Semarak Penanaman di Pati, Kementan Pastikan Pasokan Bawang Merah Aman

Perkebunan bawang merah di Pati (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Perkebunan bawang merah di Pati (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kabupaten Pati, Jawa Tengah, didominasi dengan komoditas pertanian padi dan bawang merah. Kabupaten yang dikenal dengan motto Bumi Mina Tani ini mampu menanam bawang merah 2-3 kali setahun. Tak ayal, Pati mampu swasembada bawang merah bahkan rutin mensuplai daerah lain di Jawa maupun luar Jawa. Produksi bawang merah Pati menyumbang sedikitnya 1,8 persen terhadap produksi dan luas tambah tanam (LTT) nasional.         

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Efendi, menyebutkan, pertanaman terbesar di terdapat di Kecamatan Wedarijaksa dan Jaken dengan jumlah pertanaman mencapai seribuan hektar. “Pertanaman bawang merah di kedua sentra besar ini benar tidak berhenti. Panen lalu tanam lagi, sehingga di lapangan lengkap mulai dari yang baru tanam sampai ke siap panen,” terang Effendi.                 

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

Menurut Efendi, kebutuhan pasar lokal Pati hanya 8 ribuan ton per tahun. Sedangkan produksi mencapai 48 ribu ton atau terdapat surplus 30 ribu ton per tahunnya. "Dengan produksi yang cukup besar, Pati mampu menopang kebutuhan pasar Jabodetabek melalui pasokan rutin ke Pasar Induk Kramat Jati dan Cibitung tiap harinya," ujarnya.        

Harga bawang merah di petani saat ini cenderung stabil. Warsito, Ketua Poktan Gangsar Tani, Desa Ngurenrejo menjual hasil bawangnya dengan harga Rp 15 ribu. Dengan biaya produksi yang mencapai Rp 12-13 ribu, maka petani mampu meraup untung sekitar Rp 20 juta rupiah. Petani Pati rata-rata mengupayakan varietas Tajuk asal Nganjuk yang cukup tahan saat musim hujan dan relatif tahan hama.       

Berita Terkait : Menhub Temui Jemaah Umroh di Bandara Soetta, Semua Tertangani dengan Baik

Warsito mengharapkan adanya dukungan permodalan yang mudah diakses oleh petani bawang Pati. “Kami berharap kemudahan dalam permodalan. Di musim hujan biaya produksi cukup tinggi, kita perlu modal sampai dengan akhir Maret ini,” ujarnya.  

Tim monev Kementan dalam kesempatan tersebut kembali mensosialisasikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki plafon sampai dengan Rp 50 juta tanpa jaminan dan NPWP. Hanya perlu KTP dan syarat administratif ringan lainnya untuk dapat mengakses permodalan tersebut.                    

Berita Terkait : Cegah Penyebaran ASF, Kementan Minta Pengawasan Lalu Lintas Babi Diperketat

Plt. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Sukarman, menyampaikan bahwa pemerintah akan terus memantau produksi, bahkan distribusi kedua bahan pokok ini sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang berarti di masyarakat. “Untuk harga cabe khususnya TW dan ketiring merah memang diakui terus naik. Namun jika melihat dari angka produksi sentra utama cabai merah masih surplus di bulan Januari sampai dengan Maret ke depan. Kendala utamanya saat ini yaitu musim hujan yang cukup ekstrim kerap menghambat proses panen dan naiknya harga trandpoilt saat ini,” terang Karman.        

Masuk Februari, harga akan berangsur turun seiring dengan adanya panen raya cabai di Jawa Timur. “Masyarakat tidak perlu khawatir karena kami menjamin pasokan bawang merah dan cabe tetap stabil di tengah musim penghujan ini,” tutupnya. [KAL]