Tahu Harun Di Sekitaran PTIK, Tapi Benarkan Info Harun Di Singapura

KPK Main Drama?

Gedung KPK. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Gedung KPK. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sikap KPK yang mengakui Politisi PDIP Harun Masiku ada di PTIK, tapi membenarkan info dia di Singapura saat OTT Komisioner KPU Wahyu Setiawan terkait suap Pergantian Antar Waktu (PAW), dipertanyakan banyak pihak. KPK pun disebut sedang bermain drama.

Plin­-plannya sikap KPK terkait keberadaan Harun disorot politikus Demokrat, Jansen Sitindaon. Dia mempertanyakan pernyataan komisi antirasuah itu yang mengamini Harun ada di luar negeri saat Ott Wahyu Setiawan cs. 

“Akhirnya hari ini @KPK_RI mengakui Harun Masiku ada di sekitar PTIK tanggal 8 Januari. Artinya dia ada di Indonesia Pertanyaannya kemudian: mengapa tanggal 13 Januari KPK masih mengatakan Masiku ada di Luar Negeri? Padahal dengan mata kepala sendiri sudah melihat dia ada di Jakarta tanggal 8 itu?” tanya Jansen lewat akun Twitternya. Dia menyertakan tautan link berita soal pernyataan Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron yang menyebut Harun di luar negeri.

Guru Besar Politik UI Prof Budyat­na menilai, Firli cs tengah main drama. “KPK seperti sedang main drama. Bilang tahu Harun Masiku ada di PTIK, tetapi juga benarkan info sesat soal keberadaannya di Singapura,” ujar Budyatna.

Berita Terkait : KPK Tak Menakutkan Lagi

Menyindir, Budiyatna bilang, drama “pemukulan” ratna Sarumpaet yang bikin heboh se-­Indonesia pun kalah “rating” dengan drama Harun Masiku­nya KPK. “Meski sutradaranya amatir banget, alur ceritanya jelek, dan ske­narionya kayanya mudah ditebak,” selorohnya.

Koordinator Masyarakat Anti Ko­rupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman mengamininya. “KPK bermain drama yang tidak apik, tidak realistis, murahan, picisan. Jauh lebih menarik drama korea,” tuturnya sam­bil menambahkan ikon senyum. “Hei KPK, berhentilah main drama”.

Boyamin mengingatkan, jika tidak berhenti, maka kisah drama Hamlet bisa menimpa para punggawa KPK; semua gugur akibat drama yang mereka mainkan sendiri. “Kalian berusaha menutupi ketidakberanian dengan main retorika dan main drama. Siapa yang bermain dalam perkara ini maka akan tertusuk sendiri dan akan jatuh dari jabatannya,” wanti­ Boyamin.

Dikonfirmasi soal itu, Ali Fikri serta empat pimpinan KPK; Firli Bahuri, Nawawi Pomolango, Nurul Ghufron, dan Lili Pintauli tak merespon pesan singkat yang dikirimkan Rakyat Merdeka.

Berita Terkait : Sebulan Buron, Harun Masiku Terus Diburu

Terpisah, Kepala Bagian Penerangan Umum Masyarakat (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adi Saputra meminta, kepada seluruh pihak untuk tidak berandai-­andai terkait dengan keberadaan Harun Masiku. “Kita jangan berspekulasi. Tentunya kita tunggu,” tegas Asep di Gedung Humas Polri, kemarin.

Untuk diketahui, kabar keberadaan Harun Masiku di PTIK sudah santer beredar pada malam hari usai tangkap tangan Wahyu Setiawan cs pada 8 Januari lalu. Kabarnya pula, Harun di kampus korps baju cokelat itu bersama Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Informasi yang diterima wartawan, tim KPK gagal menangkap Harun di sana lantaran “dicegah” anggota kepolisian. Tim komisi pimpinan Firli Bahuri cs ini diinterogasi dan disuruh menjalani tes urine. 

Keesokan harinya, sembari mengumumkan penetapan tersangka kasus itu, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli tak mengonfirmasi soal keberadaan Harun dan Hasto. Senin (13/1), Ditjen Imigrasi Ke­ menkumham menyatakan, Harun ter­bang ke Singapura pada 6 Januari, atau dua hari sebelum KPK menangkap tangan Wahyu cs. Belum ada data Ha­ run sudah kembali ke Tanah Air. Pada hari yang sama, Waka KPK Nurul Ghufron membenarkan informasi tersebut.

“Info yang kami terima malah me­mang sejak sebelum adanya tangkap tangan yang bersangkutan (Harun Ma­siku) memang sedang di luar negeri,” ujar Ghufron. Keesokan harinya Ketua KPK Firli Bahuri juga menyatakan hal serupa; berdasarkan info dari Kemenkumham, Harun Masiku sudah bertolak ke luar negeri sejak 6 Januari.

Berita Terkait : Kaburnya Harun Masiku, KPK Salahkan Imigrasi

Hal itu kemudian diralat istri Harun, Hildawati Jamrin. Dia memang mem­benarkan suaminya terbang ke negeri singa 6 Januari. Namun keesokan harinya, Harun disebut sudah kembali ke Indonesia.

Belakangan Plt Jubir KPK, Ali Fikri mengakui, 8 Januari, penyelidik komisi antirasuah mendeteksi keberadaan Harun di PTIK. “Malam itu (Harun) diduga berada di Kebayoran Baru, sekitaran PTIK, sehingga tim penyelidik bergerak ke arah posisi tersebut,” ujar Ali. [OKT]