Kelompok Studi Merah Putih Sumbang 10 Ribu Masker untuk Wuhan

Acara
Klik untuk perbesar
Acara "Spirit for Wuhan; Bersatu untuk Kemanusiaan" di Golf Island, Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Jumat malam (21/2). (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kelompok Studi Merah Putih menyerahkan bantuan berupa 10 ribu masker untuk warga Wuhan dalam acara "Spirit for Wuhan; Bersatu untuk Kemanusiaan" di Golf Island, Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Jumat malam (21/2).

"Bantuan ini merupakan hasil gotong royong dari banyak pihak," kata Ketua Kelompok Studi Merah Putih, Yayan Sopyani Al Hadi, saat menyampaikan sambutan di depan ratusan orang yang hadir.

Yayan menjelaskan, Kelompok Studi Merah Putih merupakan lembaga kajian yang berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dengan Dewan Pembina Maruarar Sirait. Lembaga ini diisi berbagai aktivis lintas organisasi dengan latarbelakang suku dan agama yang berbeda, namun dipersatukan oleh komitmen untuk menjaga NKRI.

Berita Terkait : Pemerintah Matangkan Opsi Evakuasi WNI Dari Wuhan

Terkait dengan Virus Corona, Yayan menjelaskan bahwa epidemi virus ini  merupakan persoalan kemanusiaan global, bukan semata masalah negara China belaka. Karena hal ini merupakan musibah kemanusiaan, maka hal ini juga harus menjadi momentum menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.  "Yaitu nilai-nilai yang tidak lagi tersekat oleh batas-batas geografis sebuah negara serta latarbelakang primordial agama dan etnisitas," ungkap Yayan.

Setiap insan, sambungnya, dengan latar belakang apa pun, harus menunjukkan kepedulian atas persoalan ini. Dan ini menjadi aktualisasi juga bahwa nilai kemanusiaan itu akan terus hidup dalam jiwa-jiwa di berbagai belahan bumi mana pun. 

Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa nasionalisme itu bukanlah nasionalisme picik yang menjelma menjadi chauvinistik. "Yaitu nasionalisme yang hanya peduli dan bahkan egois atas nama kebangsaan sendiri. Bung Karno mengingatkan bahwa nasionalisme tidak akan hidup subur kalau tidak hidup dalam tamansarinya internasionalisme. Pun demikian, internasionalisme tidak akan tumbuh subur kalau tidak berakar dalam buminya nasionalisme," jelas Yayan.

Baca Juga : CIMB Niaga Syariah Raup Laba Rp 1,1 T

Karena itu, kata Yayan, nasionalisme harus membuka dirinya atas prinsip kemanusiaan. Nasionalisme harus mengarah pada penghargaan terhadap manusia yang bermartabat. Sebab, kemanusiaan itu membuka sekat-sekat ketertutupan relasi antar sesama manusia Indonesia dan juga relasi antar-manusia Indonesia dengan manusia dari negara lainnya. 

"Karena itu nasionalisme menjadi kesempatan memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan secara universal. Dengan dasar kemanusiaan inilah maka aksi kepedulian terhadap Wuhan adalah manifestasi dari nasionalisme yang merupakan bagian dari tamansari kemanusiaan itu," jelas Yayan. 

Yayan menambahkan, hubungan Indonesia dengan Tiongkok sudah terjalin sejak lama. Bahkan sejak berabad-abad lamanya, hubungan Tiongkok dengan Nusantara begitu erat. Etnis Tionghoa yang memilih menjadi WNI pun sudah menjadi bagian dalam Indonesia itu sendiri.

Baca Juga : Lepas Rindu, Dubes dan WNI Ethiopia Nonton Bareng Film Surat dari Praha

Bahkan, saat Indonesia menjelang kemerdekaan, ada empat etnis Tionghoa yang menjadi anggota Sidang BUPKI. "Mereka adalah para pendiri bangsa juga. Mereka adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, dan Tan Eng Hoa," jelas Yayan. [USU]