Rawan Bencana Alam

Bandara Yogya Segera Terlindungi Sabuk Alami

Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) Doni Monardo (kedua kanan) saat berkunjung ke Bandara New Yogyakarta International Airport, Minggu.
Klik untuk perbesar
Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) Doni Monardo (kedua kanan) saat berkunjung ke Bandara New Yogyakarta International Airport, Minggu.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo berkunjung ke New Yogyakarta Internasional AirPort (NYIA) Kulon Progo, Minggu.

Tujuannya, memastikan perencanaan mitigasi bencana menggunakan vegetasi alami berjalan dengan baik. Sehingga dipastikan NYIA menjadi bandara yang aman terhadap ancaman bencana.

Sebelumnya telah banyak diinformasikan bahwa Bandara NYIA mempunyai risiko terhadap gempa bumi, tsunami, dan abrasi tinggi.

Sementara saat ini kondisi di sekitar bandara sama sekali tidak ada vegetasi yang melindungi dari ancaman tersebut.

Berita Terkait : Presiden Apresiasi Cepatnya Pekerjaan Pembangunan YIA

Di sisi lain, NYIA juga menjadi bandara rujukan para wisatawan yang ingin berkunjung ke Yogyakarta dan Jawa Tengah, dimana Candi Borobudur disiapkan sebagai destinasi wisata super prioritas.

Belajar dari peristiwa tsunami 2004 lalu, kawasan wisata Phuket di Thailand dapat terlindungi oleh adanya vegetasi alami yang tumbuh di pinggir pantai. Oleh sebab itu, mencontoh apa yang telah menjadi bukti nyata, maka salah satu solusi yang diambil adalah menggunakan vegetasi alami sebagai sabuk pantai untuk mengurangi risiko bencana alam sesuai wilayah dan potensi ancamannya.

“Pengalaman Phuket, Thailand pada saat tsunami 2004 itu ada kawasan vegetasi yang melindungi kawasan wisata di sana, sehingga dapat meminimalisir korban. Dengan demikian penanaman vegetasi di sepanjang area YIA menjadi penting,” ungkap Doni.

Dalam melaksanakan program mitigasi vegetasi tersebut, BNPB membuat struktur organisasi yang mengkolaborasikan unsur pentahelix, baik itu sipil, militer, dunia usaha, pemerintah, akademisi termasuk masyarakat.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Struktur tersebut sekaligus menindaklanjuti apa yang sudah tertuang dalam Grand Desain Mitigasi YIA. Struktur tersebut diketuai oleh Bupati Kulon Progo dengan tim-tim teknis di bawahnya meliputi dari berbagai unsur, seperti, TNI, Polri, BPDAS, BPBD Kulonprogo, Kodim Kulonprogo, Fakultas Kehutanan UGM, BBWS PUPERA, BPBD Yogyakarta.

sebagainya yang bisa terlibat. Sesuai kesepakatan, sebagai operasional taktis di lapangan akan dibagi menjadi 7 sektor di mana pada tiap sektor semua melibatkan masyarakat termasuk tokoh-tokoh kunci dari daerah-daerah yang telah berhasil menerapkan vegetasi di tepi pantai. Misalnya tokoh-tokoh dari komunitas di Banyuwangi dan Kebumen.

Langkah selanjutnya ialah membuat perencanaan penanaman vegetasi dengan pembuatan layer berdasarkan jenis tanaman yang dapat hidup di sepanjang pantai kawasan NYIA, seperti tanaman pinago untuk layer pertama, kemudian layer kedua tanaman cemara udang, dan layer ketiga tanaman pule.

Perencanaan tersebut segera diselesaikan dalam waktu dua minggu ke depan dikoordinir oleh Universitas Gadjah Mada.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Sedangkan sebagai mekanisme perawatan dan pengairan untuk wilayah pesisir, tim teknis akan membuat sumur bor, pompa dan truck tangki untuk mengairi tanaman. Sehingga sabuk pantai vegetasi alami dapat menjadi pengaman dan mengurangi risiko bencana di NYIA. [KRS]