Analisis Indonesia Indicator

Serangan Sentimen Negatif Tak Goyahkan Polri

Kapolri Jenderal Idham Azis (kiri) bersama anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan (berbatik) dan Kadiv Humas Polri Irjen M. I Iqbal (kanan). (Foto: Humas Polri)
Klik untuk perbesar
Kapolri Jenderal Idham Azis (kiri) bersama anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan (berbatik) dan Kadiv Humas Polri Irjen M. I Iqbal (kanan). (Foto: Humas Polri)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sepanjang 2019, banyak serangan sentimen negatif terhadap Polri. Namun, serangan itu tidak menggoyahkan eksistensi lembaga negara yang bertugas menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.        

Demikian diungkapkan Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2), Rustika Herlambang, dalam paparannya di acara Rilis Akhir Tahun Polri 2019, di Auditorium PTIK, Jakarta, Senin (30/12).         

Indonesia Indicator menyatakan, skor Polri pada 2019 adalah 68 persen. Angka ini memang turun dari 2018 yang sebesar 72 persen. Namun, perlu diingat 2019 adalah tahun politik, tahun ketika serangan hoaks dan sentimen negatif terhadap Polri gencar dilakukan dengan tujuan delegitimasi dan mengkendorkan kinerja Polri agar agenda-agenda politik dan gangguan keamanan yang dilakukan pihak-pihak tertentu bisa berhasil. "Angka 68 persen adalah nilai framing positif pemberitaan baik media massa maupun media sosial," ucap Rustika seperti keterangan yang diterima redaksi.         

Berita Terkait : Indonesia Kutuk Serangan Bom Bunuh Diri di Mogadishu, Tak Ada WNI Jadi Korban

Indonesia Indicator menyebutkan,  framming positif ini didapatkan dari kinerja Polri dalam pengamanan Pemilu 2019, penanggulangan terorisme, konflik Papua, pemberantasan narkoba, dan penanganan aksi mahasiswa. Tokoh di luar intitusi Polri yang berperan positif terhadap kinerja Polri adalah Presiden Jokowi, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, dan Wiranto.        

Indonesia Indicator mencatat, masih banyak catatan yang perlu diperbaiki oleh Humas Polri. "Namun, secara umum kinerjanya sudah dianggap baik. Perbaikan yang harus dilakukan adalah kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam mengelola/manajemen isu sehingga cepat tanggap dan segera terkendali sebelum menjadi liar," ucap Rustika.        

Humas Polri harus memanfaatkan popularitas (shareable) berita-berita tentang Polri oleh media arus utama maupun media sosial. Sehingga isi pemberitaan menaikkan sentimen positif sehingga meningkatkan citra Polri.        

Berita Terkait : Gubernur Terpegah dan Tervokal, Anies Ditempel Ridwan Kamil

Kapolri Jenderal Idham Azis merespons paparan Indonesia Indicator tersebut dengan komitmen peningkatan kinerja Polri di berbagai lini. Termasuk peningkatan SDM, pemanfaatan teknologi informasi, dan pengawasan internal.        

Anggota Komisi III DPR, Muhammad Nasir Djamil, menyebutkan, kinerja Polri membaik dari waktu ke waktu. Politisi PKS ini mengapresiasi peningkatan tersebut.       

Anggota Komisi III DPR Ateria Dahlan menyatakan hal yang sama. Politisi muda PDIP ini pun agar Idham Azis melanjutkan program Kapolri sebelumnya, Tito Karnavian. "Dengan perbaikan-perbaikan yang diperlukan sehingga kinerja meningkat dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri tinggi," katanya. [USU]