RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah 989 hari, polisi akhirnya berhasil mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Pelakunya ada dua. Dua-duanya, polisi aktif. Inisialnya RM dan RB. Ada yang bertanya apakah dua polisi ini "dalangnya" atau sekadar "wayangnya".

Pengungkapan pelaku teror terhadap Novel itu diumumkan Kabareskrim Polri, Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, kemarin sore. Menurut Listyo, pelaku ditangkap Kamis (26/12) malam oleh tim teknis yang bekerja sama dengan Brimob, di Cimanggis, Depok. "Pelaku ada dua orang. Inisial RM dan RB. Polri aktif," ungkap Listyo. 

Karo Penmas Polri, Brigjen Argo Yuwono menambahkan, keduanya langsung ditetapkan sebagai tersangka. Saat ini, keduanya masih menjalani pemeriksaan intensif di Polda Metro Jaya. Keduanya diberikan pendampingan hukum dari Mabes Polri. "Tadi pagi, sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tadi siang, dilakukan pemeriksaan bagi tersangka," ungkap Argo. 

Apa motif pelaku menyiram air keras ke mata Novel, Argo mengaku belum tahu. Dia meminta publik bersabar. "Pemeriksaan belum, sudah (nanya) motif. Nanti kalau sudah selesai baru kita tahu semuanya. Sabar dulu," elaknya. 

Baca Juga : Melalui FGD, Fadel Gali Pandangan Akademisi dan Birokrat Soal Haluan Negara

Terpisah, Indonesia Police Watch (IPW) punya versi lain soal pelaku penyiraman air keras terhadap Novel. Pertama, pelakunya tunggal. Yakni, anggota Brimob Kelapa Dua, Depok, berpangkat brigadir. Pelaku yang menyiapkan air aki mobil dicampur air untuk menyiram Novel, meminta kawannya mengantarnya ke kawasan perumahan Novel di Kelapa Gading dengan sepeda motor. 

Teman si pelaku ini juga merupakan anggota Brimob Kelapa Dua, Depok. "Temannya tersebut tidak tahu menahu pelaku akan menyerang Novel," tutur Neta.

Menurut Neta, penyerangan dilakukan si brigadir lantaran kesal dan dendam dengan ulah Novel. Namun, tidak dijelaskan apa yang menyebabkannya dendam terhadap penyidik KPK itu.

Yang juga berbeda dari versi polisi, si pelaku menyerahkan diri. Bukan ditangkap. Nah, saat menyerahkan diri, teman si pelaku juga ikut ke kantor polisi bersama pelaku.  

Baca Juga : PBB: Myanmar Hapus Desa-desa Rohingya dari Peta

IPW berharap, Polri transparan membuka kasus ini ke publik. Terutama, soal penyerahan diri pelaku penyerangan dan temannya itu. "Dengan transparannya pengungkapan kasus ini, kasus Novel bisa segera dituntaskan, sehingga Polri tidak terus menerus tersandera kasus Novel," tandasnya. 

Penangkapan pelaku teror terhadap Novel itu diapresiasi Menko Polhukam, Mahfud MD. "Sudah tahu saya, ada dua orang. Bagus," puji dia. 

Pimpinan KPK juga menyambut baik. Ketua KPK, Komjen Firli Bahuri mengapresiasi setinggi-tingginya kinerja kepolisian di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Idham Azis dalam mengungkap kasus tersebut. "Saya ucapkan sukses dan selamat kepada seluruh jajaran kepolisian. Ini adalah jawaban yang sudah lama ditunggu oleh rakyat Indonesia," ujar Firli, kemarin. 

Senada, Wakil Ketua (Waka) KPK, Nurul Ghufron, juga memanjatkan syukur. "Kami sangat bersyukur. Semoga selanjutnya ditindaklanjuti sesuai hukum," tutur dia. Nurul meyakini, Polri akan mengembangkan penyidikan ini. Waka KPK lainnya, Nawawi Pomolango ikut-ikutan memuji Polri. Khususnya, Kabareskrim Komjen Sigit. "Tentu kita sangat apresiasi dengan kerja Kabareskrim yang baru, pak Sigit dengan jajarannya," ucap Nawawi.

Baca Juga : PSBB Jakarta, LIB Gelar Medical Workshop 2020 Secara Virtual

Sementara pengacara Novel, Muhammad Isnur, tidak percaya kedua anggota polisi itu adalah dalang dari penyerangan. Mereka mendorong polisi mengungkap sampai otaknya. "Tentu seorang anggota Polri aktif tidak mungkin bergerak sendiri. Jadi penting untuk diketahui siapa level otaknya," ujar Isnur seraya mengingatkan, sejak awal, Novel sudah menyatakan ada jenderal yang terlibat dalam kasus teror ini. 

"Kepolisian harus segera mengungkap jenderal dan aktor intelektual lain yang terlibat dalam kasus penyiraman dan tidak berhenti pada pelaku lapangan," tegasnya. 

Jika kasus ini tak diungkap hingga dalangnya, Isnur khawatir penangkapan terhadap RM dan RB hanya mengaburkan masalah. "Kalau dia Polri aktif, kenapa sekian lama baru terungkap. Kenapa baru Pak Listyo Sigit baru diungkap. Kenapa harus menunggu sekian lama?" tanya Isnur.

Anggota Tim Advokasi Novel, Alghiffari Aqsa juga meragukan kedua pelaku yang disebut Polri adalah pelaku utama. Dia mengingatkan, Tim Gabungan yang dibentuk Polri sebelumnya menyimpulkan, penyerangan terhadap Novel berhubungan dengan pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK. Penyerangan itu, disebutnya, berkaitan dengan enam kasus high profile yang ditanganinya. [OKT]