RMco.id  Rakyat Merdeka - Enak sekali jadi Harun Masiku. Meski sudah menjadi tersangka suap Pergantian Antar Waktu (PAW) dan buron, KPK belum juga memblokir rekeningnya. Kader banteng ini pun masih bisa shopping alias belanja.

Plt Jubir KPK, ali Fikri menyebut, hanya rekening eks komisioner KPU Wahyu Setiawan yang diblokir. Sedangkan rekening Harun, tidak. Rekening Wahyu diblokir lantaran menerima suap dari harun sekitar Rp  400 juta.

“Dalam proses lain, ketika tindak pidana suap, bisa dikembangkan secara langsung apa kah si penerima ini ada penerimaan lain sehingga kan kemudian dilakukan pemblokiran,” ujar Ali.

Sementara rekening Harun tidak di blokir lantaran dianggap sudah selesai ketika uang suap beralih ke Wahyu. Berdasarkan konstruksi perkara, Ali mengatakan, yang menjadi fokus utama adalah penerima bukan pemberi suap.

“Konstruksi perkaranya kan memang demikian. Pemberi itu selesai ketika uangnya sudah beralih, Jadi otomatis halhal lain seperti penyitaan aset dan pemblokiran rekening tidak menjadi fokus,” ujarnya.

Berita Terkait : KPK Diketawain

Ali memang berhati-hati saat ditanya soal pemblokiran rekening Harun pada Senin (3/2) lalu. Dia tak menjawab gamblang. Dia hanya menyebut, penyi dik dipastikan telah melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan para tersangka.

Termasuk, mengamankan benda, aset, dan apapun yang berhubu ngan langsung dengan rangkaian per buatan dengan para tersangkanya.

“Jadi rekeningnya Harun diblokir atau tidak?” tanya wartawan, meminta penegasan. Ali menolak menjawab. “Itu tidak bisa kami sampaikan,” jawabnya saat itu. Ali beralasan, jika di ungkap, dikhawatirkan penyidikan ti dak berjalan semestinya.

“Ada strategi yang tidak perlu ka mi sampaikan ke teman-teman atau masyarakat,” elaknya. Akibat penjelasan ngambang itu, akhirnya sejumlah media menafsirkan KPK telah memblokir rekening Harun.

Pemblokiran rekening merupakan kewenangan penyidik. Dalam UU KPK lama, hal tersebut bisa dilakukan berdasarkan Pasal 12 ayat 1 UU/30/2002 Tentang KPK. Pasal itu berb unyi, KPK memiliki kewenangan untuk memblokir aset seorang tersangka.

Berita Terkait : KPK Perpanjang Masa Cegah Harun Masiku

Dalam beberapa kasus, pihak penyuap juga diblokir rekeningnya. Salah satu contohnya, Johannes B. Kotjo, bos Blackgold Natural Recourses Limi ted yang menyuap mantan Wakil Ke tua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham terkait proyek PLTU Riau1.

Penyidik KPK memblokir empat rekening pribadinya, serta lima rekening rekening atas nama James Rianto selaku Direktur PT Samantaka Batu bara.

PT Samantaka Batubara adalah anak perusahaan BNR. Contoh lain, eks Bendum Demokrat M. Nazaruddin. KPK memblokir banyak rekening yang di duga terkait dengan Nazar saat dia melarikan diri ke luar negeri pada 2011.

Selain itu, KPK juga membekukan aset sejumlah perusahaan Nazaruddin baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Pembekuan dilakukan terhadap sejumlah aset perbankan dan nonperbankan milik Nazar, seperti perusahaan, rumah dan sebagainya.

Netizen alias warganet menilai perlakuan KPK terhadap Harun, istimewa. “Istimewa. Itu buronan apa me mang sengaja disuruh jalanjalan ya?” cuit @eddycaksby. “Jadi makin penasaran sepenting apa sih harun masiku di negeri ini?” sambar @Andre_Rohman.

Berita Terkait : Masih Banyak Yang Cari-cari Kesalahan Novel Baswedan

Akun @admbol gregetan dengan KPK. “Ngapain ribet ngeluarin pengumuman DPO kalau rekening aja gak berani blokir?” protesnya. “Hehehe... KPK sayang banget sama si harun,” timpal @Tukangsayur2019.

Sementara netizen lain mencuit dengan kelakar yang menyindir. “Ya udah bagus KPK, Harun masih bisa shopping selama buron,” cuit @fathur doaibu. Cuitan ini ditanggapi @satlatif. “Sudah betul Sangat manusiawi sekali. Belum kalau harus gofood dan pesen kamar hotel,” komentarnya.

Tetapi, ada juga yang berpendapat, ini adalah strategi KPK untuk menemukan Harun. “Sst... Jangan suudzon dulu, mungkin ini strategi Jitu KPK melacak keberadaan HM. Jadi tau klo HM posisi lagi di ATM mana langsung bisa dikejar... Pas KPK sampe ATM, dah pergi si HM nya. Akhirnya KPK berkelana dr 1 ATM KE ATM lainnya,” cuitnya setengah berkelakar. [OKT]