Pakai Masker di Ruang Sidang

Nahrawi dan Gatot Ribut Soal Istri Tidur di Kantor dan Tumpeng

Mantan Menpora, Imam Nahrawi memakai masker di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (4/3). (Foto: Mohamad Qori/RM)
Klik untuk perbesar
Mantan Menpora, Imam Nahrawi memakai masker di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (4/3). (Foto: Mohamad Qori/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sidang lanjutan perkara korupsi dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kemarin berlangsung panas. Mantan Menpora Imam Nahrawi yang jadi terdakwa terlibat “perang” dengan eks anak buahnya, Sesmenpora Gatot Dewa Broto.

Yang jadi bahan serangan, soal Gatot dan istri yang nginap di kantor. Ada juga ribut soal tumpengan. Dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor itu, Imam bilang, Gatot menginap di kantor selama tiga tahun. Alasannya, rumahnya tengah direnovasi.

Hal ini dilontarkan Imam saat menanggapi soal mutasi seorang PNS Kemenpora bernama Muhammad Angga dari jabatan Kasubag Urusan Dalam Kemenpora. Gatot sebelumnya menyebut, mutasi dilakukan lantaran Angga tidak bisa memenuhi permintaan uang ke Miftahul Ulum yang saat itu menjabat Asisten Menpora.

Imam mengaku tahu Angga adalah “orangnya” Gatot. “Rumornya saat itu sedang melakukan renovasi rumah bapak dan tentu saya minta Angga diganti bukan alasan itu,” beber Imam.

Berita Terkait : Imam Nahrawi Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp 8,6 Miliar

Alasan mutasi, lantaran Angga tidak bekerja cepat ketika diperintahkan mengganti karpet dan wallpaper di ruangan Imam. Politikus PKB itu menyambung, dengan alasan renovasi itu, Gatot tinggal bersama istrinya, Lina di kantor Kemenpora selama tiga tahun.

Imam yang menilai ini tak pantas, mengeluarkan surat edaran pelarangan tidur di kantor. “Akhirnya saya konsultasi staf yang ada di lantai 10 karena bapak kantornya di lantai 3 dan kantor bapak serumah dengan istri bapak. Kemudian saya membuat surat edaran, tidak boleh siapa pun tidur di kantor,” sindirnya.

Kemudian, Imam menunjuk Atun sebagai Kasubag Urusan Dalam Kemenpora. Imam kembali menyindir Gatot dengan menyebut, urusan karpet bukan ranah Menpora, melainkan Sesmenpora. “Semoga bapak tahu tentang itu karena kalau soal saya pasti tidak tahu, saya sudah menduga itu,” ucapnya.

Selain soal nginap di kantor, Imam juga menyinggung Gatot yang beram bisi menjadi Menpora setelah dirinya menjadi tersangka KPK pada 19 september 2019. Gatot yang ditunjuk menjadi Plt Menpora mengadakan selamatan dengan tumpengan di ruang kerjanya, lantai 3 gedung Kemenpora. “Semua saya rekam statement bapak,” tutur Imam.

Berita Terkait : Mantan Menpora Imam Nahrawi Didakwa Terima Suap Rp 11,5 Miliar

Gatot sendiri tampak emosi menanggapi pernyataan Nahrawi. Dia membenarkan, tiga tahun menginap di kantornya. Tetapi, ada tujuannya. Yakni membantu Imam. “Saya sudah 3 tahun menginap di lantai 3, menginap juga dalam rangka membantu Pak Imam. saya rada emosi soal ini,” tegasnya.

Menurut Gatot, saat itu dirinya menghadapi media terkait masalah pembekuan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Ketika itu, Imam tidak mau berurusan dengan media. “Harus ribut gontok-gontokan dengan PSSI saya sendiri,” klaim Gatot.

Selain itu, dia juga membantu Imam mempersiapkan Asian Games. Karena alasan-alasan itu, dia mengaku, terpaksa menginap di kantor. “Jadi kalau disuruh milih, lebih pilih magrib pulang ke rumah di Bintaro lebih enak. Ini konteks ada perasaan tidak suka dari Pak Imam,” tuding Gatot.

Tetapi Gatot tahu, surat edaran larangan menginap di kantor Kemenpora memang ditujukan untuk dirinya. Karena itu Gatot tetap mempersilahkan anak buahnya tetap menginap di kantor Kemenpora. “Sebenarnya itu surat ditunjukkan kepada Gatot Dewa Broto bukan kepada yang lain,” imbuhnya.

Baca Juga : Recurring Income Kuat, LPKR Dipandang Stabil Meski Hadapi Tantangan Ekonomi

Gatot juga membantah berambisi menjadi Menpora. Dia hanya menyatakan siap menjadi Plt Menpora saat ditanya wartawan. Sementara soal tumpengan, Gatot bilang itu bukan selamatan karena dirinya menjabat pucuk pimpinan tertinggi Kemenpora. Melainkan, merayakan ulang tahunnya yang jatuh pada 31 Oktober.

“Semoga Tuhan memaafkan beliau, saya tidak ada tumpengan, kebetulan ulang tahun saya 31 Oktober, ditetapkan tersangka 18 September, ultah saya 31 Oktober, nggak nyambung,” selorohnya.

Gatot sendiri merasa sejak lama Imam sudah ingin menyingkirkannya. Imam sendiri mengakuinya. Gatot disebutnya tak banyak membantunya selama bertugas sebagai Menpora. Gatot juga ditudingnya kerap mencari panggung sendiri. [OKT]