Galak ke China, Ibu Retno Ngalahin Jenderal Kopassus

Retno Marsudi (Foto: Twitter Menlu)
Klik untuk perbesar
Retno Marsudi (Foto: Twitter Menlu)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sikap keras Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang memprotes klaim sepihak China terhadap perairan Natuna, dipuji banyak pihak. Retno dinilai lebih galak ketimbang dua Jenderal Kopassus; Prabowo Subianto dan Luhut Pandjaitan. Prabowo yang menjabat Menhan dan Luhut yang menjabat Menko Kemaritiman dan Investasi, dinilai lembek terhadap negeri Tirai Bambu.

Retno langsung mengirim nota protes ke pemerintah China, saat kapal-kapal China ketahuan berkeliaran di perairan Natuna, Desember lalu. Dia juga sudah memanggil Dubes China untuk Indonesia. Namun, China mengklaim perairan Natuna Utara menjadi bagian wilayahnya berdasarkan Nine Dash-Line merupakan wilayah mereka. Nine Dash-line adalah penetapan China atas kedaulatan suatu wilayah, baik di darat maupun perairan.

Retno kembali bersuara. Dia menolak tegas klaim China. Dia menyatakan, klaim itu tidak berlandaskan hukum internasional yang diakui Konvensi Hukum Laut PBB atau United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS).

"Kami tidak mengakui Nine Dash-Line karena itu line klaim sepihak yang dilakukan oleh Tiongkok (Cina), yang tidak memiliki alasan hukum yang diakui oleh hukum internasional, terutama UNCLOS 1982," tegas Retno dengan raut muka marah di Kantor Polhukam, Jumat (3/1).

Di hari yang sama, Menhan Prabowo Subianto, malah menanggapi santai persoalan klaim China di perairan Natuna yang kian memanas. "Kita cool saja. Kita santai kok, ya," ujarnya.

Berita Terkait : Galak Ke Prabowo, PKS Mungkin Sakit Hati

Menurut Ketum Gerindra itu, masing-masing negara punya sikap tersendiri mengenai perkara tersebut. Namun, dua negara perlu mencari satu solusi yang baik. "Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimana pun China negara sahabat," ujar eks Danjen Kopassus itu.

Sikap Prabowo ini sama dengan Luhut. Luhut menegaskan, pemerintah Indonesia tidak pernah mengakui klaim China. Tapi, dia meminta, permasalahan dengan China di perairan Natuna jangan diributkan. Khawatir ribut-ribut itu bakal membuat investasi dari China terganggu.

"Ya makanya saya bilang jangan ribut. Untuk apa kita ribut yang nggak perlu diributin, bisa ganggu," ujar Luhut usai bertemu Prabowo. "Sebenarnya kita juga mesti lihat, kita ini harus membenahi diri kita," imbuhnya.

Luhut menyebut, kehadiran kapal-kapal China di perairan Natuna karena Indonesia kekurangan kapal patroli. "Ya kalau kita enggak hadir kan, orang hadir. Jadi kita sebenarnya yang paling marah pertama itu pada diri kita sendiri. Kita punya kapal belum cukup," seloroh dia.

Sikap Retno yang lebih tegas dibandingkan Prabowo dan Luhut dipuji Politisi PKS Muhammad Kholid. Menurut dia, langkah Retno, yang keras dan langsung mengirimkan nota protes ke pemerintah China, patut diapresiasi. "Jika sudah menyangkut kedaulatan negara, Pemerintah harus bersikap keras dan tegas. Tidak boleh lembek. Meskipun kepada negara sahabat seperti Tiongkok," tegas Kholid.

Berita Terkait : Prabowo Tidak Marah

Dia menyayangkan sikap Prabowo yang terkesan menganggap enteng masalah kedaulatan bangsa. "Kalau lembek, santai-santai, maka bangsa ini akan semakin direndahkan oleh bangsa lain, karena tidak punya keberanian dalam bersikap," kritiknya.

Eks Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga mengkritik Prabowo dan Luhut. Menurut Susi, pemerintah harus bisa membedakan antara persahabatan negara, investor, dan pencuri.

"Kita jaga persahabatan antarbangsa. Kita undang investor untuk investasi. Kita jaga investor. Dan kita akan tetap menghukum pencuri sumber daya perikanan kita. Kita bedakan tiga hal itu dengan baik dan benar," cuit Susi melalui akun Twitternya, @susipudjiastuti. "Persahabatan dan investasi bukan pencurian ikan," sambungnya.

Sikap lembek Prabowo dan Luhut juga disindir Politisi Demokrat, Andi Arief. Menurut dia, Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) lebih hebat dibandingkan alumni Lembah Tidar. “Kalau 4 hari ini 4 orang alumni UGM tidak kompak merespon banjir, hari ini alumni UGM yang menjadi Menlu Ibu Retno bisa bersikap tegas kepada Tiongkok di tengah dua alumni tidar yang lembut. Inilah hebatnya lulusan Fisip UGM,” cuit Andi Arief diakun Twitternya @AndiArief__.

Anggota DPD, Jimly Asshiddiqie juga menyayangkan sikap Luhut yang lebih mementingkan investasi dibanding kedaulatan negara. “Kali ini kawan saya yang satu ini agak kebablasan berkomentar, seolah investor adalah segala-galanya,” ujar Jimly melalui akun Twitternya, JimlyAs.

Berita Terkait : Menkopolhukam Kerahkan Ratusan Nelayan Ke Natuna

"Masalah Natuna, Menlu Bu Retno lebih galak ke China daripada dua mantan jenderal, Prabowo dan Luhut," cuit @pakepeci. "Jenderalnya sudah kayak macan ompong," timpal @anggrescool.

Sementara itu, 600 personel TNI dan lima unit kapal perang standby di Natuna. Para personel TNI yang disiagakan terdiri dari satu Kompi TNI AD Batalyon Komposit 1 Gardapat, satu Kompi gabungan TNI AL terdiri dari personel Lanal Ranai, Satgas Komposit Marinir Setengar, serta satu Kompi TNI AU (Lanud Raden Sadjad dan Satrad 212 Natuna). Ratusan pasukan itu hadir dalam apel pasukan intensitas operasi rutin TNI yang digelar Pangkogabwilhan I Laksamana Madya (Laksdya) TNI Yudo Morgono di pelabuhan Selat Lampa, Ranai Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. [OKT]