Saalah Yusuf Sutan Mangkuto

Perintis Islam Berkemajuan Yang Dibenci Komunis

Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat. (Foto: Dok. Pribadi)
Klik untuk perbesar
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat. (Foto: Dok. Pribadi)

 Sebelumnya 
Ketika Kepala Nagari Pitalah menyampaikan penolakan mereka kepada Asisten Residen Padang Panjang pada November 1926. Mereka menolak, bila Muhammadiyah berada di luar kontrol kepalanagari Pitalah.

Setelah kepala nagari menghadap, pada 2 Desember 1926 giliran majelis nagari mengeluarkan putusan,

”Perkumpulan Tani dan Muhammadiyah dibubarkan. Tabligh agama bisa diadakan kapan saja di mesjid. Izin yang tersedia diberikan oleh sidang Jumat dan ulama.”

Baca Juga : Di Depan Anies, Tito: Lockdown Otoritas Pemerintah Pusat

Kebulatan tekad itu kemudian disetujui oleh masyarakat pada 28 Januari 1927. Sementara pemerintah masih sibuk menyelesaikan persoalan peristiwa Silungkang (Mailrapport 523x/27).

Penolakan otoritas adat tentu bisa dipahami, sebab Pitalah merupakan basis tarekat Naqsyabandiyah, sehingga hadirnya Muhammadiyah dianggap ancaman serius.

Saalah tidak peduli atas penolakan otoritas nagari. Pada Juni 1926 Sutan Mangkuto, Datuk Sati, dan dua pimpinan Tabligh Muhammadiyah mengalihkan organisasi Perkumpulan Tani menjadi Cabang Padang Panjang (Mailrapport 523x/27). Dua hari kemudian, Padang Panjang diguncang gempa Juni 1926. 

Baca Juga : Pertamina Sumbang 15 Ribu Masker Untuk Puskesmas dan Posyandu wilayah Jakarta Utara

Piawai Berpolitik

Muhammadiyah sedari awal berdiri, telah menegaskan dirinya tidak berafiliasi pada kekuatan politik manapun. Namun model yang ditempuh Hoofdbestuur Hindia Timur, tidak berlaku untuk Saalah Yusuf Sutan Mangkuto.

Ketua Cabang Padang Panjang yang pernah bekerja sebagai penasehat Abdul Muis itu, memang piawai berpolitik. Memasuki pertengahan 1927 Saalah berniat merintis Muhammadiyah di Nagari Labuah, pasca berdirinya beberapa groep di Padang Panjang.

Baca Juga : Ketua MPR: Social Distancing Efektif Cegah Penularan Virus Corona

Controleur Veen mencium gelagat buruk. Ia meminta Saalah menghentikan rencananya. Meski Veen tahu, Saalah merupakan seorang anti Kuminih, namun ia khawatir dengan asal daerahnya yang menjadi basis “merah”.

Veen memang khawatir dengan Saalah yang berasal dari Pitalah, sebuah nagari yang menjadi basis Kuminih dan memiliki penilaian buruk dari Asisten Residen Padang Panjang Winkelman.

Ia tentu cuci tangan dan meminta agar Saalah segera meminta surat rekomendasi dari Dewan Nagari Pitalah dan Labuah (Mailrapport 524x/’27).
 Selanjutnya