Isu Denny Incar Komisaris Inalum

Luhut: Capek Saya...

Menko Maritim dan Investasi, Luhut B Pandjaitan.
Klik untuk perbesar
Menko Maritim dan Investasi, Luhut B Pandjaitan.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Denny JA lagi jadi hot gosip. Gara-garanya, beredar sebuah pesan WhatsApp alias WA yang mengatasnamakan bos Lingkaran Survei Indonesia (LSI) itu, meminta jabatan Komisaris Inalum ke Menko Maritim dan Investasi, Luhut Pandjaitan. 

Denny JA membantah. Luhut juga ikut komentar. Kabar Denny JA meminta jabatan itu mulai merayap di jagat Twitter sejak kemarin pagi. 

Entah siapa yang pertama mengunggahnya. Respons warganet awalnya senyap-senyap saja. Namun menjelang siang, tanggapan warganet makin meluas. 

Mereka menganggap topik ini sebagai isu seksi. Sampai tadi malam, tagar #DennyJA terus melesat ke urutan pertama trending topic Twitter Indonesia. 

Ada 2.500 pengguna yang mengicaukan topik ini. Kabar ini bermula dari pesan di WhatsApp group. Pesan itu di duga merupakan pesan Denny yang akan dikirimkan ke Luhut. Namun, chat pribadi itu malah salah kirim dan diteruskan ke WhatsApp Group Tokoh Nasional dan kemudian menyebar. Tangkapan layar pesan tersebut dengan cepat menyebar. 

“Komandan, Pak Luhut yang baik. Semoga tahun baru membawa berkah baru,” begitu bunyi pembuka pesan tersebut. Dalam pesan itu, Denny menanyakan kabar dan kemungkinan ia menjadi komisaris Inalum. 

Baca Juga : Yenny Wahid Kebagian ``Piring Kotor``

Ia juga menanyakan apakah sudah ada jawaban dari Menteri BUMN Erick Thohir. Denny bilang, ia seorang yang cepat belajar dan bisa menyelesaikan sesuatu. 

Dia yakin, bisa mengerjakan banyak hal di Inalum seperti mengeksplore tambang, menarik investasi termasuk mensimulasi kepala daerah. 

Ia juga menjanjikan posisinya sebagai komisaris di Inalum bisa membantu Luhut soal tambang. Ia berharap, Luhut bisa meyakinkan Erick atau Presiden Jokowi soal ini. 

“Terbukti pula saya sudah berha sil membantu komandan ikut memenangkan Jokowi dua kali, 2014 dan 2019. Sangat ditunggu arahan pak Luhut berikutnya,” tulisnya. 

Ramai diberitakan, Denny JA akhirnya memberikan klarifikasi lewat sebuah cerpen. Pada intinya, dia menyebut kabar itu sebagai gosip. Dan ia merespons gosip itu dengan santai sambil menyeruput kopi. 

Meski dia heran, apa yang salah dengan pesan tersebut dan apa yang penting dari pesan itu hingga menjadi viral. Denny JA mengaku, sempat meneruskan gosip yang beredar lewat pesan WA itu ke beberapa orang sebagai informasi. 

Baca Juga : Kalau di Jepang, Menkumham dan Ketua KPK Sudah Mundur

Ternyata, malah diforward oleh mereka yang senang bergosip ke aneka grup.“Tanpa ada check and recheck dan mengelaborasi konteksnya dulu,” ucapnya. 

Denny JA mengaku, sudah biasa di gosipkan. Sebelum Pilpres, dia pernah dikabarkan menerima uang dari Presiden Jokowi sebesar Rp 45 miliar untuk memenangkan calon inkamben tersebut. Saat itu, ia pun menanggapi dengan santai. “Itu fitnah, karena angka 45 miliar kecil sekali. Sedangkan saya tidak sedang banting harga,” ujarnya. 

Jika pun benar dia meminta jabatan di BUMN, kata Denny, pun tidak ada salahnya.Toh, dia ikut memenang kan Presiden Jokowi dua kali berturut-turut. 

“Apa yang salah dengan seseorang yang ingin berperan ikut memajukan negaranya dengan mengajukan diri menjadi komisaris BUMN? Bukankah itu memang jabatan terbuka yang bisa diisi siapa saja yang kompeten?” ucapnya. 

Sampai tadi malam, kritikan dan sindiran dari warganet masih berseliweran di lini masa. Salah satunya disampaikan sosiolog Prof Ariel Heryanto di akun Twitter miliknya. 

“Nga pain minta-minta jabatan komisaris? Tanggung. Mendingan memproklamirkan diri jadi Raja Keraton Agung Sejagad,” cuit @ariel_heryanto. Pemilik akun @Ekodjonzhi justru heran. 

Baca Juga : Naomi-Gauff Lakoni Duel Ulangan

Dalam rangka sebagai apa Denny JA minta jabatan. Padahal ia bukan pasukan tim sukses, bukan konglomerat, juga bukan anggota partai pendukung Jokowi. Politikus Gerin dra @ Iwan Sumule86 menduga permin taan Denny JA itu sebagai tanda adanya rekayasa survei di pilpres lalu. “Pemilik survei menuntut jabatan sebagai balas jasa me nangkan pilpres,” kicaunya. 

Ada juga yang membela Denny JA seperti disampaikan Simon Syaefudin. “Kalau cuma komisaris utama Inalum untuk Denny ya terlalu kecil. 

Wong Denny itu membiayai aktivitas sosial dan intelektualnya dalam setahun demi Indonesia yang ramah dan sejahtera lebih dari gaji komut setahun,” sebutnya. 

Luhut menanggapi santai kabar ini. “Capek saya nanggapin yang begituan,” kata Luhut, di kantornya, kemarin. 

Luhut tidak membenarkan atau membantah adanya permintaan dari Denny itu. “Kenapa sih kamu se nang yang gitu-gituan, mbok ya (ber tanya) yang le bih bermutu gitu lho, yang meminta (ja batan) itu banyak,” ucapnya. [BCG]