Tingkatkan Literasi Masyarakat

Tegal Bikin Pojok Baca di Setiap Kelurahan

Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat perlu dukungan dari berbagai pemangku kebijakan. Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi mengatakan, dewasa ini budaya membaca di tengah masyarakat, termasuk di Tegal, mulai menurun. 

Padahal, rutinitas membaca merupakan awal dari sebuah negara maju. "Saat ini budaya baca tulis sudah semakin menurun di masyarakat,” kata M Jumadi.

Menurut dia, banyak negara maju di dunia mempunyai literatur segudang dengan berbagai tema. Hal itu disertai dengan kemudahan masyarakat untuk mengaksesnya. Jumadi memandang, masyarakat Indonesia sebenarnya bisa menjadi warga negara seperti di negara maju tersebut. Asalkan diberi kemudahan akses oleh pemerintah. 

Baca Juga : Erick Puji Langkah Cepat Telkom Dalam Perlindungan Keselamatan Kerja

Oleh karena itu, Jumadi melakukan inovasi di Pemkot Tegal dengan program pojok baca di setiap kelurahan. “Bahkan beberapa Pojok Baca sudah memiliki ribuan koleksi buku,” ungkapnya.

Jumadi mengatakan, inovasi tersebut bisa tercipta berkat dukungan berbagai pihak. Mulai dari Forkompinda di setiap sudut kantor baik di Polresta, Markas Kodim 0712 Tegal, Markas Lanal Tegal dan Kantor Kejaksaan Negeri Kota Tegal. "Saya berkerja sama dengan forkombinda, semua kepolisian, kejaksaan, dandim, dan lainnya, semuanya bekerja sama untuk bikin pojok-pojok baca," katanya.

Dengan kerjasama tersebut, Pemkot Tegal telah menyediakan pojok baca di setiap kelurahan dengan ratusan buku berkualitas. Dia berharap perlahan masyarakat mulai tertarik untuk membaca buku ketimbang bermain gawai.

Baca Juga : Bamsoet Harap Puteri Indonesia Jadi Duta Empat Pilar MPR

“Budaya baca dan tulis sudah memasyarakat di Kota Tegal. Budaya baca tidak hanya oleh kalangan akademisi dan pejabat namun sudah merambah kalangan pedagang asongan, sopir angkutan umum dan kernet bus serta pedagang asongan," papar Jumadi.

Jumadi menjelaskan, pojok baca tidak hanya menyediakan buku, tapi juga mengerahkan tenaga pengajar ke masyarakat. Misalnya untuk belajar soal hukum, orang kejaksaan dikerahkan untuk terjun ke lapangan. Bahkan anggota polisi lalu lintas dari Polsek dan Polres setempat turut mengajarkan soal ketertiban berlalu lintas di jalan raya demi terciptanya sikap disiplin.

"Pengusaha juga sama, saya minta ke pemilik hotel. Hei kamu pemilik hotel kasih dong tempat membaca di hotel, taruh di depan jangan di belakang," tutur Jumadi.

Baca Juga : Merapi Meletus, Penerbangan di Solo Dialihkan Wilayah Tak Terdampak

Petugas yang terjun ke lapangan disebut Jumadi sebagai duta baca. Kini tercatat sudah ada 46 duta baca yang dikirim ke kampung-kampung dan sekolah. Bagi setiap masyarakat Tegal yang ingin melihat naskah kuno, saat ini sudah tersedia fasilitas e-arsip, yaitu digitalisasi pengarsipan. Sehingga setiap orang yang ingin mengakses naskah kuno bisa dengan cepat melihatnya secara digital. "Ini masih bertahap, tapi kita sudah mulai," timpalnya.

Demi mendekatkan lagi masyarakat Tegal dengan buku, Pemkot juga membuat kampung literasi, sebuah ajang book fair yang digelar di kampung-kampung dengan menggandeng salah satu penerbit buku terkemuka di tanah air. "Itu kita gelar di Panggung, di Kota Tegal. Di pemukiman warga, harga bukunya murah," katanya.

Bagi Jumadi, kerja membangun literasi lebih dari sekadar kerja formalitas sebagai pejabat daerah, tapi juga menjadi tanggung jawab sebagai anak bangsa untuk turut aktif membangun lingkungannya. Meski tidak mudah mengubah budaya masyarakat, namun disisa masa waktu kepemimpinannya di Tegal, Jumadi akan terus menggenjot inovasi lain agar masyarakat Tegal kaya akan literasi. "Yang penting hati kita. Jadi pemimpin Cuma lima tahun, legacy apa yang bakal kamu tinggalkan," pungkasnya. [BYU]