RMco.id  Rakyat Merdeka - Nahdlatul Ulama (NU) akan mendapat kucuran dana dari pemerintah sebesar Rp 1,7 triliun untuk pembiayaan usaha ultra mikro. 

Muhammadiyah yang tidak mendapatkan hal serupa, mengaku tidak iri dan dengki. Soal dana Rp1,7 triliun untuk NU di sampaikan Ketum PBNU, KH Said Aqil Siradj, saat menerima kunjungan Menkeu, Sri Mulyani, di Markas PBNU, Jakarta, pekan kemarin. 

Proses pengucuran ini sempat berbelit-belit. Namun, tahun ini dipastikan cair. Kondisi ini membuat Kiai Said bahagia. Saat menerima Sri Mulyani, senyum lebar mengembang di wajah nya. Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, mengatakan, pihaknya tidak mendapat program serupa dari Menkeu. 

Namun, guru besar sosiologi agama UIN Bandung ini memastikan, Muhammadiyah tidak iri ke NU.“Kami Tidak iri. Silakan saja. Karena kami bergerak sesuai dengan ke mampuan kami sendiri,” kata Dadang, kemarin. 

Dadang menjelaskan, Muhammadiyah punya tiga lembaga untuk membantu masyarakat kurang mampu. Tiga lembaga itu adalah Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana, dan Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu).

Tiga lembaga tersebut fokus membantu masyarakat memberdayakan petani nelayan dan pedagang kecil. “Kami punya program sendiri dari kas sendiri,” ujarnya. 

Baca Juga : Hari Ini Nambah 1.462 Orang, Jatim Juara Lagi

Apa tidak mau minta bantuan pemerintah? Dadang menjelaskan, Muhammadiyah memiliki prinsip memberi dan melayani, bukan meminta.Dengan prinsip itu, Muhammadiyah dapat memberi sumbangsih dalam memajukan Indonesia. 

“Kami tidak minta karena takut mengganggu program pemerintah. Kami menunggu saja. Kalau dikasih syukur, kalau enggak tidak apa-apa,” ujarnya. 

Kata dia, Muhammadiyah punya banyak program pemberdayaan masyarakat. Pelayanan rumah sakit, panti asuhan, sekolah, termasuk bantuan untuk usaha ultramikro. 

Hal senada disampaikan Sekretaris Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Mukhaer. Dia bilang, Muhammadiyah sama sekali tidak iri dengan apa yang didapat NU. Amal usaha yang dijalankan Muhammadiyah sudah cukup untuk menghidupi persyarikatan. 

Mukhaer menjelaskan, sampai saat ini, pihaknya belum ada kesepakatan dengan Kemenkeu untuk menyalurkan program pembiayaan ultra mikro. 

Meski begitu, ada satu pengurus daerah di Lampung yang mendapat kucuran dana program tersebut dari Kemenkeu. Nilainya di bawah Rp 10 miliar. 

Baca Juga : Selain Pegawai dan Pimpinan, KPK Juga Lakukan Tes Swab 50 Tahanan

Selebihnya, Kata Mukhaer, Muhammadiyah mengandalkan koperasi, yakni Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) untuk membantu dan memberdayakan masyarakat. Setiap amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah juga memiliki koperasi. 

Ada simpanan wajib, simpanan pokok, dan sebagainya. Lewat koperasi itu, Muhammadiyah bisa membiayai usahanya sendiri. Bantuan dari pemerintah dianggap sebagai pelengkap. Tanpa bantuan dari pemerintah, amal usaha Muhamma diyah masih bisa hidup. 

“Malah ada yang berprinsip, sebisa mungkin menghindari bantuan lantaran khawatir melemahkan,” kata Mukhaer, tadi malam. 

Diakui Mukhaer, pihaknya menjalin kerja sama dengan pemerintah. Misalnya dalam penyaluran kredit usaha rakyat. Muhammadiyah juga menjalin kerja sama dengan BTN dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Prinsipnya adalah pendekatan ekonomis. 

Mekanisme ekonomi. Bukan politis. Apakah ingin mendapatkan dana yang sama dari Kemenkeu seperti yang dikucurkan kepada NU? Mukhaer menilai, program ultra mikro dari Kemenkeu itu belum matang. Mekanismenya belum jelas. Beda dengan KUR yang disalurkan lewat bank. 

Ia khawatir, kerja sama dalam penyaluran ini dianggap macam-macam. “Kami hati-hati sekali soal ini. Mungkin belum. Pengurus pusat belum me rekomendasikan. Kami mencari yang mekanisme ekonomi bukan politis,” ujarnya

Baca Juga : Tito: Jangan Pilih Cakada yang Bikin Konvoi dan Iring-iringan di Tengah Pandemi

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Sri Mulyani, Kiai Said mengaku gembira. Dia bilang, NU sudah lama menunggu kedatangan Sri Mul. 

Pertemuan itu menghubungkan kembali komunikasi yang sempat vakum, macet, dan seakan hilang. Kiai Said menyebut Sri Mul kini sudah satu frekuensi. 

“Sekarang sudah nyambung lagi dan sama-sama punya komitmen, punya niat peduli dengan masyarakat kecil,” ucapnya. 

Mendengar itu, Sri Mul yang mengenakan kerudung coklat muda, hanya mesam-mesem sambil mengangguk-ngangguk. Kiai Said menyebut, NU bersungguh-sungguh ingin memerhatikan masyarakat yang berada di garis kemiskinan yang di antaranya merupakan warga Nahdliyin. [BCG]