Balitbangtan Tentukan Flagship Penelitian Pangan

Kepala Badan Litbang Pertanian Hardiyanto (tengah) saat membuka sinergi program penelitian pangan, di Jakarta, Rabu (22/1). (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Kepala Badan Litbang Pertanian Hardiyanto (tengah) saat membuka sinergi program penelitian pangan, di Jakarta, Rabu (22/1). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan sinergi program penelitian pangan. Langkah ini sebagai tindak lanjut dari program Kemenristek untuk terus menggalakkan riset dan inovasi untuk pangan. 

Plt Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Hardiyanto, menyampaikan bahwa Kementan telah menyiapkan dana yang memadai untuk meningkatkan riset-riset hasil di bidang pertanian. "Untuk riset pangan saat ini telah dipersiapkan pendanaan yang mendukung serta mekanisme kepemilikan atas Hak Kekayaan Intelektual dan juga monev serta analisis risikonya," katanya di acara sinergi program penelitian pangan, di Jakarta, Rabu (22/1). 

Berita Terkait : Langgar Tarif, Kemenhub Laporkan Maxim Ke Kominfo

Ada pun sinergi penelitian pangan ini dilaksanakan dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, badan usaha, industri dan kementerian/lembaga yang mampu mendorong program Pemerintah. "Seperti halnya Kementan yang saat ini mempertegas targetnya untuk pembangunan pertanian yang mandiri, maju dan modern dan sudah membagi kawasannya ke kawasan utama, andalan dan pengembangan," kata Hardiyanto.

Deputi Penguatan Riset Dan Pengembangan Kemenristek, Saiful, menyampaikan tentang Prioritas Riset Nasional (PRN) 2020-2024. Dalam presentasinya disebutkan bahwa PRN ini akan terlihat peran serta masing-masing pihak yang terlihat dalam perjanjian kerjasama, termasuk anggaran, fasilitas dan sarana prasarana termasuk tanggung jawab. 

Berita Terkait : Dukung Kementan, Petani Subang Antusias Kembangkan Manggis

Pelaku usaha sawit, Gede Wibawa, menuturkan diperlukan mendorong keterlibatan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebagai upaya meningkatkan produksi kelapa sawit nasional. "Untuk itu, diperlukan keikutsertaan BPDPKS dalam konsorsium," katanya.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) Agus Supriyanto menilai, keterlibatan perguruan tinggi samhat penting dalam rangka meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia. Hanya saja dia bertanya-tanya apakah upaya peningkatan SDM ini bisa didorong  melalui  penguatan sarana dan prasarana diluar pendanaan dari perguruan tinggi. "Apakah juga dibolehkan menggunakan sumber pendanaan instansi atau sumber lain?," tanya Agus. 

Berita Terkait : Indonesia Dukung Pemetaan Tanah Global

Hal senada dilontarkan Dosen Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Yusuf. Menurutnya, perlu pemguatan kerja sama digital farming melalui komitmen bersama atas hasil penelitian yang dihilirisasi sepenuhnya untuk masyarakat. 

Sementara itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) melihat bahwa untuk riset yang saat sudah tersebar (scattered) bisa dibagi tugas sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing. Diakui saat ini perguruan tinggi sulit memperoleh pendanaan dan untuk dukungan riset untuk program PRN sama posisinya dengan perguruan tinggi yang lain mengingat sumberdaya perguruan tinggi saja terbatas dimana tersedia 1300 dosen dan juga mahasiswa yang tersedia dimana sejauh ini baru tercapai 2 persen inovasi dari 100 inovasi yang diperoleh. [KAL]