Setelah Jamaah Umroh Distop Saudi, Jamaah Haji Ketar-ketir

Ilustrasi calon jamaah haji. (Foto: Antara)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi calon jamaah haji. (Foto: Antara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan Arab Saudi menyetop jamaah umroh karena virus corona membuat ketar-ketir para calon jamaah haji yang direncanakan mulai berangkat Juni 2020. Semoga saja corona cepat teratasi sehingga Saudi segera mencabut kebijakan ini.

“Memang kekhawatirannya me­ngarah ke musim haji, kalau ke­bijakan Saudi itu berlanjut,” ujar Wakil Sekjen DPP asosiasi Muslim Penyelenggara haji Umrah republik Indonesia (Amphuri) M. Faried Al­jawi saat dikontak Rakyat Merdeka, semalam.

Dia menjelaskan, umroh masih bisa ditunda. Bisa dilakukan kapan saja di luar musim haji. Sementara musim haji hanya setahun sekali. Antreannya juga begitu panjang. Bisa mencapai kisaran 15 sampai 25 tahun. “Kalau ini ditunda lagi sampai tahun depan, tentu sangat mengecewakan kita, dan bagi negara­ negara lain yang juga tertolak masuk arab Saudi,” bebernya.

Saudi pun, tegasnya, pasti akan rugi besar. Soalnya, negara pimpinan Raja Salman itu menargetkan 30 juta jamaah haji dan umroh pada 2030. Sementara kini, baru sekitar 12 juta orang. “Dengan adanya hal seperti ini kan jadi sedikit terhambat,” imbuh Faried.

Meski ada kekhawatiran itu, ca­lon jamaah haji Indonesia belum ada yang bertanya ke Amphuri soal nasib mereka. Baru Amphuri yang memikirkan kemungkinan itu. Ja­maah, mungkin masih menunggu perkembangan. “Mungkin mereka akan mulai resah ketika mendekati musim haji, bulan Ramadhan atau Syawal,” tutur dia.

Berita Terkait : Demi Keamanan Umrah Stop Saja

Faried sendiri meyakini, pelaksanaan ibadah haji akan tetap berjalan. Pe­merintah Saudi, lanjutnya, sudah memikirkan hal itu. Faried sendiri mendapat informasi, salah satu mas­kapai penerbangan Saudi sudah meng­umumkan, dalam 15 hari ke depan sudah bisa melakukan reschedule atau penjadwalan ulang. “Tetapi ya kita tetap waspada, tetap melihat perkembangan,” ucap Faried.

Larangan umroh sendiri, disebut Faried, diprediksi sudah menyebabkan kerugian Rp 1 triliun, dengan estimasi jangka waktu 15 hari. Dia merinci, dalam satu musim umroh, yakni 10 bulan, jamaah umroh dari Indonesia rata­-rata berjumlah satu juta. Artinya, dalam sebulan ada sekitar 100 ribu ja­maah umroh asal Tanah Air. Per hari, mencapai 3000­-an.

Pada Kamis (27/2) saja, ada 2300 jamaah umroh asal Indonesia yang tertunda. Mereka terbagi dalam tujuh penerbangan langsung atau direct flight.

Sementara sekitar 1500 lainnya, transit di berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Istanbul (Turki), Abu Dhabi, dan Dubai. “Kalau harga umroh katakanlah Rp 20 juta, maka tinggal dikalikan 100 ribu ja­maah dalam sebulan, kerugian men­capai Rp 2 triliun. Kalau 15 hari ya setengahnya” urainya.

Faried mengimbau, para jamaah umroh dan haji tidak resah. Amphuri bekerjasama dengan pemerintah, yakni Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Perhubungan (Kemen­hub), dan beberapa kementerian lainnya untuk mengurusi masalah ini. Juga, dengan maskapai­-maskapai penerbangan. “Kita minta untuk tidak menghanguskan tiket yang sudah dibeli, dan tidak ada biaya tambahan untuk me­-reschedule,” ungkap Faried.

Berita Terkait : Kemenag Pantau Jemaah Umroh yang Tertahan di Bandara

Selain itu, Amphuri juga berupaya melobi Kedubes Saudi di Indonesia agar visa­-visa yang tercetak bisa diper­panjang masa berlakunya. Sehingga apabila terjadi penundaan, visa-visa itu tidak hangus. “Masyarakat tenang, tetap bisa berangkat hanya waktunya saja yang di­-reschedule,” tutupnya.

Kekhawatiran yang sama juga di­ suarakan Wakil Ketua MPR Arsul Sani. Yakni, keputusan Saudi menangguhkan sementara semua perjalanan umroh bakal berlanjut pada penyelenggaraan ibadah haji 2020. Sebab, pelaksanaan ibadah haji tinggal beberapa bulan lagi.

“Saya melihat justru bukan persoalan umroh tetapi bagaimana mengantisipasi penyelenggaraan haji yang akan datang karena tinggal empat bulan lagi,” ujar Arsul Sani di Gedung DPR, kemarin.

Sekjen PPP ini pun menilai, peme­rintah perlu didorong untuk terus berkomunikasi atau berdiplomasi de­ngan Saudi. “Tentu harapannya virus corona sudah bisa dikendalikan sudah bisa diatasi dalam satu dua bulan yang akan datang,” harap dia.

terpisah, Konjen RI di Jeddah, Eko Hartono berharap, kebijakan Saudi tak berlanjut saat musim haji. “Mudah­-mudahan saat jamaah haji kloter pertama nanti datang, insyaallah tanggal 25 Juni, jamaah pertama akan tiba di Madinah, Insyaallah situasi su­dah membaik kembali,” ujarnya.

Berita Terkait : KBRI Riyadh Pantau Keberadaan Jamaah Umroh, Inilah Aturan Saudi

Eko menerangkan, kebijakan Arab Saudi ini dalam rangka melindungi kepentingan nasional negaranya, di samping menjaga kenyamanan para jamaah dan peziarah dua Kota Suci, Makkah dan Madinah. Karena itu, mereka menerapkan standar kesehatan yang tinggi mengantisipasi penyebaran virus corona.

Pemerintah Saudi diyakininya ju­ga menyadari keputusan ini pasti berdampak luas, khususnya bagi jamaah umroh, bisnis maskapai, peng­inapan/hotel dan katering. Tapi, ini merupakan keputusan otoritas tertinggi di Arab Saudi, sehingga otomatis diberlakukan. 

Indonesia sendiri me­rupakan salah satu negara yang men­ dapat jatah kuota haji terbesar. Untuk kuota haji tahun lalu, jumlahnya ber­kisar 220­.230 ribu. Sementara tahun ini, naik 10 ribu. [OKT]