RMco.id  Rakyat Merdeka - Oesman Sapta yang biasa disapa OSO sebenarnya mendapat tawaran dari Presiden Jokowi untuk menduduki kursi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Namun, OSO lebih memilih fokus membesarkan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

“Hati nurani saya mengatakan, saya masih punya tanggung jawab besar terhadap partai. Dari jalur ini (Hanura), kami akan berada di garis terdepan dalam mengawal dan menjalankan seluruh agenda Presiden Jokowi.

Hal ini sekaligus membuktikan dukungan yang kami berikan pada Presiden Jokowi tanpa pamrih,” ujar OSO usai menemui Mensesneg, Pratikno, di Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

OSO juga mengaku sangat berterima kasih atas apresisiasi dan penghargaan yang diberikan Presiden kepadanya dan Partai Hanura. Menurut dia, Jokowi telah mendapatkan pengganti dirinya yang akan mengisi keanggotaan Wantimpres.

Berita Terkait : Golkar Apresiasi Kerja Pemerintah Tangani Covid-19

“Soal siapa yang dipilih, itu hak prerogratif Presiden. Kami serahkan semua pada Pak Jokowi. Hanura tidak pernah meminta-minta, apalagi mengintervensi hak yang melekat pada diri Presiden,” tegas mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tersebut.

Saat ditanya siapa yang disodorkan, OSO enggan berkomentar panjang. Ia mengaku sudah menyerahkan nama lain untuk diangkat menjadi anggota Wan timpres. “Sudah, Pak Pratikno dan Presiden lebih tahu. Kami membatasi diri. Kenapa? Karena jangan nanti dipikir kami meminta-minta,” tandasnya.

Presiden Jokowi juga mengaku sudah menawari OSO untuk mengisi posisi Wantimpres. Jokowi pun memaklumi OSO menolak tawaran tersebut. Sesuai aturan, pimpinan parpol tak bisa rangkap jabatan menjadi Wantimpres.

“Pak Oesman Sapta memang kita pilih. Tapi, dalam Wantimpres tidak boleh merangkap berkaitan dengan politik,” ujar Jokowi, usai pelantikan Wantimpres, di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Baca Juga : Sidak Bandara Soetta, BKS Cek Protokol Kesehatan

Jokowi menambahkan, OSO juga telah menemui Mensesneg untuk menyampaikan alasannya itu. “Tadi pagi (kemarin, red), Pak Oesman Sapta menyampaikan kepada Menteri Sekretaris Negera bahwa beliau lebih mencintai partai. Sehingga tidak mau dan mundur dari Wantimpres,” jelas Jokowi.

Kemarin, Presiden melantik sembilan anggota Wantimpres periode 2019-2024, di Istana Negara. Mereka adalah Agung Laksono, Sidarto Danu Subroto, Wiranto, Dato Sri Tahir, Putri Kus Wisnu Wardani, Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Mardiono, Arifin Panigoro, Sukarwo alias Pakde Karwo.

Acara pelantikan berlangsung sederhana. Pelantikan dihadiri sejumlah menteri serta pimpinan lembaga tinggi negara Kabinet Indonesia Maju.

Masuknya nama Wiranto sebagai Wantimpres direspons Ketua DPP Hanura, Inas Nasrullah Zubir. Menurutnya, mantan Menko Polhukam itu bukan mewakili Partai Hanura. Meskipun Wiranto diketahui menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Hanura. “Wiranto bukan representasi Hanura,” kata Inas, kepada wartawan, kemarin.

Baca Juga : Minta Makzulkan Jokowi Dan Bubarkan PDIP, Tuntutan Pendemo RUU HIP Salah Sasaran

Inas juga meminta Wiranto mundur dari jabatan Ketua Dewan Pembina di Hanura. Sebab, berdasarkan aturan, Wantimpres dilarang rangkap jabatan di partai. Paling telat, lanjut Inas, surat pengunduran diri Wiranto harus diajukan maksimal 3 bulan setelah dilantik.

“Mundur dari Ketua Dewan Pembina dengan persetujuan tertulis dari Ketua Umum,” pungkasnya. [ONI/SAR]