RMco.id  Rakyat Merdeka - Imbauan pemerintah agar jangan panik setelah dua warga Depok positif corona direspons beragam. Ada yang memang benar-benar tenang, ada juga tetap panik sampai memborong sembako, ada juga yang bertindak culas dengan memainkan harga masker.

Kemarin, harga masker kian meroket. Mencapai lebih dari 1.000 persen. Produsen masker mengaku tak menaikkan harga. Rupanya, ini permainan mafia.

Pasar Pramuka, kemarin siang, dipadati pengunjung. Tempat parkir mobil dan motor, penuh. Hampir semua pengunjung punya tujuan yang sama: mencari masker dan hand sanitizer. Pengunjung berjejal di toko-toko, penjual kewalahan melayaninya. 

Pengunjung tak peduli harga masker yang sudah naik berkali-kali lipat ketimbang harga aslinya. Merk sensimask misalnya, yang semula hanya Rp 24-25 ribu per box, naik mencapai Rp 350-380 ribu. Per box berisi 50 lembar masker. Untuk merk Stardec, naik dari Rp 15 ribu per box menjadi Rp 260-280 ribu. Sementara, masker N95 yang kualitasnya diklaim lebih bagus, harganya mencapai Rp 1,5 juta per box yang isinya 10 lembar masker. Padahal, biasanya harganya hanya Rp 200 ribu. 

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Dessy, seorang pedagang di sana, mengaku, harga masker sudah naik sejak Januari. Harga kian melambung lantaran stok menipis. Biasanya, pedagang bisa menyetok dua karton atau 80 boks. Kini di distributor sudah kosong. Pedagang tak punya banyak stok. Dessy mengaku hanya punya 10 box. 

Karena pembeli membludak, pedagang terpaksa mengambil dari tempat lain di berbagai daerah. "Yang bikin mahal itu, bukan kita naikin sendiri. Tapi modalnya memang sudah tinggi, kita ambil untung sedikit. Distributor sudah kosong," ujarnya. 

Arief, pedagang lain, menyatakan, stok dua karton masker miliknya ludes hanya dalam 1 jam. Harga yang dibanderol Arief untuk masker sensi memang lebih murah dari toko lainnya, yakni Rp 300 ribu. 

Asong, salah satu penjual masker di Glodok, menyatakan, harga masker dinaikkan distributor, bukan para pedagang di Glodok. "Dapat harga murah, kami jual murah. Kalau dapat tinggi, ya jual tinggi sesuai pasaran," ujarnya. 

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Bagaimana di online? Harganya lebih gila lagi. Di Tokopedia, sensimask mencapai harga Rp 600 ribu per box. Sementara, N95 mencapai Rp 2 juta per box. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), Ahyahudin Sodri, menegaskan, pabrikan masker di Indonesia tidak menaikkan harga saat kekhawatiran wabah virus corona terjadi. "Kami sebagai produsen tidak menaikkan harga penjualan. Kami sebagai Produsen, sangat prihatin, jika ada pihak yang mengambil aksi untung dari tingginya permintaan masker," sesalnya. 

Tak hanya masker, warga juga gila-gilaan memborong barang pokok di supermarket. Fenomena yang disebut  panic buying itu terjadi di sejumlah tempat. Salah satunya, Tiptop di Rawamangun, Jakarta Timur. Dari gambar-gambar yang beredar di medsos, tampak isi troli belanja pengunjung menggunung. Mayoritas diisi berkardus-kardus mie instan, beras, susu, dan minyak. Sebanyak 27 kasir yang dipekerjakan kemarin malam kewalahan melayani para pengunjung. 

Suasana yang sama terjadi di Grand Lucky, SCBD. Troli-troli pengunjung diisi minyak, mie instan, beras,  air mineral. Beberapa rak sembako terlihat kosong melompong. AEON Mall BSD dan supermarket-supermarket di Kelapa Gading, juga mengalami hal serupa. 

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko, menyatakan, pemerintah akan menurunkan polisi untuk menjaga pusat-pusat perbelanjaan seperti supermarket dan pasar untuk membatasi perilaku masyarakat memborong kebutuhan pokok berlebihan. "Nanti Kapolri supaya menurunkan anggotanya untuk ikut membatasi masyarakat melakukan hal yang berlebihan seperti itu," ujar Moeldoko di Istana Negara, kemarin. 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, juga meminta warganya  menghentikan tindakan panic buying. Dia menyatakan, sudah berkomunikasi dengan Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia, Aprindo. Hasilnya, stok kebutuhan di Jakarta cukup. Karena itu, tak ada alasan warga untuk panik. 

Anies mengingatkan, akan ada efek buruk jika terjadi panic buying. Seperti, akan ada gangguan stabilitas harga maupun stok barang. "Jangan melakukan pembelian secara berlebih karena itu bisa mengganggu stabilitas, meskipun stok kita mereka sampaikan cukup," wanti-wantinya. [OKT]