Kowani: Peringatan Hari Ibu Pengingat Sejarah, Bukan Latah Ikuti Barat

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo (tengah), di acara Pisah Sambut DP Kowani Masa Bakti 2014-2019, di Graha CMIB Niaga, Sudirman, Jumat (20/12). (Foto: Dok. Kowani)
Klik untuk perbesar
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo (tengah), di acara Pisah Sambut DP Kowani Masa Bakti 2014-2019, di Graha CMIB Niaga, Sudirman, Jumat (20/12). (Foto: Dok. Kowani)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo menegaskan, peringatan Hari Ibu yang dilakukan setiap 22 Desember bukan sekadar latah mengikuti kebiasaan masyarakat Barat dengan peringatan Mother Day. Namun, peringatan Hari Ibu merupakan momen sejarah yang sangat penting. Tanggal 22 Desember merupakan tanggal diselenggarakan kongres pertama perempuan Indonesia.        

Hari Ibu diusulkan Kowani langsung kepada Presiden Soekarno. Pada tahun 1938, hasil Kongres ke-3 Kowani menetapkan Hari Ibu. Hasil ini kemudian ditetapkan Persiden Soekarno melalui Keppres pada 1959.      

Penegasan Giwo disampaikan terkait masih adanya penilaian dari tokoh tertentu yang menilai peringatan Hari Ibu tidak perlu dilakukan masyarakat. Peringatan Hari Ibu dianggap hanya mengikuti kebiasaan masyarakat barat.      

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

"Saya rasa perlu diperjelas bahwa peringatan Hari Ibu itu sangat penting, karena upacara peringatan Hari Ibu sebagai kilas balik peristiwa sejarah 91 tahun lalu dan untuk mengenang jasa founding mother. Selain itu, justru  peringatan Hari Ibu karena adanya usulan dari Kowani," ujar Giwo, di acara Pisah Sambut DP Kowani Masa Bakti 2014-2019, di Graha CMIB Niaga, Sudirman, Jumat (20/12).        

Giwo menegaskan, masyarakat dan semua kalangan, termasuk tokoh agama, harus memahami hal ini. Sebab, selama ini masih banyak yang belum paham tentang peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.         

Tahun ini, peringatan Hari Ibu yang jatuh pada hari Minggu, juga dilakukan di kantor Kowani. Peringatan akan diawali upacara pengibaran bendera merah putih di halaman kantor Kowani, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Di peringatan Hari Ibu tahun ini, setiap anggota Kowani  mengenakan kebaya.       

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

"Sengaja kita akan menggunakan kebaya untuk mengingatkan kembali bahwa kebaya juga merupakan aset bangsa yang perlu dilestarikan. Kebaya juga mengingatkan perjalanan tokoh pejuang perempuan," katanya.         

Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa umur Kowani jauh lebih tua dari umur kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak 1928, Kowani tumbuh dan bergerak serta berkiprah hampir bersamaan dengan Gerakan Sumpah Pemuda.          

“Peringatan 22 Desember itu kan peringatan hari sejarah. Jadi memang kita harus memperingatinya," serunya.        

Baca Juga : Indonesia Genjot Kunjungan Wisman dari Prancis

Peringatan Hari Ibu juga mengingatkan kembali tentang sosok seorang Ibu sebagai Ibu bangsa, yang memiliki tanggung jawab dan peran dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Giwo juga mengingatkan, generasi bangsa haruslah memberikan penghormatan kepada seorang ibu, juga bapak dan guru. Tak hanya orang tua sendiri, namun penghormatan kepada seseorang yang lebih tua itu merupakan hal yang harus dilakukan dan dijaga tradisinya, seperti semua agama mengajarkan penghormatan kepada orang tua. [USU]