Ucapkan Selamat Imlek, Sabam Ajak Semua Warga Cintai Indonesia

Ahok memberi ucapan selamat ke Sabam Sirait saat perayaan ulang tahun Sabam ke-83. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ahok memberi ucapan selamat ke Sabam Sirait saat perayaan ulang tahun Sabam ke-83. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Indonesia itu sangat beragam. Keragaman ini disatukan oleh ideologi Pancasila. Dengan ideologi Pancasila itu juga semua anak bangsa dari berbagai suku, etnis, dan latar belakang agama harus saling bahu-membahu membangun Indonesia. Termasuk yang beretnis Tionghoa yang hari ini merayakan Hari Raya Imlek 2020.      

"Saya ucapkan selamat Imlek pada saudara sebangsa dan setanah air yang merayakannya," kata politisi senior yang juga anggota DPD dari daerah pemilihan DKI Jakarta, Sabam Sirait, di kediamannya, di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (25/1).      

Menurut Sabam, etnis Tinghoa, sebagaimana juga etnis-etnis lain yang ada di Indonesia, harus saling menghormati kebudayaan masing-masing. Di saat yang sama, semua etnis di Indonesia juga harus terus berproses sehingga benar-benar menjadi orang Indonesia yang mencintai negara dengan sepenuh hati.       

Berita Terkait : 10 Ribu Atlet Bakal Ikut Indonesia Marathon 2020

"Semua orang berusaha menjadi orang Indonesia yang baik. Bukan hanya Tionghoa, namun juga Jawa, Batak, Manado, Aceh, Bali, Papua, dan semuanya. Kita semua berproses menjadi orang Indonesia yang baik," ungkap Sabam.      

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, lanjut Sabam, sebagaimana etnis dan suku yang lainnya, ada juga keturunan Tinghoa yang ikut memerdekakan Indonesia. Bahkan dalam Badan Penyelidik Usah-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan dasar negara Indonesia, ada juga yang berasal dari keturunan Tingohoa.        

Sebut saja ada Liem Koen Hia, yang merupakan pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI), yang memiliki visi tentang kewarganegaraan Indonesia. Ada juga Oey Tjong Hauw, yang merupakan Ketua Partai Chung Hwa Hui (CHH), yang merupakan partai milik kaum peranakan Tionghoa di Indonesia.      

Berita Terkait : Ranking FIFA Februari 2020: Indonesia Dibayangi Malaysia

Selain itu, ada Tan Eng Hoa, yang dalam sidang BPUPKI mengusulkan agar hukum Indonesia menetapkan kemerdekaan berserikat dan berkumpul, sehingga lahir Pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berserikat. Ada juga Yap Tjwan Bing, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sebelumnya bergabung dengan PNI yang didirikan Soekarno.      

"Segenerasi dengan saya ada Kwik Kian Gie, yang sudah berjuang sejak awal Indonesia merdeka. Saya dan Kwik sudah menganggap saudara," kata pendiri PDI pada tahun 1973.      

Sabam kemudian berkisah tentang Kwik. Suatu saat, Kwik pernah mau menganti namanya dengan nama yang berbau nama-nama dari etnis lainnya yang ada di Indonesia. Namun, Sabam menyarankan agar Kwik tetap menggunakan nama Tionghoa-nya, sebagai bagian dari keragaman Indonesia itu.        

Berita Terkait : Rayakan Imlek, Untar Ingin Berbagi untuk Kemakmuran Bersama

"Kalau Kwik harus ganti nama, saya juga harus ganti nama dong. Kata saya, tak usah ganti nama. Yang penting mencintai Indonesia," ungkap Sabam.     

Sabam melihat eksistensi masyarakat Tionghoa di Indonesia sangat baik. Mereka juga tidak hanya terjun di bidang ekonomi, melainkan juga masuk ke dunia politik. Selain Kwik Kian Gie, misalnya ada Basuki Thahaja Purnama alias Ahok.      

"Mereka bukan hanya memperjuangkan aspirasi Tionghoa, melainkan juga memperjuangkan aspirasi seluruh Indonesia. Orang Tionghoa harus juga memperjuangkan aspirasi orang Papua. Orang Jawa harus memperjuangkan aspirasi orang Aceh. Manado juga begitu. Lampung juga, Sunda juga. Sebab, kita semua orang Indonesia," ungkap Sabam. [USU]