Soal Natuna dan Pelesiran

Prabowo Jago Silat (Lidah...)

ANGKAT TANGAN: Didampingi Panglima TNI Hadi Tjahjanto dan Wamenhan Wahyu Trenggono (kiri), Menhan
Prabowo Subianto mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR, di Senayan, Jakarta, Senin (20/1). (Foto: Patra Rizki Sahputra/RM)
Klik untuk perbesar
ANGKAT TANGAN: Didampingi Panglima TNI Hadi Tjahjanto dan Wamenhan Wahyu Trenggono (kiri), Menhan Prabowo Subianto mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR, di Senayan, Jakarta, Senin (20/1). (Foto: Patra Rizki Sahputra/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Prabowo Subianto tak hanya jago silat. Tapi juga lihat bersilat lidah. Dalam Rapat Kerja dengan Komisi I DPR kemarin, Ketum Gerindra yang kini menjadi Menteri Pertahanan (Menhan) itu, banyak ngeles saat ditanya soal China di Natuna, dan soal rajinnya dia melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. 

Prabowo tiba di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan pukul 10.00. Dia didampingi Wamenhan, Sakti Wahyu Trenggono, serta Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antarlembaga, Dahnil Anzar Simanjuntak. Prabowo menjelaskan agenda rapat membahas masalah Natuna. 

“Materinya tentang saya kira banyak beberapa masalah. Saya kira pasti dibicarakan mungkin Natuna, pembangunan kekuatan, beberapa masalah. Tapi dengan menteri-menteri lain kan,” ujarnya, saat ditanya wartawan. 

Berita Terkait : Bertemu di Moskow, Prabowo-Menhan Rusia Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan

Tak berselang lama, Panglima TNIMarsekal Hadi Tjahjanto menyusul tiba di Ruang Rapat Komisi I. Hadi langsung masuk ke ruang rapat tanpa memberi keterangan. Rapat juga dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, Sestama Bakamla Laksda S Irawan, Pangkogabwilhan ILaksdya TNIYudo Margono, KSAD Jenderal Andika Perkasa, KSAL Laksamana Siwi Sukma Aji, dan KSAU Marsekal Yuyu Sutisna. 

Rapat berlangsung tertutup. Media tak bisa meliput. Rapat itu berjalan cukup lama. Sekitar pukul 4 petang, Prabowo baru keluar. Dia mengakui, ditanyai soal Natuna. Prabowo menyatakan, dirinya dan DPR sepaham, kedaulatan tidak bisa ditawar. “Kedaulatan dan kemerdekaan itu harus dipertahankan,” ucapnya. 

Untuk bisa mempertahankan kedaulatan, Prabowo menilai perlu ada penguatan pertahanan. Karenanya, Prabowo menginginkan adanya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). “Pertahanan itu butuh investasi. Kita tidak bisa serta merta punya pertahanan yang kuat,” imbuhnya. Prabowo mengklaim, Komisi IDPR mendukung peningkatan pertahanan TNIitu. 

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Mengenai pelanggarakan yang dilakukan para nelayan China di Natuna, Prabowo ngeles. Dia beralasan, yang melakukan pelanggaran wilayah tidak hanya China. Beberapa negara lain juga melakukan pelanggaran di wilayah Indonesia. Tapi, Prabowo enggan mengungkapkan negara mana saja yang melanggar itu. “Iya ada beberapa negara lain ya,” jawabnya. “Salah satunya, Pak?” tanya wartawan lagi. “Ya saya cukup sebut beberapa negara,” elak Prabowo. 

Ditanya apakah alutsista itu akan dibeli dari Perancis, Prabowo tertawa. “Ya itu mungkin harapan Prancis itu,” selorohnya. 

Saat ditanya soal banyaknya kunjungan kerja ke luar negeri, Prabowo kembali ngeles. “Memang kita butuh untuk keliling, menjajaki kemungkinan-kemungkinan. Kita harus pelajari alutsista yang ada,” ucapnya. 

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Dia menyebutkan, Pemerintah Indonesia perlu mendapatkan dukungan dari negara lain untuk membangun kekuatan pertahanan. Perlu penjajakan dengan negara-negara lain agar mereka mau menjual alutsista ke Indonesia. “Kita juga harus minta dukungan dari negara-negara lain karena belum tentu alutsista itu diberi kepada kita untuk dibeli,” tandasnya. [OKT]