RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua KPK, Firli Bahuri, ternyata tak cuma pintar masak nasi goreng. Mantan Kapolda Sumatera Selatan ini juga jago bikin dan baca puisi.

Kebolehan itu ditunjukkan Firli saat berbicara di acara “Malam Apresiasi Seni bertajuk Puisi Vs Korupsi”, yang digelar di Gedung RRI Jakarta, Sabtu malam. Acara tersebut digelar sebagai upaya melawan korupsi. Mereka yang hadir bukan hanya penyair tetapi juga para pejabat yang bergerak di bidang penegakan hukum.

Selain Firli, pejabat yang hadir dan ikut membacakan puisi di acara ini antar lain Jaksa Agung, ST Burhanuddin, dan Ketua BPK, Agung Firman Sampurna. Mereka membacakan puisi-puisi yang berisikan antara lain bahaya korupsi dan mencintai negeri. Sejumlah artis dan seniman ikut tampil di acara ini seperti Ine Febrianti, Septian Dwi Cahyo, Nabila Gomez, beserta penampilan Sosiawan Leak.

Bait-bait yang ditulis Firli cukup mengena. "Sungguh indahnya kedamaian dan kebhinekaan di negeri ini//Tetapi suasana ini bisa hilang seketika//ketika nafsu dibakar dengan niat memperkaya diri dan korupsi terus bersemi," ucap Firli, saat itu.

Berita Terkait : Ketua KPK Tertunduk Malu, Juga Minta Maaf

Dalam sambutannya, Firli mengapresiasi kegiatan tersebut. Dia bilang, acara itu sangat bermanfaat untuk menggaungkan kampanye gerakan melawan korupsi. "Kegiatan ini bagus. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk mengajak seluruh rakyat Indonesia, anak bangsa, bahwa pemberantasan korupsi bisa dipakai dengan cara mengajak masyarakat melalui seni (puisi)," ucap jenderal polisi bintang 3 itu.

Menurut Firli, seni dan sastra, termasuk puisi, dapat menjadi salah satu sarana membangkitkan kesadaran antikorupsi. “Tujuannya lebih dari ekspresi seni. Tapi penegasan bahwa segala saluran harus digunakan untuk membangun budaya antikorupsi,” ujarnya.

Firli tidak khawatir apabila aksi baca puisinya dikritik. “Mungkin akan ada yang mencibir. Kenapa Ketua KPK bukannya berburu koruptor, tapi malah berpuisi. Patut dicatat, tugas KPK bukan cuma berburu koruptor. Tapi mengajak masyarakat dengan menggunakan sarana apa pun untuk melawan korupsi mulai dari diri sendiri,” ucapnya.

Tak hanya membacakan puisi, Firli juga mengingatkan tamu yang hadir untuk melaporkan kepada KPK apabila memiliki informasi keberadaan tujuh buronan, termasuk Nurhadi dan Harun Masiku. Sampai sekarang, KPK dan Polisi memang belum bisa mengendus keberadaan Nurhadi dan Masiku.

Berita Terkait : Meski Anggaran 2021 Tak Ideal, Firli Janji KPK Tetap Bekerja Maksimal

Aksi baca puisi Firli itu banyak dikomentari warganet. Sebagian memang melontarkan kritikan. Namun, sebagian lagi setuju dengan langkah Firli itu. “tak banyak pejabat yang suka puisi. Semoga puisi melembutkan hati Firli. Dan makin berani lawan korupsi,” tulis akun @AlsNugrahaa.

Akun @faqihmubarok berharap, kerbolehan Firli dalam membuat dan membaca puisi juga berbanding lurus dengan kerjanya dalam memberantas korupsi. "Pintar masak nasgor, jago bikin puisi. Semoga jago juga berantas korupsi," harapnya.

Namun, dari pihak ICW, terlihat masih gemas dengan langkah Firli sejauh ini. Terutama karena belum berhasil menangkap Harun Masiku dan Nurhadi. Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana, mengaku sudah memprediksi kasus suap yang melibatkan Harun Masiku sulit untuk dikembangkan. Pasalnya, Harun diduga jadi aktor kunci dalam mengungkap kasus ini. Politikus PDIP itu merupakan titik penting untuk membuka apakah ada aktor lain dalam kasus tersebut atau tidak. "Kalau Harun tak tertangkap kasus ini kemungkinan besar hanya akan berakhir di Wahyu Setiawan dan beberapa perantara itu," kata Kurnia, kemarin.

Ia heran, kenapa Masiku belum juga tertangkap. Padahal, sudah hampir dua bulan. Menurut dia, kunci penanganan kasus Masiku ada di pimpinan KPK. Menurut Kurnia, selama ini masyarakat mengenal KPK sebagai lembaga yang sangat cepat meringkus pelaku korupsi. Baru di periode ini KPK terlihat lamban memproses buronan.

Berita Terkait : Ketua KPK Yakin Tak Akan Ada `Djoko Susilo` Selanjutnya

Dengan kondisi ini, lanjut dia, tentu masyarakat akan melihat KPK hanya memusatkan perhatian pada isu pencegahan. Seperti yang dilakukan Firli dengan baca puisi. Sementara, penindakan akan menurun. "Konsekuensi logisnya adalah banyak pelaku korupsi tidak takut lagi menghadapi KPK," tuntasnya. [BCG]