RMco.id  Rakyat Merdeka - Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak menemukan eks Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi di rumah mertuanya, di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. 

Berdasarkan informasi yang diterima, rumah mertua Nurhadi, Hj Sumarni, berada di Jalan Ade Irma Suryani Nomor 10 A RT 01 RW 04 Kelurahan Sembung, Kabupaten Tulungagung. 
"Informasi terakhir, di Tulungagung tidak mendapatkan para DPO sehingga kemudian malam ini masih dilakukan penggeledahan ke tempat lain ke Surabaya ya," ujar Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, di Gedung Merah Putih KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (26/2) malam. 

Tempat yang dimaksud adalah rumah adik dari istri Nurhadi, Tin Zuraida bernama Subhan Nur Rachman. "Adik yang ke empat atau ke lima gitu ya," ungkapnya. "Tentu ini kelanjutannya seperti apa belum bisa kami sampaikan," imbuh Ali. 

Berita Terkait : Penyidikan Rampung, Nurhadi Dan Menantunya Bakal Disidang

Sehari sebelumnya, tim KPK sudah menggeledah kantor adik ipar Nurhadi, Rahmat Santosa yang berprofesi sebagai advokat di Surabaya. Di sana, penyidik menyita sejumlah dokumen dan alat komunikasi. 

"Surabaya kemarin ke Santosa, terus bergerak ke Tulungagung, hari ini balik lagi ke Surabaya," bebernya. 

Tim komisi pimpinan Firli Bahuri cs itu juga sudah melakukan sejumlah penggeledahan di Jakarta pada pekan lalu Penggeledahan dilakukan dalam rangka pencarian Nurhadi. Ali tak mau menyebut lokasi persisnya. Dia hanya menyebut, lebih dari dua lokasi. 

Berita Terkait : KPK Terus Dalami Aset-Aset Nurhadi Dan Menantunya

"Ini bukan penggeledahan pencarian barang bukti, ini penggeledahan rumah, itu tindakan penyidik untuk masuk ke rumah atau tempat tertutup, untuk melakukan pemeriksaan penyitaan dan atau penangkapan. Ini beda dengan penggeledahan biasa gitu ya. Sehingga tentunya tempat-tempat itu tidak bisa kami sampaikan," tandas Ali.

Nurhadi, bersama keponakannya, Rezky Herbiyono ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar. Suap, diberikan Direktur PT MIT Hiendra Soenjoto. Tujuannya, pengurusan perkara perdata di MA. Sementara gratifikasi berkaitan dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK (peninjauan kembali) di MA.

Ketiga tersangka ini sudah dua kali mangkir dari panggilan penyidik komisi pimpinan Firli Bahuri cs. 
Nurhadi mangkir pada tanggal 3 Januari dan 27 Januari. Sementara Rezky dan Hiendra tidak memenuhi panggilan pada 9 dan 27 Januari.  

Berita Terkait : KPK Terus Usut Kongkalikong Nurhadi Dan Menantunya

KPK lalu memasukkan Nurhadi, Rezky dan Hiendra dalam daftar pencarian orang (DPO). Keberadaan ketiga buronan KPK itu hingga kini belum diketahui. [OKT]