RMco.id  Rakyat Merdeka - SBY memberi restu ke Demokrat Solo mendukung pencalonan putra Jokowi, Gibran Rakabuming maju di Pilkada Solo, 2020. Kalau SBY saja sudah begitu sayang ke Gibran, lalu kapan Jokowi akan angkat Agus Harymurti Yudhoyono (AHY) di kabinet ya...

Ketua DPC Demokrat Solo, Spriyanto mengatakan, sejak awal memang ingin mendukung Gibran. Namun, dukungan itu tak kunjung dideklarasikan karena belum mendapat restu SBY selaku Ketum. Ia kemudian melaporkan perihal dukungan itu ke DPD Demokrat Jawa Tengah, yang kemudian disampaikan ke DPP dan disetujui.

“Sekarang dukungan Demokrat kepada Gibran sudah resmi. Ketum sudah memberi restu dan DPP sudah mengeluarkan instruksi jelas untuk mendukung Gibran. Kami harus mematuhinya,” kata Supriyanto, kemarin.

Dia bilang, dia sudah mensosiali­sasikan instruksi itu kepada pengurus dan kader. Menurut dia, pesan dari SBY sifatnya mengikat bagi pengurus dan kader. “Jadi semua wajib mendukung. Jika tidak risikonya sanksi berupa peme­ catan,” ujarnya.

Apa bentuk dukungannya? Dia bi­lang, dukungan yang diberikan di luar legislatif. Mengingat partai berlambang Mercy ini tak memiliki satu kursi pun di DPRD Kota Solo. Meski begitu, Demokrat yakin, bisa memberikan sumbangan suara untuk Gibran. Dalam Pileg Solo, Demokrat berhasil meraup sekitar 9 ribu suara. “Di Pilkada nanti, kami bisa maksimalkan sampai 15 ribu suara,” janjinya.

Baca Juga : Naik Tipis, Utang Luar Negeri Tembus Rp 5.963,5 T

Apakah motif dukungan itu? Supri­yanto mengatakan, dukungan itu dibe­rikan tanpa syarat. Ia berharap, Gibran bisa menajalankan program pemerintah dengan lebih efektif. “Kami memang ingin sebuah pemerintah yang fresh,” ungkapnya.

Ketua DPP Demokrat, Herman Khaeron membenarkan soal dukungan itu. Kata dia, dalam pembicaraan SBY memang sudah memberikan restu untuk mendukung Gibran. Dukungan terhadap putra sulung Jokowi itu hanya tinggal menunggu surat rekomendasi yang terbit awal Maret nanti. “Tunggu saja setelah surat rekomendasi terbit,” kata Herman, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Gibran mengapresiasi, dukungan Demokrat. Namun, suami Selvi Ananda ini tak mau menyambut secara ber­lebihan. Pasalnya, ia masih menunggu rekomendasi dari PDIP. “Tunggu reko­mendasi dulu, baru bisa melangkah menindaklanjuti dukungan dari Demo­krat,” kata Gibran.

Langkah Gibran di Pilkada Solo memang sedikit berliku. DPC PDIP Solo merekomendasikan pasangan Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa. Purnomo saat ini menjabat Wakil Wali­ Kota Solo, sedangkan Teguh merupakan Sekretaris DPC PDIP Kota Solo. Gibran kemudian mendaftar lewat DPD PDIP Jawa Tengah.

Namun hingga kini, PDIP belum memutuskan siapa yang akan maju di Solo. Sembari menunggu keputusan, Gibran makin sering blusukan untuk menggaet hati warga Solo. PDIP sepertinya masih mencari jalan tengah. Awal pekan kemarin, DPP menemui pengurus DPD dan anggota Fraksi PDIP DPRD Solo.

Baca Juga : Pilkada Solo, Banteng Jagokan Gibran-Teguh

Bagaimana tanggapan PDIP terkait dukungan Demokrat ke Gibran? Ketua DPP PDIP, Djarot Saeful Hidayat mengatakan, sah­-sah saja. Hanya saja, dia minta, untuk menunggu karena proses pengusungan calon masih pan­jang di PDIP. 

Mantan Wali Kota Blitar itu mengatakan, DPP sudah melakukan pertemuan dengan pengurus DPC Solo. Apa hasilnya? Djarot tidak merinci. “Inti­nya partai kita masih solid,” kata Djarot, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Djarot tak mau berspekulasi. Yang jelas, kata dia, kekuatan PDIP di Solo sudah cukup untuk mengusung calon sendiri. PDIP punya 30 kursi dari 45 kursi di DPRD Solo. Atau sekitar 60 pe­rsen. Sementara Demokrat tidak memiki satu kursi pun. “Artinya PDIP cukup untuk maju sendiri,” ujarnya.

Apakah akan ada balas budi dari PDIP atas dukungan itu. Djarot bilang, partainya tidak pernah memikirkan hal itu. “Kalau mau dukung silakan dukung. Kalau ada syarat macam­-macam PDIP tidak mau,” ujarnya.

Dukungan Demokrat itu mendapat ragam tanggapan di linimasa Twitter. Ada yang bilang hanya gimmick, ada yang menganggapnya serius. Pemilik akun @WisnuRamadi menilai, manuver Demokrat ini adalah cara SBY mendekati dan diperhatikan Jokowi. Suara Jokowi dianggap ampuh untuk meredakan ketegangan Demokrat dengan PDIP. Dengan begitu, AHY bisa mendapat tempat di pemerintahan. Ada juga yang menilai Demokrat sedang memancing di air keruh. “Demokrat mau obok­-obok banteng ya?” timpal @dwi02.

Baca Juga : Menaker Ida Fauziyah Raih Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari IPDN

Pengamat politik, Karyono Wibo­wo menilai, Demokrat mencoba me­manfaatkan situasi yang terjadi di Solo. Bahwa PDIP, saat ini masih alot dalam memutuskan calon yang akan diusung. Masih ada tarik menarik di PDIP. DPC masih keukeuh ingin mengusung pasangan Achmad­Teguh. 

“Situasi ini secara politik di manfaat­kan Demokrat untuk mencuri start memberikan remkomendasi kepada Gibran,” kata Karyono kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Dukungan Demokrat itu tentu sebuah keuntungan bagi Gibran. Hanya saja tidak besar mengingat suara Demokrat di Solo sangat kecil. Menurut dia, Gibran tentu masih berharap dengan PDIP. “Tapi paling tidak, dukungan Demokrat itu menaikkan daya tawar Gibran. Bahwa ada banyak partai yang ingin mendukung dan mengusungnya. Ini memperkuat daya tawar,” ujarnya.

Apakah upaya ini cara SBY menarik perhatian atau membangun hubungan baik dengan Jokowi? Karyono bilang spekulasi itu terlalu jauh. Daya tawar De­mokrat terlalu kecil. Soalnya Demokrat posisi tawarnya sangat kecil. [BCG]