Kasus Suap Komisioner KPU

Ketua KPU Arief Budiman Siap Jawab Pertanyaan Penyidik

Ketua KPU, Arief Budiman (Foto: Tedy Kroen/RM)
Klik untuk perbesar
Ketua KPU, Arief Budiman (Foto: Tedy Kroen/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (28/1).

Arief akan menjalani pemeriksaan, terkait kasus dugaan suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024, yang menjerat eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan dan sejumlah kader PDIP.

Arief yang tiba di kantor komisi antirasuah pukul 10.13 WIB, menyatakan siap menjawab semua pertanyaan penyidik KPK.

Berita Terkait : KPK Cecar Ketua KPU Soal Hubungannya dengan Harun Masiku

"Saya nggak tahu kan pertanyaan penyidik apa. Pokoknya, semua pertanyaan saya jawab," tutur Arief di Gedung Merah Putih KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (28/1).

20 menit sebelumnya, Komisioner KPU Viryan Azis telah lebih dulu tiba di KPK. Dia mengaku siap memberikan penjelasan kepada penyidik KPK, terkait penetapan Anggota DPR PAW yang kini menjadi kasus rasuah.

"Yang akan disampaikan, sesuai dengan apa yang sudah kami kerjakan. Perihal penetapan calon terpilih, kemudian seputar pergantian antar waktu, yang sudah kami kerjakan kemarin," ujar Viryan.

Berita Terkait : KPK Periksa Ketua KPU Arief Budiman

Dua komisioner KPU itu akan menjalani pemeriksaan untuk tersangka Saeful Bahri.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka adalah Komisioner KPU Wahyu Setiawan, mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu: Agustiani Tio Fridelina, Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari PDIP Harun Masiku, dan pihak swasta bernama Saeful.

Wahyu dan Agustiani ditetapkan sebagai pihak penerima suap. Sedangkan Harun dan Saeful merupakan pihak yang memberikan suap.

Berita Terkait : Komisioner KPU Bantah Diajak Ngomong

Wahyu disebut meminta fee Rp 900 juta untuk meloloskan Harun Masiku sebagai anggota DPR, pengganti Nazarudin Kiemas yang telah meninggal dunia. Harun sendiri, sampai kini masih buron.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap, disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999. Sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara, Harun dan Saeful yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999. Sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. [OKT]