Buntut Corona, Masker Lebih Mahal Dari Emas

Ilustrasi masker N95. (Foto: net)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi masker N95. (Foto: net)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Merajalelanya virus corona bikin harga masker N95 melonjak tajam. Har­ganya tembus Rp 1,5 juta, lebih mahal dibandingkan harga emas yang cuma Rp 800 ribu­ per­ gram.­

Melonjaknya harga masker di Tanah Air yang gila-gilaan ini, menjadi sorotan media asing. Salah satunya Straits Time. Media Singapura itu menyentil dengan judul: Harga Sekotak Masker N95 di Indonesia lebih Mahal Dari Satu Gram emas. “Coronavirus: price of a box of N95 masks cost more than a gram of gold in Indonesia,” bunyi judul berita yang terbit Senin (10/2) lalu.

Menurut penelusuran media tersebut di pasar pramuka, Jakarta, harga sekotak masker N95 kini harganya sudah tem­bus Rp 1,5 juta per kotak. Setiap kotak berisikan 20 buah masker. Padahal harga normal masker hanya Rp 20 ribuan per buah.

Berdasarkan pengakuan dari salah satu penjual, meningkatnya harga masker tersebut karena stoknya mulai terbatas. Pedagang grosir juga sudah mulai memberlakukan penjatahan pesanan maksimal kepada pengecer. “Pedagang grosir saya memberi tahu saya bahwa mereka harus memenuhi pesanan dari luar negeri, China dan Jepang,” kata Aini, pengecer di Pasar Pramuka.

Berita Terkait : Diserbu Virus Corona, Italia Karantina 12 Kota

Tak hanya Straits Time, media lain seperti Mothership, hingga Reuters ikut menyoroti kenaikan harga masker ini di Indonesia. Reuters bahkan menye­but harganya naik 10 kali lipat dari harga normal.

Rakyat Merdeka mencoba mene­lusuri harga masker di salah satu e­commerce. Hasilnya, beberapa pen­ jual melepas dengan harga antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per kotak.

Masker N95, memang paling banyak diincar belakangan ini. Sebab, masker warna putih yang berbentuk setengah bulat itu, tidak mudah rusak. Namun, tetap saja masker ini hanya bisa digu­ nakan sekali. Maksimal 8 jam. Setelah itu, harus dibuang. Tidak bisa dicuci ulang seperti masker kain.

Masker anti­polusi ini bisa diguna­kan untuk menyaring debu, jamur dan melindungi pernapasan dari asap. Ke­mampuan menyaring polutan dan partikel halus mencapai 95 persen.

Berita Terkait : Corona Merajalela, Pemerintah Jaga Kinerja Ekspor Impor

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengaku, menerima banyak pengaduan dari masyarakat atas me­lambungnya harga masker ini. “YLKI meminta KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) untuk mengusut kasus tersebut,” kata Tulus.

Sebab, ada indikasi mengambil ke­untungan berlebihan dengan menimbun yang dilakukan oleh pelaku usaha atau distributor tertentu terhadap harga masker ini. Tindakan ini melanggar UU tentang Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono me­ ngatakan, melonjaknya harga masker karena terbatasnya pasokan. Ini ter­ ungkap setelah pihaknya menggelar pertemuan dengan para importir dan distributor masker.

“Memang kita ada keterbatasan stok,” ujarnya. Karena itu, produk masker yang diimpor pun mengalami kenaikan harga hingga 200 persen. Adapun produk yang didatangkan para importir sebagian besar berasal dari China. Sementara Negeri Tirai Bambu itu membatasi ekspor maskernya. “Stok terbanyak dari China, dari

Berita Terkait : Deteksi Corona, Menko PMK: Kita Hanya Butuh Waktu Dua Jam

AS, dan Singapura juga ada. Mereka (importir) sudah order bulan lalu tapi baru bisa keluar 6 bulan ke depan,” ucapnya.

Kemendag juga mendorong para importir dan distributor masker berko­ mitmen dalam mendukung kebutuhan dalam negeri. “Kami coba mengimbau stok yang ada coba dilepas. Tadinya komit pelaku usaha industri sementara dialihkan dulu untuk kebutuhan,” katanya.

Di samping memang harga dari asalnya naik dan hambatan perdaga­ ngan, menurutnya ada juga indikasi lain yang menyebabkan harga masker meroket. Salah satunya penimbunan masker untuk diekspor.

Karena itu, Kemendag mendorong produsen masker lokal untuk me­ menuhi pasar dengan produk mereka. Meskipun, Kemendag tahu beberapa produsen masih harus mengurus izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). [SAR]