Mata Kiri Novel "Almarhum"

Dua Polisi Penyiram Ini Pantasnya Dihukum Apa

Dua tersangka penyerang Novel saat diperlihatkan ke publik di Polda Metro Jaya.
Klik untuk perbesar
Dua tersangka penyerang Novel saat diperlihatkan ke publik di Polda Metro Jaya.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mata kiri Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan dipastikan ‘almarhum’ alias tidak dapat melihat lagi karena disiram air keras. Mata kanannya juga tidak bisa melihat dengan sempurna. Kasian Novel, sementara dua polisi penyiramnya, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis diprediksi akan lebih bernasib tak separaha Novel. Diprediksi maksimal hanya dipenjara 12 tahun.

Kenyataan pahit yang dialami Novel itu diungkapkan Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri. Menurut dia, hasil pemeriksaan terakhir pada 5 Februari 2020 di Singapura, tim dokter yang selama ini menangani mata Novel menyatakan kondisi mata kiri Novel, tidak dapat diperbaiki lagi. "Karena kerusakan sebagian besar retina," ujar Ali, Jumat kemarin.

Ali menyampaikan, kondisi terakhir mata kiri Novel hanya dapat melihat cahaya. Dia harus membutuhkan perawatan dan kontrol dokter yang berkelanjutan untuk mencegah infeksi yang mungkin akan timbul kembali, sehingga menyebabkan diangkatnya bola mata kiri secara keseluruhan.

Sementara itu, kondisi mata kanan Novel masih sama seperti sebelumnya. Kemampuan melihatnya hanya sekitar 60 persen. Itu pun dengan menggunakan lensa khusus. "Mata kanan membutuhkan perawatan berkelanjutan untuk mencegah terjadinya penurunan kemampuan melihat," ungkap Ali.

Berita Terkait : KPK: Mata Kiri Novel Tak Dapat Berfungsi Lagi

Kondisi itu menyebabkan Novel urung mengikuti rekonstruksi terkait perkara penyiraman air keras yang dilakukan terhadapnya Jumat lalu. Ali menyebutkan, Novel telah mengeluhkan penurunan penglihatannya sejak enam bulan terakhir dan kondisi semakin parah dirasakannya sekitar kurang lebih selama satu bulan terakhir ini.

Tim dokter Rumah Sakit Jakarta Eye Center (JEC), Jakarta mendatangi Novel pada 8 Januari 2020 dan diberikan obat. "Kembali menjalani operasi pada 20 Januari 2020 dan dilakukan pemberian injeksi antibiotik serta pengangkatan cairan mata. Pada rentang waktu tersebut, Novel dalam pantauan tim dokter," beber Ali.

KPK pun terus mendorong pengungkapan peristiwa air keras yang menimpa penyidiknya itu. Komisi antirasuah mengharapkan, penuntasan kasus Novel tidak hanya berhenti pada pelaku di lapangan, tetapi juga otak intelektual yang mendalangi penyerangan.

"Penyerangan ini juga telah menjadi perhatian dunia internasional. Untuk itu, Novel diundang untuk menerima penghargaan antikorupsi internasional 2020 dari Perdana International Anti-Corruption Champion Foundation (PIACCF), Malaysia pada Selasa 11 Februari 2020," jelas Ali.

Baca Juga : Sofyan Djalil: Omnibus Law Jalan Keluar Penciptaan Lapangan Kerja

Novel sendiri mengakui, mata kirinya kini permanen tidak bisa melihat lagi. Kondisi matanya itu semakin parah usai menjalani proses pemeriksaan polisi pada Senin (6/2) pekan lalu. Pemeriksaan berlangsung selama 10 jam, sejak dari sekitar pukul 10.20 WIB hingga 20.00 WIB malam.

Novel menyampaikan, mata kanannya kini ikut terdampak. Pasalnya, kondisi kedua matanya itu sensitif sekali dengan cahaya, diduga efek dari mata kirinya. Untuk itu, dia berupaya menjaga matanya dari radiasi cahaya. Bahkan untuk menjaga panca indera penglihatannya itu, dia harus memakai topi dan kacamata. Sebab agar terhindar dari iritasi. Dia pun harus menjaga mata kanannya agar tetap bisa melihat.

Rekonstruksi sendiri tetap dilakukan pada Jumat Subuh. Polda Metro Jaya melakukan 10 adegan dalam proses rekonstruksi selama tiga jam di depan rumah Novel yang berlokasi di Jalan Deposito Blok T Nomor 8, Kelapa Gading, Jakut. Proses rekonstruksi berlangsung tertutup dari media. Wartawan diminta untuk mundur hingga jarak 100 meter dari kediaman Novel. Tak lama, kepolisian kembali meminta awak media untuk mundur hingga di ujung jalan rumah Novel.

Dua tersangka dari kesatuan Brimob bernama Rahmat Kadir dan Ronny Bugis hadir dalam rekonstruksi itu. Keduanya saat ini masih berstatus polisi aktif. Polisi menyatakan status keduanya baru akan diputuskan setelah vonis pengadilan.

Baca Juga : Sensasi Teknologi Perbankan Meriahkan BNI Java Jazz Festival 2020

Dengan "almarhumnya" mata Novel, apakah dua polisi ini pantas dihukum mati? Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menyatakan, dalam hukum kita, tak memungkinkan menjatuhkan hukuman mati kepada keduanya. "Penyiraman mata pasti bukan bertujuan membunuh yang sudah direncanakan sebagaimana rumusan pasal 340 KUHP," ujar Boyamin, semalam.

Pelaku, lanjut Boyamin, jika terbukti bersalah hanya akan bisa dikenakan pasal penganiayaan yang menimbulkan cacat permanen. Hukuman maksimalnya 12 tahun penjara. "Kita sungguh prihatin," tutupnya.

Menurut dia, pelaku bisa dikenakan menghalangi penyidikan jika terbukti bahwa penyiraman adalah untuk mengganggu Novel Baswesan dalam menyidik sebuah perkara korupsi. “Dengan demikian pelaku dapat diberkas dua perkara sehingga nanti akan bisa maksimal penjara 20 tahun,” tukasnya. [OKT]