Daerah Perlu Penerapan Transportasi Massal, Contohlah MRT Jakarta

MRT (Ng Putu Wahyu Rama/RM)
Klik untuk perbesar
MRT (Ng Putu Wahyu Rama/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengamat Perkotaan Mulya Amri menilai pentingnya sistem transportasi massal yang terintegrasi di kota-kota besar Tanah Air. Menurut dia, langkah yang selama ini dilakukan, yakni penambahan rasio jalan, dinilainya tidak menyelesaikan masalah transportasi. 

"Sebab jumlah penduduk kota semakin bertambah dan lahan semakin kurang. Sehingga, transportasi massal jadi jawaban utama untuk masalah mobilitas warga. Integrasi menjadi kunci suksesnya transportasi massal," ujar Mulya saat dihubungi wartawan, Kamis (20/2). 

Bila tidak terintegrasi, warga akan memilih moda transportasi lain yang lebih memudahkan mobilitas mereka. Adanya sistem transportasi massal yang baik dan terintegrasi, lanjut Mulya, juga tidak hanya menyelesaikan masalah kemacetan. Tetapi juga perbaikan kualitas hidup masyarakat. 

Berita Terkait : Banjir Membuat Perjalanan KA Daop I Jakarta Terganggu, Ini Perubahannya

"Ongkos transportasi jadi lebih murah sehingga terjangkau untuk semua kalangan, polusi udara berkurang, masyarakat lebih sehat dan masyarakat lebih punya banyak waktu untuk keluarga dan kegiatan lain karena waktu tempuh lebih singkat," urai Direktur Program Jakarta Property Institute (JPI) itu. 

Mulya mengingatkan, semua negara-negara dengan tingkat livable yang tinggi, pasti memiliki sistem transportasi massal yang bagus. "Ini akan lebih baik lagi bila beserta dengan pembangunan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun atau terminal," imbuh Mulya. 

Selain bagi masyarakat, transportasi massal juga akan memberikan keuntungan bagi pemerintah daerah alias Pemda. Mulya bilang, saat membicarakan tentang transportasi massal, kita harus bicara lebih jauh dari sekadar subsidi dan mahalnya ongkos bangun yang harus ditanggung pemerintah. Tapi juga perbaikan kualitas hidup masyarakat dan tingkat pertumbuhan ekonomi. 

Berita Terkait : Beri Apresiasi, Anies Sebut Bank DKI Pemersatu Transportasi Jakarta

"Bila mobilitas warga tinggi, perputaran ekonomi juga lebih baik. Dan bila, kota lebih layak huni, daya saing akan meningkat karena para investor akan melirik kota-kota yang layak untuk investasi atau buka kantor baru," ungkapnya. 

Dia pun mencontohkan Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta. Walau Mulya menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, terutama penerapan konsep TOD di perkembangan wilayah sekitar stasiun, tetapi MRT telah memberikan dampak positif bagi warga Jakarta. Masyarakat yang tinggal dan berkantor di sekitar stasiun, terutama kelas menengah, sudah mulai sering meninggalkan kendaraan mereka untuk naik MRT karena kepastian waktu dan kecepatan waktu tempuh. 

"Ruang-ruang di sekitar stasiun MRT juga jadi berkembang dan lebih ramai karena dengan adanya MRT, akses menuju daerah tersebut jadi lebih mudah dan terjangkau," tuturnya. 

Berita Terkait : Heru Ingin Kembalikan Supremasi Gulat DKI di Tingkat Nasional

Walaupun baru beroperasi, tetapi MRT Jakarta adalah operator MRT pertama di Indonesia. Maka, kata Mulya, pengalaman dan pelajaran yang mereka dapat, tentu bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang ingin mengembangkan sistem transportasi publik yang modern.

Sekali pun begitu, Mulya mengingatkan, perlu dilakukan survei kebutuhan transportasi dan kemampuan keuangan daerah serta faktor-faktor lain untuk memutuskan cocok tidaknya angkutan umum berbasis rel seperti MRT untuk diterapkan di satu kota. Sebab, semua transportasi publik dan massal baik untuk kota dengan tingkat kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Tetapi dengan berbagai keuntungan itu, penerapan MRT di daerah-daerah lain di Indonesia patut dipertimbangkan. [OKT]