RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) plin-plan. Komisi antirasuah sempat menyebut Harun Masiku, tersangka kasus suap Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR, ada di Singapura saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan pada 8 Januari lalu.

Kemudian, diralat, disebut bahwa caleg PDIP itu ada di PTIK pada malam tangkap tangan itu. Eh sekarang, KPK malah mengaku tidak bisa memastikan Harun atau bukan yang ada di PTIK.

"Kita belum tahu siapa yang ada di PTIK, kita belum tahu saat itu. Yang jelas yang bersangkutan sampai saat ini keberadaannya tidak atau belum kita ketahui. Kita ke depan kita sudah kerja sama dengan Polri untuk cari yang bersangkutan," Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (14/2).

Alex menegaskan, bakal terus memburu Harun Masiku. KPK sudah membentuk tim satgas khusus untuk memburu caleg PDIP itu. Tapi hasilnya memang masih nihil.

Berita Terkait : Firli, Malu Ya?

"Kita sudah bentuk tim juga satgas khusus, kita sudah keluarkan satgas khusus, kita sudah keluarkan DPO, tapi belum didapatkan," keluhnya.

Alex pun memastikan bakal menjerat pihak-pihak yang terbukti menyembunyikan dengan hukuman pidana. "Iya pasti kalau ada. Nanti kalau yang bersangkutan sudah ketemu dia pasti akan bercerita ke mana saja selama ini," tandasnya.

Sebelumnya, Plt Jubir KPK, Ali Fikri pada Rabu (29/1) malam memastikan, Harun Masiku sempat berada di sekitar PTIK pada 8 Januari malam pada saat OTT dilakukan.

"Iya, (Harun di sekitar PTIK) itu ketika proses penyelidikan," ujar Plt Jubir KPK, Ali Fikri di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (29/1) malam.

Baca Juga : Puan Pastikan DPR Tetap Produktif di Masa Pandemi

"Malam itu (Harun) diduga berada di Kebayoran Baru, sekitaran PTIK, sehingga tim penyelidik bergerak ke arah posisi tersebut," tuturnya.

Lantaran sudah masuk waktu shalat Isya, di PTIK, tim penyelidik singgah di masjid untuk menunaikan sholat. Saat itulah terjadi kesalahpahaman antara tim KPK dengan petugas provost korps baju cokelat.

"Di sana sedang dilakukan sterilisasi tempat karena rencana ada kegiatan esok harinya," bebernya.

Para penyelidik itu sempat diperiksa petugas Provost hingga akhirnya tim tersebut dijemput Deputi Penindakan KPK yang telah berkoordinasi dengan Polri. Harun pun lolos dari kejaran tim komisi pimpinan Firli Bahuri cs.

Baca Juga : Lewat Inovasi Digital, Rumah Zakat Raih GIFA Awards 2020

"Kemudian tidak bisa mengamankan karena kehilangan yang bersangkutan. Itu bagian dari proses OTT ini. Kan kita menggunakan berbagai teknik, informasi intelijen dan sebagainya. Artinya memang tidak berhasil untuk menangkap saat itu," tutur dia. [OKT]