RMco.id  Rakyat Merdeka - Menko Polhukam, Mahfud MD, mendapat pengalaman kurang mengenakan saat berkunjung ke Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), kemarin. Mobil iring-iringannya sempat diadang sekelompok mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa.

Mahfud berkunjung ke Kendari untuk menghadiri tiga acara. Yaitu menghadiri Kongres ke-32 PB HMI, memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo (UHO), dan menghadiri rapat koordinasi dan sinkronisasi wawasan kebangsaan dengan Pemprov Sultra. 

Rombongan Mahfud diadang mahasiswa saat selesai menghadiri rapat dengan Pemprov Sultra, di Hotel Claro, Kendari. Ketika akan bertolak ke bandara, iring-iringan mobil Mahfud diadang sekelompok orang dari Forum Mahasiswa Sultra Bersatu (Firmasub), Kendari. Jumlahnya memang tidak banyak. Hanya puluhan. Namun, pengadangan ini sempat membuat rombongan Mahfud tertahan. 

Awalnya, para mahasiswa ini menggelar aksi unjuk rasa di depan Hotel Claro. Sekitar pukul 10.30, saat Mahfud keluar menuju bandara, puluhan mahasiswa langsung membentuk barisan di sepanjang pintu keluar hotel dan memberikan kartu merah ke Mahfud.

Baca Juga : Pengamat: Sikap Marah-marah M Nasir Tak Etis, Coreng Citra Parlemen dan Partai Demokrat

Para mahasiswa itu menuntut Mahfud melakukan investigasi dan monitoring terhadap kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang ada di Sultra. Termasuk kasus tewasnya Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi pada aksi Reformasi Dikorupsi, 26 September 2019.

La Enol, koordinator lapangan Firmasub, memprotes tak adanya tersangka dugaan pelanggaran HAM atas tewasnya Randi dan Yusuf. "Kami mau pertanyakan bagaimana kasus Randi-Yusuf. Untuk Yusuf hingga saat ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka," teriaknya. Dia menuding, pemerintah tak mempedulikan dugaan pelanggaran HAM terhadap Randi dan Yusuf. 

Namun, aksi mereka sia-sia. Polisi yang berjaga langsung menghalau para mahasiswa ini. Sempat terjadi dorong-dorongan. Karena kalah jumlah, mahasiswa itu mundur. Mahfud pun berhasil melanjutkan perjalanan ke bandara. "Tidak bisa ketemu (Mahfud). Pengamanannya ketat sekali," ucap La Enol.

Aksi ini pun jadi perbincangan warganet. Mereka mendukung para mahasiswa. Mereka setuju, kasus pelanggaran HAM yang menewaskan mahasiswa harus diusut tuntas. 

Baca Juga : Merawat Emosi Umat (2)

Akun @Muhamadsuala219 menyebut, beberapa kasus HAM memang terjadi di Kendari. Ia pun menuding, Mahfud tidak berniat menuntaskan kasus penembakan mahasiswa UHO. "Kasus HAM yang beberapa kali terjadi di kendari, terkhusus kasus penembakan mahasiswa pada saat aksi 26 September 2019 lalu. Hal tersebut menambah kejelasan ketidakberpihakan terhadap penanganan pelanggaran HAM," katanya.

Akun @Muhamadsuala219 kecewa lantaran Mahfud tidak mau menemui mahasiswa. Kata dia, mestinya, dengan pengawalan yang ketat, Mahfud tidak perlu takut. "Ada sekolompok mahasiswa yang ingin bertemu di luar ruangan bersama @mohmahfudmd, tetapi tidak ditemui. Padahal mereka hanya ingin bertanya dan meminta komitmen nya terkait penanganan," lanjutnya.

Akun @Ridwanmaridi3 menimpali. Menurutnya, kedatangan Mahfud di Kendari sengaja tidak di publikasikan Pemprov Sultra ataupun kampus UHO. Pasalnya, hanya sedikit mahasiswa yang tahu kabar tersebut.

"Senyap sekali kedatangannya Pak @mohmahfudmd di Kendari. Tidak ada 1 pun berita online yang menyampaikan kedatangan Bapak di Kendari. Ingin sekali rasanya duduk bersama berdiskusi terkait kasus penembakan mahasiswa Yusuf & Randi," cetusnya.

Baca Juga : DigiKu Meluncur Bantu Sembuhkan Ekonomi

Sedangkan, akun @faysal_asmar menyebut, aksi mahasiswa itu pantas dilakukan karena ingin menuntut keadilan dari pejabat negara. "Mahfud MD memang harus dapat kartu merah dari mahasiswa Kendari," tulisnya. [DIR]