Duit Suap Ke Anggota KPU Disebut Dari Sekjen PDIP

Hasto Tamat Apa Selamat

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: Ng Putu Wahyu/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: Ng Putu Wahyu/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seorang tersangka suap hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisioner KPU, Wahyu Setiawan mengaku, sumber duit suap untuk memuluskan Harun Masiku jadi anggota DPR berasal dari Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. Nah lho...apakah Hasto akan tamat atau selamat? Kita tunggu saja perkembangannya. Yang Pasti, KPK terus bergerak. Hasto juga terus membantah terlibat dalam praktek haram tersebut.

Nama Hasto diseret Saeful, seorang dari empat tersangka dalam kasus ini. Saeful disebut KPK sebagai pihak swasta. Sementara kabar yang beredar menyebut, dia adalah staf Hasto. Saeful membenarkan sumber uang yang digunakan untuk menyuap Wahyu berasal dari Hasto. "Iya, iya," ujarnya saat keluar dari Gedung KPK, dini hari kemarin, pukul 02.20 WIB. 

KPK menyebut, ada Rp 400 juta yang diberikan kepada Wahyu melalui eks anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina, Saeful, dan seorang advokat bernama Doni. Keempat orang ini sudah jadi tersangka. KPK masih menelusuri sumber uang untuk memuluskan Harun Masiku sebagai pengganti caleg PDIP terpilih, Nazarudin Kiemas.

Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli yang memimpin konferensi pers Gedung KPK, Kamis (9/1), juga tak mau memastikan ketika ditanya apakah pemberi dana itu adalah Hasto. "Sumber dana ini sedang didalami oleh teman-teman di penyidikan," elak eks komisioner Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) itu.

Berita Terkait : Saat ini... Biarkan Saja Hasto Tersenyum Lebar

Namun, Lili menyatakan ada kemungkinan KPK memanggil Hasto untuk menelusuri sumber aliran suap tersebut. "Mungkin tidak saja hanya ke Pak Hasto," tandasnya. 

Senada, Plt Jubir KPK Ali Fikri juga mengatakan, Hasto bisa saja dipanggil sebagai saksi dalam perkara ini. "Kalau penyidik butuh keterangan, yang bersangkutan (Hasto) pasti dipanggil,” ujarnya, kemarin.  Soal dugaan keterlibatan Hasto dalam perkara ini, Ali tak mau banyak komentar. "Untuk kepentingan penyidikan, mohon maaf untuk sementara belum bisa kami sampaikan detailnya," tuturnya. 

Terpisah, KPU menyebut, permohonan untuk menjadikan Harun Masiku sebagai pengganti Nazarudin Kiemas di parlemen melalui mekanisme pergantian antar-waktu ditandatangani oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Hasto Kristiyanto. "Kalau sebelumnya saya lupa, tetapi kalau yang terakhir permohonan iya ditandatangani (oleh Megawati dan Hasto)," ungkap Ketua KPU Arief Budiman, kemarin. 

Hasto sendiri kemarin mendampingi Megawati Soekarnoputri pada acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP di JIExpo, Kemayoran. Setelah semua tamu kehormatan pulang, Hasto membawa Megawati berkeliling melihat pameran rempah-rempah yang berada di sisi kiri aula Rakernas I PDIP. Dia menuju lokasi pameran rempah-rempah menggunakan mobil golf.

Berita Terkait : Di Ruang Pemeriksaan KPK, Sekjen PDIP Dikonfirmasi Sejumlah Bukti Percakapan

Di atas mobil golf itu, ada juga Ketua Pusat Analisis dan Pengendalian Situasi Prananda Prabowo. Pria yang akrab disapa Nanan itu yang membawakan mobil untuk Megawati dan Hasto.

Selama perjalanan, Hasto ngobrol dengan Megawati yang duduk di bagian belakang. Megawati tampak beberapa kali tersenyum menanggapi omongan Hasto.

Terkait kasusnya, Hasto mengatakan, ada framing yang sengaja dibuat tentang dirinya. Hasto menyebutnya wajar lantaran PDIP sebagai partai politik yang menang dua kali berturut-turut, selalu mengalami ujian-ujian sejarah dan terpaan badai.  "Ya sebagai contoh ada yang memframing saya menerima dana, ada yang memframing bahwa saya diperlakukan sebagai bentuk-bentuk penggunaan kekuasaan itu secara sembarangan," tutur Hasto.

Sementara Megawati saat berpidato dalam Rakernas mengingatkan para kader jangan mengambil keuntungan pribadi atau kelompok dalam menjalankan tugas sebagai politikus. Dia meminta kader PDIP bekerja sungguh-sungguh untuk bangsa dan negara.

Berita Terkait : Digarap KPK Lagi, Hasto Kristiyanto Sumringah

"Jangan sekali-kali punggungi rakyat, jangan itung untung rugi bagi kerja politik, jangan mencari keuntungan pribadi atau kelompok dari tugas ideologis ini," tegas Mega. "Saya tidak akan lindungi kader yang tidak taat instruksi partai," imbuhnya. 

Mega pun mengatakan akan 'menggebrak' kader agar sadar akan tugas partai. Dia kemudian mempersilakan kader yang tak siap  menjalankan instruksinya keluar dari PDIP. "Siap atau tidak?"tanya Mega. "Siap!" jawab seluruh kader dengan suara lantang dan kompak. [OKT]