RMco.id  Rakyat Merdeka - Hampir seabad, gerakan Islam Berkemajuan di Sumatera Barat, telah menorehkan tinta emas dalam pengembangan amal usaha. Juga melahirkan tokoh-tokoh yang berkompetisi di pentas nasional dan internasional.

Satu dari sekian tokoh perintis Muhammadiyah yang menarik dibicarakan adalah Saalah Yusuf Sutan Mangkuto. Tokoh ini barangkali tidak tenar dalam lembar sejarah nasional.

Namun, para peneliti seperti Taufik Abdullah, Murni Djamal, Deliar Noer, Audrey Kahin, dan lainnya justru kerap membicarakannya. Bahkan, ulama sekelas Hamka pun dalam beberapa karyanya sering mengapungkan nama Saalah.

Baca Juga : Terawan Beri Insentif Rp 82 Juta ke Dokter PPDS yang Bantu Tangani Covid-19

Terutama yang berhubungan dengan gerakan Islam Modernis dan Muhammadiyah di Minangkabau. Laki-laki kelahiran Nagari Pitalah Afdeling Tanah Datar pada 1901 itu, dikenal luas sebagai perintis Islam Berkemajuan di Padang Panjang tahun 1926.

Pada masa itu, perjuangannya cukup berat. Terutama berhadapan dengan otoritas adat, dan kelompok propagandis Kuminih (Komunis).

Pasca dirintis di Sungai Batang pada 1925, yang telah kembali merantau dari tanah Jawa, mendirikan Perkumpulan Tani di kampung asalnya pada Agustus 1925.

Baca Juga : Jakarta PSBB Lagi, BP Jamsostek Maksimalin Lapak Asik

Saalah dinilai berani mengambil risiko besar, mengingat nagari Pitalah merupakan basis groep Sarekat Rakyat Padang Panjang.

Versi Taufik Abdullah dan Murni Djamal -mengutip dari Hamka, menyebut asal Muhamadiyah Cabang Padang Panjang bermula dari kisah Khaibul Ummah.

Murid-murid yang mengikuti perkumpulan itu, mereka belajar teknik dakwah, kemudian menerbitkan pidatonya dalam Khatibul Ummah –yang diterbitkan Muhammadiyah Padang Panjang (Hamka, 1971: 77-78; Mailrapport 1453x/1927).

Baca Juga : Bangkitkan Roda Ekonomi, Tol Laut Bisa Jadi Solusi

Namun dilihat dari kroniknya, tidaklah tepat. Karena waktu itu, Muhammadiyah belum resmi berdiri di Padang Panjang. Ketika Saalah ingin mengubah perkumpulannya, memang penuh intrik dan memicu konflik dengan otoritas Pitalah.

Mereka ingin organisasi itu, langsung di bawah lembaga adat Pitalah, dan seluruh kegiatan berada di mesjid nagari. Untuk mengurus izin persyarikatan, Saalah harus melalui urusan yang berbelit.

Mulai dari penghulu nagari, ulama Naqsyabandiyah, dan guru-guru agama. Intrik penolakan terhadap embrio Cabang Padang Panjang, sebenarnya sudah terendus.
 Selanjutnya