Jadi Sekjen PMI, Sudirman Said Anggap sebagai Ladang Amal

Sudirman Said (Grafis: Iyong/RM)
Klik untuk perbesar
Sudirman Said (Grafis: Iyong/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla melantik jajaran kepengurusan PMI untuk masa bakti 2019-2024. Terdapat sejumlah tokoh nasional. Salah satunya mantan Menteri ESDM, Sudirman Said. Ia mendapat mandat sebagai Sekjen PMI.      

“PMI adalah ladang amal yang luas. Tempat kita dapat membantu sesama dalam prinsip kesetaraan, kesamaan, kenetralan, kesatuan, dan kesemestaan,” ujar Sudirman.        

Sebelum di PMI, Sudirman pernah aktif di beberapa kegiatan kemanusian. Seperti pada proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias pasca-tsunami 2004 dan aktif di Forum Indoensia Damai 2001 bersama tokoh lintas agama. Ia juga berada di balik Gerakan Indonesia Mengajar, menggulirkan gerakan Patriot Energi Tanah Air (PETA), mendirikan Institut Harkat Negeri (IHN) pada 2016.       

Lantas apa saja yang akan dilakukan Sudirman Said di tubuh PMI? Apakah ada terobosan yang akan dilakukannya mengingat Indonesia memiliki potensi bencana yang beragam? Berikut penuturan selengkapnya:    

Apa perasaan Anda ditunjuk sebagai Sekjen PMI?      

Saya bersyukur diberi kepercayaan. Ini peran yang saya syukuri, karena PMI mengemban misi kemanusian yang sangat luhur, baik untuk kita kerjakan. Jadi saya berterima kasih telah dipercaya untuk tugas ini. Hal ini mungkin bukan hal yang baru bagi saya, karena pernah terlibat oeprasi kemanusian saat tsunami di Aceh, operasi kemanusian hampir empat tahun.      

Berita Terkait : KPK Main Drama?

Boleh tahu proses hingga Anda terpilih menjadi Sekjen PMI?      

Prosesnya seperti apa saya tidak tahu, karena saya baru pertama kali jadi pengurus jadi sama sekali tidak tahu. Namun secara formal yang saya tahu bahwa ada formatur setelah kongres PMI tahun 2019 dan formatur itu kan tugasnya mengemban tugas. Mungkin saja tokoh-tokoh senior seperti pak ketua umum merekomendasikan, namun kan keputusannya itu pada formatur.      

Bagaimana Anda melihat PMI saat ini?

Interaksi saya dengan PMI boleh dibilang intens itu saat Pak Mar'ie Muhammad menjadi ketua. Kala itu, saat Aceh tsunami. Dari waktu ke waktu, PMI mengalami kemajuan. Lebih profesional, lebih kuat secara organisasi, yang terpenting adalah kepercayan publik dan kepercayaan dari mitra-mitra asing. Saya yakin ini organisasi kridibel, kuat, reputasi yang baik. Tinggal dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan atau kebaikan-kebaikan.      

Program kerja apa saja yang akan Anda lakukan?

Kemarin baru rapat pengurus perdana. Dari rapat pengurus, harapan Pak JK itu yakni saya ditugasi untuk mendorong, memodernisasi PMI, memodernisasi organisai ini maknanya bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mengurus kegiatan-kegiatan utama PMI.      

Baca Juga : Kapan Virus Corona Wafat? Wallahualam

Memang kegiatan utama dari PMI apa saja?

Pertama, penyedia anggaran. Kedua, urusan pengelolaan kebencanaan. Ketiga, bagaimana menkoordinisir dan menggerakan relawan. Selebihnya konflik segala macam. Jadi ini akan ditata sedemikian rupa menuju peningkatan organisasi yang lebih modern dengan teknologi informasi. Tapi pak Menkes juga wanti-wanti agar menggerakan lebih banyak kesukarelawanan. Makanya di kita ini ada tiga level, pertama ada Tenaga Sukarelawan (TSR) yang profesional, kedua Korps Sukarelawan (KSR) yang biasa di mahasiswa, ketiga ada Palang Merah Remaja (PMR).       

Sejauh ini, bagaimana ketertarikan masyarakat untuk menjadi relawan PMI?

Trendnya semakin membaik. Jumlah relawan semakin meningkat. Oleh karena itu harus diperkuat secara pengelolaannya di dalam organisasi PMI. Karena relawan ini harus punya kejelasan bagaimana perekrutannya, bagaimana patihannya, bagaimana mobilisasinya.      

Strategi Anda untuk menaikkan jumlah relawan seperti apa?

PMI itu seperti dua tangan. Satu tangan di atas, satu di bawah. Terhadap kepada para relawan atau pendonor, kita bersikap tangan di bawah, meminta ketersedian mereka. Tapi terhadap korban bencana, terhadap korban kesulitan itu tangan kita di atas. Kuncinya adalan sosialisasi, publikasi dan ajakan dari PMI untuk merekrut sebanyak mungkin relawan.       

Baca Juga : Bos BPIP Takut Seperti Keledai

Mengenai kualitas dan kemampuan dari relawan sendiri bagaimana?

Memberikan pelatihan, pendidikan terus secara terus menerus, kerjasama tim mobilisasi. Sehingga ada perasaan pencapain bersama. Itu pelaksanaan paling depan di daerah-daerah. Di pusat dilakukan policy-policy, kemudian kerjasama dengan provinsi dan kabupaten untuk relawan itu.Tapi kuncinya ya sosialisasi, perekrutan, secara berkelanjutan mengelola relasi atau jaringan relawan itu. Makanya diperlukan sistem informasi, teknologi yang baik dengan relawan itu.    

Sebenarnya apa saja kendala yang dihadapi oleh PMI?

Saya rasa bukan kendala, namun tantangan ya. Indonesia ini wilayahnya sangat luas. Tidak banyak negara sebesar dan sekompleks kita. Baik dari segi geografis, jaraknya, keragaman infrastruktur dan segala macam. Negara kita juga memiliki potensi bencana besar sekali. Paling rumit dan paling lengkap. Ada gempa bumi, gunung meletus banjir dan lainnya. Jadi tantangannya lebih kepada besarnya ukuran dan tingginya kompleksitas. Oleh karena itu, ruang improvenya selalu besar. Selalu ada ruang perbaikan untuk mengelola kerelawanan ke depan.       

Sepertinya itu akan menjadi tema modernisasi. Termasuk modernisasi unit transfusi. Itu akan diulang-ulang. Lalu komunikasi sebagai bentuk pertanggungjawaban dan juga cara mengajak partisipasi untuk membangun kerelawanan, baik itu urusan donor atau kerja-kerja kemanusian di semua level. Baik dari PMR, KSR, maupun TSR. [NNM]