanya.    

Bagi Ketut, NTT ini menjadi kawasan yang sangat penting untuk upaya deteksi dan pencegahan. Sebab jika Virus ASF ini masuk ke NTT, maka Bali tinggal ‎menunggu waktu. "Kalau Bali kena, maka pasti Jawa akan kena juga," warning I Ketut kepada para peserta bimtek. [KAL]