Edukasikan Soal Pekerja Sosial, FISIP UMJ Gelar Konferensi Internasional

The 2nd International Conference on Social Work yang diselenggarakan FISIP Univeristas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (29/2). (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
The 2nd International Conference on Social Work yang diselenggarakan FISIP Univeristas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (29/2). (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menggelar The 2nd International Conference on Social Work di Jakarta, Sabtu (29/2).

Konferensi internasional bertema 'Social Work: A Catalyst for Change and Social Cohesion in Diverse Society' ini sekaligus memperingati Hari Pekerjaan Sosial se-dunia.

Pembicara di acara tersebut diantaranya Prof. Adi Fahrudin, Guru Besar pertama di bidang pekerjaan sosial di Indonesia. Selain itu, juga hadir Prof. Dr. Mechthild Wolff dan Prof. Dr. Sigrid Annemarie Bathke, dari University of Applied Sciences Landshut, Jerman.

Hadir juga Prof. Dr. Azlinda Azman, dari USM Malaysia, Prof.Dr. Ismail Baba, Visiting Professor, Sophia University, Tokyo, Japan. dan Prof. Jae Sung Choi, dari Yonsei University. Korea Selatan.

Baca Juga : Polisi Buru Pemilik Mobil Yang Males Bayar Pajak

"ICSW ke-2 ini sangat menarik minat para peserta dari berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, untuk hadir mempresentasikan gagasan dan hasil penelitian mereka karena deretan keynote bereputasi internasional di bidang pekerjaan sosial," ujar Ketua Panitia ICSW 2020, Tria Patrianti.

Di acara ini, masing-masing pembicara menyampaikan gagasannya terkait pekerja sosial. Prof. Adi Fahrudin, Ph.D, Guru besar Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP, UMJ menyatakan bahwa pekerjaan sosial merupakan katalisator, yaitu profesi yang dapat merekatkan kembali hubungan yang selama ini terpecah.

“Hubungan antar manusia yang terlihat pada masyarakat sekarang, menunjukkan gejala yang tidak harmonis, terpecah-pecah.

Oleh karena itu, profesi pekerjaan sosial harus menjadi pelopor dalam menciptakan perubahan sosial yang positif, progresif, yang tidak menimbulkan destruktif. Inilah inti dari International Conference tahun ini,” ujarnya.

Baca Juga : Perbaikan Jalan Rusak DKI Jangan Cuma Tambal Sulam

Sementara itu Prof Dr. Azlinda Azman dari Universitas Sains Malaysia mengatakan bahwa tantangan profesi kerja sosial sebagai agen perubahan dalam masyarakat yang berbeda dengan pendekatan dignifikasi.

Ini dimungkinkan karena pekerja sosial yang kompeten harus memiliki nilai-nilai, keterampilan, dan metode profesional dalam bekerja dengan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

"Filosofi utama dari disiplin kerja sosial adalah menuju meningkatkan fungsi sosial masyarakatMemberdayakan masyarakat untuk membuat atau memenuhi perubahan yang diinginkan Mendukung masyarakat dalam mencapai kesejahteraan yang lebih baik," ujarnya.

Ismail Baba, PhD dari Sophia University Tokyo Jepang mengatakan dalam presentasinya, pengawasan pekerjaan sosial disebut sebagai proses hubungan profesional yang terjadi antara pengawas dan bawahan yang menekankan tanggung jawab dan akuntabilitas untuk pengembangan kompetensi pekerjaan sosial.

Baca Juga : Hadiri Doa Mingguan, Paus Fransiskus dalam Kondisi Sehat

Ia memaparkan tentang Penyalahgunaan Kekuasaan dalam Organisasi Pendidikan Profesional - Strategi Perlindungan Anak dalam Organisasi dan Implementasinya.

Sedangkan Prof. Landahut dari Sigrid University of Applied Sciences, Germany dalam paparannya membahas tentang program pendidikan keluarga dan layanan dukungan keluarga.

"Berbagai masalah juga dapat terjadi dalam keluarga kelas menengah dan karena peristiwa tak terduga seperti kematian orang tua atau penyakit serius, sering ada garis tipis antara inklusi dan pengecualian sosial," tutupnya. [SRI]