Corona Lebih Ngeri dari Krisis 2008

Sri Mulyani Bikin Takut Saja

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri). (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Klik untuk perbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri). (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan, Sri mulyani, membanding-bandingkan dampak wabah virus corona yang sekarang terjadi dengan gejolak ekonomi di 2008. Sri Mul bilang, dampak corona lebih dahsyat dibanding krisis yang terjadi 12 tahun silam itu. Duh Mba Sri, bikin takut aja.

Sri Mul menceritakan krisis 2008 berawal dari sektor perbankan, kemudian memengaruhi stabilitas di pasar modal. Dampak ekonominya relatif terbatas. hanya bikin lembaga keuangan atau korporasi yang jatuh. Saat itu, indonesia bisa melawati krisis dengan selamat. Ekonomi kita secara umum baik-baik saja. Hanya sektor keuangan yang terguncang.

Sementara, dampak wabah corona, lanjutnya, memukul semua sektor. Dampaknya amat besar lantaran memengaruhi psikologis dan kesehatan manusia. Gara-gara corona, masyarakat tak berani melakukan kegiatan. Akibatnya, sektor riil dan manufaktur terganggu. Investasi ikut terhambat.

Alhasil, ekonomi pun goyang-goyang. “Kalau dulu kan melalui lembaga keuangan. Korporasi jatuh, PHK paling. Kalau (dampak corona) ini langsung orang sakit. Jadi, nature-nya lebih dalam. Karena masyarakat tiba tiba menjadi setengah lumpuh, lah,” kata Sri Mul, di Kompleks istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu lalu memberikan contoh bagaimana corona menyebabkan PHK lantaran perusahaan-perusahaan tidak mendapatkan aktivitas yang cukup. Misalnya saja, industri yang tergantung pada pariwisata seperti maskapai penerbangan, hotel, dan restoran. Karena tak ada kegiatan, tak hanya maskapai yang terpukul. Hotel dan restoran juga.

Berita Terkait : Di Atas Tenang, Di Bawah Tegang

Industri manufaktur juga tergaggu karena rantai pasokan terhambat. Pukulan bertubi-tubi itu ujung ujungnya bermuara pada sektor keuangan. Pembayaran kredit dunia usaha dari perbankan akan seret dan membuat rasio kredit macet meningkat.

Dengan kondisi ini, kata Sri Mul, penanganan dampak corona lebih rumit dibanding krisis 2008. Karena itu, kebijakan pemerintah ke depan akan lebih difokuskan untuk memberikan ketenangan terhadap masyarakat. Caranya, antara lain melakukan penanganan serius terhadap virus corona. Supaya masyarakat tidak merasa ketakutan yang membuat mereka tidak melakukan kegiatan apa-apa.

Sementara, untuk sisi fiskal, pemerintah fokus membantu sektor riil. Seperti dengan memberikan berbagai stimulus dan relaksasi. Sejauh ini, pemerintah sudah mengeluarkan paket kebijakan jilid I dengan menggelontorkan insentif sekitar Rp 10,3 triliun. Insentif itu diberikan untuk sektor pariwisata, kartu prakerja, kartu sembako, dan relaksasi pajak untuk sektor hotel dan restoran.

Paket kebijakan selanjutnya juga akan dikeluarkan. Hanya saja, Sri Mul enggan menyebut potensi insentif yang akan digelontorkan. Pemerintah masih menghitung total insentif yang akan dikucurkan ke depannya. "Kami sedang hitung dan rancang ini,” ujarnya.

Sri Mul juga tak memberikan kepastian apakah jumlah insentif akan sama seperti saat krisis keuangan 2008 silam yang mencapai Rp 73 triliun. “kami akan lihat dulu,” tuntasnya.

Berita Terkait : Singapura Temukan 6 Pasien Baru Corona, 3 Pernah ke Batam

Direktur Riset Center of Reform on economy (Core), Piter Abdullah, menyatakan, yang disampaikan Sri Mul sangat realistis. Sudah banyak pihak yang berpendapat serupa. Krisis keuangan 2008 memang besar. Namun, krisis yang dipicu bangkrutnya JP Morgan dan Lehman Brother itu dampaknya terbatas di sektor keuangan. Imbas ke Indonesia juga kecil, hanya sektor keuangan.

Saat itu, ekonomi kita relatif aman. “Pada periode itu, harga komoditas masih lebih baik. Sektor pariwisata masih normal normal saja,” kata Piter, saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sementara, dampak corona lebih mengerikan. Sebab, kata Piter, corona memperparah perlambatan ekonomi kita. Sebelum corona datang, ekonomi kita sudah lesu. Ditandai dengan menurunnya harga komoditas selama 5 tahun berturut-turut. Setelah itu, ekonomi global ikut ada melambat lantataran ada perang dangang AS China. Akibat perang dangang itu, neraca perdaganan defisit dan memperlebar transaksi berjalan.

Dua hal itu yang menyebabkan ekonomi kita terkena hantaman demi hantaman. Setelah itu, muncul wabah corona yang menghantam impor dan menghantam sektor pariwisata. Wabah corona ini seperti puncaknya. karena menghantam semua sektor dan mengena ekonomi kita. “Ini perlu kita sadari bersama bahwa masalah corona ini lebih rumit dan lebih kompleks. Solusi yang diambil pemerintah juga harus memperhatikan konsekuensinya. Solusinya berat, konsekuensinya juga berat,” paparnya.

Ia lalu menyoroti paket kebijakan dengan memberikan stimulus. Kata dia, stimulus dan insentif itu membawa konsekuesnsi defisit melebar. “Artinya utang akan naik. Masyarakat nggak mau tahu itu. Pemerintah harus memperhatikan karena nanti diprotes lagi," ungkapnya.

Berita Terkait : Ekonomi Goyah, Politiknya Kokoh

Ia pun menyarankan, pemerintah tidak buru-buru mengeluarkan paket paket kebijakan. Stimulus perlu. Tapi harus tepat sasaraan. Tidak buru buru. Harus terukur. Seperti mengge lontorkan anggaran Rp 298 miliar untuk menggenjot sektor pariwisata.

Kata dia, pemberian stimulus itu tidak tepat waktu. karena saat ini sektor pariwisata sedang anjlok. Banyak orang tidak melakukan kegiatan karena takut virus corona. Menurut dia, pemberian stimulus itu sebaiknya ketika pariwisata mulai bangkit. “Dikasih diskon sedemikian rupa juga orang enggak bakalan mau pergi. Sementara, mengundang orang dari luar negeri juga resikonya tinggi,” ujarnya.

Menurut dia, sektor yang harus mendapat perhatian adalah sektor manufaktur. karena saat ini kesulitan mendapatkan bahan baku, sementara yang beli sedikit. “Ini yang harus didorong konsumsi dan produksi,” tuntasnya. [BCG]