Wabah Anthrax di Gunung Kidul Dinyatakan Terkendali Sesuai Standar

Ketua Komisi IV DPR Sudin (kanan), Wakil Ketua Budisatrio Djiwandono (tengah), dan Bupati Gunung Kidul Badingah saat memantau pengendalian anthrax di Gunung Kidul. (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Ketua Komisi IV DPR Sudin (kanan), Wakil Ketua Budisatrio Djiwandono (tengah), dan Bupati Gunung Kidul Badingah saat memantau pengendalian anthrax di Gunung Kidul. (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengendalian anthrax di Gunung Kidul telah sesuai standar dan saat ini situasinya sudah terkendali. Hal itu dinyatakan saat kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR di Kabupaten Gunung Kidul, Jumat (31/1).    

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR, G Budisatrio Djiwandono, kedatangannya ingin mencari informasi lebih rinci terkait situasi dan pelaksanaan program pengendalian anthrax di Gunung Kidul. Selanjutnya, dicarikan solusinya bersama.      

Bupati Kabupaten Gunung Kidul, Badingah, menyampaikan bahwa saat ini situasi anthrax sudah terkendali. Hal ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat, TNI/POLRI dan Kementan dalam pelaksanaan kegiatan pengendalian.       

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, sejak adanya kasus anthrax pada akhir Desember 2019, jumlah positif adalah enam kasus, yakni tiga kasus pada kambing, dua kasus pada sapi yang berasal dari dari Dusun Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Kecamatan Pojong, dan satu kasus lain terjadi pada sapi dari Dusun Janglot, Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop.     

Berita Terkait : Kemenag Pantau Jemaah Umroh yang Tertahan di Bandara

Terkait kematian ternak mencapai 79 ekor sapi dan kambing, berdasarkan hasil pemeriksaan dan investigasi tim dinas dan Balai Besar Veteriner Wates, enam kasus adalah akibat anthrax. Sedangkan sisanya bukan merupakan kasus anthrax. Kematian ternak ini lebih banyak disebabkan keracunan akibat pakan, pneumonia, kecelakaan, dan beberapa penyebab lain.         

Untuk pengendalian anthrax di Gunung Kidul, di dusun tertular sudah dilakukan desinfeksi. Sebanyak 2.695 ekor sapi dan 6.295 ekor kambing telah diberikan antibiotik dan vitamin. Ada pun kegiatan vaksinasi masih terus dilanjutkan sesuai jadwal dan telah mencapai 446 ekor sapi dan 1.096 kambing.      

Pelaksanaan pengendalian lain yang dilakukan adalah pengawasan lalu lintas serta penguatan koordinasi dan kerja sama lintas sektor. Khususnya antara kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat dengan pendekatan one health mengingat anthrax merupakan zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.       

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, melalui pesannya kepada Direktur Kesehatan Hewan menyampaikan bahwa anthrax adalah penyakit yang dapat dikendalikan melalui vaksinasi yang rutin dan terencana. Untuk itu program vaksinasi menjadi prioritas yang harus dilakukan oleh Dinas Peternakan setempat.      

Berita Terkait : Cegah Penyebaran ASF, Kementan Minta Pengawasan Lalu Lintas Babi Diperketat

"Saat ini sudah tidak ada lagi kasus anthrax pada hewan, dan masyarakat yang diduga tertular anthrax sudah diobati dan sembuh," ucapnya. 

Ketua Komisi IV DPR, Sudi, meminta agar Kementan dapat membantu mengurangi dampai sosial dari kasus anthrax ini. Caranya dengan memberikan bantuan ternak bagi masyarakat yang ternaknya mati, serta memberikan fasilitasi pembangunan rumah potong hewan (RPH) untuk memastikan pengawasan pemotongan ternak bisa berjalan baik.       

Hal tersebut disambut baik oleh Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian, sebagai ketua rombongan Kementan, dan Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Fajar yang menyampaikan bahwa pada prinsipnya hal tersebut dapat difasilitasi dengan pengajuan proposal dari pemda.       

Lebih lanjut Fadjar menjelaskan bahwa Kementan telah memberikan bantuan langsung untuk pengendalian anthrax di Gunung Kidul ini, baik berupa pendampingan Balai Besar Veteriner Wates (BBVet Wates) dalam investigasi dan pemeriksaan sampel, maupun bantuan berupa 5.000 dosis vaksin, 80 liter disinfektan, 232 botol antibiotik, 24 botol vitamin, 15 unit spryer, dan 50 paket alat pelindung diri (APD/PPE) langsung dari Ditjen PKH.       

Berita Terkait : Pasokan Cabe Lancar, Stok Aman Sampai Idul Fitri

Fadjar juga menegaskan pentingnya kerjasama antara kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat dalam kerangka one health untuk pengendalian anthrax. Ia mengambil contoh sudah berjalannya kerjasama surveilans antara BBVet Wates, Kementan dengan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP), Kemenkes. Menurutnya, di Gunung Kidul, aspek-aspek teknis pengendalian yang sudah dijalankan dengan baik. [KAL]