360 Guru PAUD di Tangsel Dilatih Cegah Stunting

Pelatihan gizi anak terhadap 360 guru PAUD di Tangesel, Kamis (5/12).
Klik untuk perbesar
Pelatihan gizi anak terhadap 360 guru PAUD di Tangesel, Kamis (5/12).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebanyak 360 kepala sekolah dan guru PAUD dari 180 PAUD di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengikuti pelatihan gizi anak, Kamis (5/12). Pelatihan dilakukan agar anak-anak PAUD dan TK bebas dari stunting alias kekerdilan.

Hingga saat ini, kasus stunting masih sering dijumpai. Termasuk di Tangsel. Dengan mengikuti pelatihan gizi anak bertajuk Isi Piringku ini, diharapkan para guru dapat memenuhi kebutuhan gizi anak.

“Pendidikan dan pembiasaan yang benar dalam pola makan dan menjaga kesehatan pada anak-anak usia dini bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Namun keluarga dan masyarakat,” kata Ketua LPM Equator, Rimun Wibowo, di pelatihan itu.

Baca Juga : Liga Polo Air 2020 Resmi Dimulai, JAQ dan Bina Taruna Petik Kemenangan

Menindaklanjuti program Edukasi Gizi “Isi Piringku” 4-6 Tahun yang diinisiasi Danone Indonesia sejak 2017, LPM Equator sebagai mitra program turut berperan aktif dalam upaya ini. Program Kampanye Edukasi Gizi “Isi Piringku” merupakan kegiatan training Isi Piringku untuk para guru PAUD, dilanjutkan dengan pembelajaran Isi Piringku oleh para guru PAUD kepada anak-anak PAUD serta kepada orang tua siswa dalam forum parenting, dengan pendampingan dari Tim LPM Equator.
 
Rimun menjelaskan, tidak hanya stunting, anak-anak juga rawan terkena wasting atau kurus dan overweight atau kelebihan gizi. "Jadi, sebenarnya ini program dari Kemenkes dalam merespons bahwa di Indoneaia ada permasalahan gizi utama, yaitu stunting, wasting, dan overweight atau obesitas," jelasnya.

Menurut Rimun, persoalan gizi utama pada anak sebenarnya bisa diatasi dengan gizi yang seimbang. Guru dan kepala sekolah Paud, memiliki peran penting selain orang tua. "Ketiga hal itu terjadi karena pola makan yang salah atau tidak seimbang unsur gizinya. Kemudian, karena kesehatan lingkungan dan pola hidup yang tidak sehat. Solusi agar gizi seimbang ada empat pilar," bebernya.

Pertama, harus konsumsi makanan yang beragam, yakni ada unsur karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, dan buah-buahan. Instrumen untuk gizi anak ini paling mudah di isi piring makan anak. Pola inilah kuncinya. "Tetapi anak-anak itu sulit makan. Makanya, langkah pertama, anak harus dibiasakan makan sehari 3 kali dan minum 6 gelas sehari. Terutama makan sayur dan buah, itu ada food modelnya, ada triknya," paparnya.

Baca Juga : Angkasa Pura I Konsisten Cegah Penyebaran Virus Corona

Jika dengan orang tuanya sendiri anak-anak sulit diatur pola makan sehatnya, tidak demikian jika dilakukan oleh guru. Anak-anak memiliki psikologi lebih menurut ke gurunya. "Jadi di sekolah itu ada program parenting. Di situ nanti program Isi Piringku ini yang akan disampaikan ke guu dan orangtua. Ketika anak melihat temannya makan sayur, maka yang lainnya akan terpacu makan," jelasnya.

Wailayati Ningsih, perwakilan dari Danone, mengatakan, konsep empat sehat lima sempurna sudah lama dikenal masyarakat. Tapi, konsep yang menekankan konsumsi susu sebagai penyempurna gizi itu sudah tidak relevan. Sebab, untuk mendapatkan kecukupan gizi, masyarakat tidak harus minum susu. Susu 'hanya' bagian dari sumber protein.

Ningsih menjelaskan, konsep Isi Piringku sebenarnya mendorong masyarakat untuk makan dengan gizi seimbang, tetapi konsep gizi seimbang sulit dimengerti sepenuhnya oleh masyarakat. "Karena itu disederhanakan menjadi Isi Piringku. Dengan digambar secara visual agar mudah dikenali anak-anak maupun orang dewasa," katanya.

Baca Juga : Menteri Erick: Jangan Panik, Stok Alat Aman, BUMN Farmasi Siap Hadapi Wabah Corona

Porsi dan jenis makanan yang ada dalam Isi Piringku juga disesuaikan dengan usia dan aktivitasnya. Sumber protein untuk bayi dan anak balita yang sedang dalam masa pertumbuhan harus lebih banyak. Adapun porsi karbohidrat untuk orang dewasa harus dikurangi.

Konsep Isi Piringku, lanjut Ningsi, akan disosialisasikan ke posyandu-posyandu, sekolah-sekolah, juga ke kementerian lain yang terkait. "Remaja sangat penting paham Isi Piringku karena anemia cukup tinggi di kalangan remaja putri karena kurang asupan sumber zat besi. Mereka calon ibu jangan sampai melahirkan bayi dengan berat rendah.  kampanyekan ini lewat kantin-kantin sekolah dan portal-portal media sosial,” tandasnya. [USU]