Putar CCTV Kedatangan KPK

Adian Bersihkan Darah Banteng

Politisi PDI Perjuangan Adian Napitupulu. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Politisi PDI Perjuangan Adian Napitupulu. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kedatangan Penyidik KPK ke markas PDIP terkait OTT Komisioner KPU Wahyu Setiawan, 9 Januari lalu, membuat PDiP tersudut. Untuk membersihkan “darah banteng” dari segala tuduhan tak berdasar, Adian Napitupulu tampil dengan memamerkan rekaman CCTV detik-detik kedatangan penyidik KPK tersebut.

Rekaman itu diputar Adian saat menjadi pem bicara di diskusi bertajuk “Ada Apa di Balik Kasus Wahyu?” di bilangan Tebet, Jakarta, kemarin.

Rekaman video itu singkat saja. Tak sampai satu menit. Video yang diputar diambil dari kamera CCTV yang terpasang di parkiran bawah tanah di DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Rekaman bertanggal 9 Januari itu menunjukkan saat petugas KPK mendatangi kantor DPP PDIP terkait kasus suap komisioner KPU Wahyu Setiawan.

Dalam rekaman yang diputar, terlihat ada 6 orang berdiri. Ada yang mengenakan kaus, ada yang bertopi. Dari gesturnya, mereka terlihat sedang bercakap-cakap.

Berita Terkait : Yasonna Sumpah Tak Kenal Harun

Tak lama kemudian, sebagian menuju ke pintu keluar. Menurut Adian, sosok yang mengenakan kaus putih di video itu adalah Satgas PDIP. Sedangkan yang mengenakan topi adalah petugas KPK. Dia lalu menjelaskan isi percakapan dalam video itu.

Saat itu, orang yang mengenakan topi datang mengaku sebagai petugas dari KPK. Satgas lalu bertanya, ada surat tugasnya tidak. Yang ditanya menjawab tidak ada. “Begitu dijawab tidak ada, dia pergi,” kata Adian.

Menurut dia, sudah jadi prosedur setiap tamu yang datang ke markas PDIP selalu ditanya begitu oleh satgas. Nama siapa, dari mana, mau perlu apa, dan ketemu siapa. Jadi, saat ada petugas dari KPK, Satgas pun bertanya surat perintah.

Namun, tim dari KPK tak bisa menunjukkan surat tugas dan lantas meninggalkan kantor DPP. Adian menegaskan, tak ada keributan atau ketegangan saat tim penindakan KPK mendatangi DPP PDIP. Juga tidak ada adu mulut antara pihak KPK dan petugas.

“Dari video ini, dia pergi ketawa-ketawa saja. Pertanyaan saya, pemberitaan tentang kehebohan keributan, ada nggak dalam peristiwa ini? Nggak ada.

Berita Terkait : KPK Panggil Istri dan Anak Nurhadi

Lalu siapa yang mem-framing seolah-olah ada perdebatan panjang, ada perselisihan. Dalam faktanya, me nurut CCTV, tidak ada,” ucap Adian.

Adian pun meminta KPK mengklarifikasi isu terjadinya keributan saat timnya datang ke DPP PDIP. Sebab, berita yang beredar di masyarakat berbeda dengan fakta yang ada.

Ia berharap, KPK menjelaskan sesuai dengan fakta, tanpa ditambahkan atau dikurangi. “Saya mau nanya KPK, punya video nggak? Kalau ada, bawa video KPK. Kita adu. Biar jelas dong, polemik-polemik yang tidak mendidik rakyat harus kita selesaikan,” ujarnya.

Adian berharap, KPK bisa meluruskan hal tersebut. Sebab, dia merasa pemberitaan adanya ketegangan petugas DPP PDIP dengan tim penindakan KPK menyudutkan partainya.

“KPK juga jangan asal bicara. Ketika ada salah, jangan ragu meminta maaf,” tegasnya.

Berita Terkait : Pimpinan KPK Tak Lapor Ke Dewas Soal Penghentian 36 Penyelidikan

Anggota Komisi I DPR ini kemudian meminta media menjelaskan fakta yang terjadi sebenarnya di lapangan. “Ini harus disampaikan. Jangan sampai fakta yang sampai ke masyarakat salah,” pungkasnya.

Di lokasi yang sama, anggota tim hukum DPP PDIP, Maqdir Ismail mempersoalkan kembali upaya penggeledahan KPK di DPP PDIP. Dia bertanya-tanya, KPK mau menyita apa di markas banteng. Menurut Maqdir, sebagaimana aturan undang-undang, penyitaan mestinya dilakukan terhadap barang atau alat yang diperoleh dari kejahatan, yang dilakukan untuk melakukan kejahatan, dan yang terkait kejahatan.

Masalahnya, kalau misalkan KPK menggeledah DPP PDIP, bukti apa yang ingin disita yang terkait kejahatan. Maqdir menyatakan, jika KPK ingin menyita surat terkait kasus Wahyu Setiawan, surat tersebut sudah lama dikirim. Bila yang ingin disita adalah uang, uang juga telah disita penyidik KPK.

“Saya kira ini perlu jadi catatan penting kita dalam urusan penegakan hukum, terutama yang dilakukan oleh teman-teman di KPK,” kata Maqdir. [BCG]