RMco.id  Rakyat Merdeka - Foto dan video Kabah sepi dari jamaah bikin hebah dua hari ini. Ada yang sedih dan terharu kiblatnya umat islam yang biasanya dikelilingi ribuan jamaah itu, jadi kosong. Tapi, ada juga pihak-pihak yang berpikir nyeleneh: mengaitkan situasi itu dengan tanda- tanda kiamat. Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj menepis anggapan tersebut. Kiai Said bilang, kiamat masih jauh.

Sejak pagi kemarin, jagat Twitter diheboh­kan oleh tagar #Kabah. Lewat tagar tersebut, warganet membagikan foto dan video di sekitar Kabah yang terlihat sepi. Ada lebih dari 4 ribu cuitan yang menggunakan tagar tersebut. Saking banyaknya, tagar tersebut nangkring di urutan atas trending topic.

Salah satu video yang menggambarkan Kabah sepi itu antara lain diunggah oleh akun @Saudi_Gazette. Lewat video itu terlihat Kabah yang kosong melompong. Sebuah pemandangan yang langka. Karena tak biasanya mathaf atau lantai dasar tempat jemaah tawaf sepi. Tak terlihat jamaah yang sedang tawaf atau salat. Padahal masjid suci umat Islam ini tak pernah sepi. Sepanjang hari, dari pagi, siang sampai malam selalu ada jamaah yang tawaf atau salat. bahkan, rangkaian tawaf tak pernah putus.

Awalnya, banyak yang tak percaya de­ngan foto dan video tersebut. ada yang menyebutnya hoaks. Wajar saja. Soalnya saat wabah virus onta (Mers) menyebar di Saudi 2014 lalu, Saudi tak pernah menutup Masjidil Haram. Sebagian warganet mengaitkan dengan tanda­ tanda kiamat. Seperti dikicaukan @parweed. “Salah satu tanda dimulainya kiamat adalah ketika sudah tidak ada lagi yang tawaf. Dan itu dimulai dari sekarang,” kicaunya.

Berita Terkait : 7 Pegawai KPK Kena Corona,  5 Sudah Sembuh

Belakangan diketahui, foto itu benar adanya. Sejak Rabu (4/3), Kerajaan Saudi mengeluarkan kebijakan pe­nangguhan umrah menyeluruh, karena khawatir penyebaran virus corona. Tak hanya Masjidil Haram yang ditutup, tempat sai yaitu antara Bukit Safa dan Marwah serta tempat minum air zamzam ikut ditutup. Kerajaan juga melarang jamaah berkunjung ke Masjid Nabawi di Madinah termasuk makam Nabi dan taman pemakaman Al Baqi’.

Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi ditutup satu jam setelah salat Isya dan dibuka kembali satu jam sebelum salat Subuh. Selama ditutup, kedua masjid suci akan dilakukan proses pembersihan dan sterilisasi di luar waktu salat. Keputusan berlaku bagi seluruh warga negara Saudi dan jamaah asing.

Kerajaan mengatakan penangguhan berlaku sementara hingga batas wak­tu yang belum ditentukan. Pence­gahan tersebut sebagai upaya mem­batasi penyebaran virus corona dan mencegahnya masuk ke dua masjid suci umat Islam itu. “Kedua masjid itu merupakan tempat bertemu dan ber­kumpulnya para jemaah dari seluruh dunia,” tulis Menteri Dalam Negeri Saudi melalui rilis resmi Saudi Press Agency, kemarin. Keputusan ini tak lepas dari ditemukannya kasus baru yang terjangkit virus corona. Kasus kedua ini terhubung dengan pasien kasus positif pertama yang baru saja melakukan perjalanan ke Iran.

Imam Besar Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman bin Sudais mengatakan, penutupan Kabah karena menyangkut masalah syariah untuk menyelamatkan para jamaah umrah. Menurut dia, ke­putusan tersebut sudah sesuai kaidah ushul fiqh, yaitu mencegah kerusakan atau bahaya lebih diutamakan ketimbang mengupayakan kemaslahatan atau

Baca Juga : Saat Ini, Kita Tak Bisa Berharap pada Investasi untuk Selamatkan Ekonomi

keuntungan. Juga syad’ dzara’i atau memotong jalan kerusakan/mafsadah untuk menghindari kerusakan. Menurut Syeikh Sudais, hal serupa pernah terjadi di zaman Rasulullah dan zaman Umar bin Khattab.

Dari catatan @jejakIslami, setidak­nya sudah 40 kali gelaran haji ditutup dengan berbagai alasan. Kebanyakan ditutup lantaran wabah penyakit. Seperti tahun 1892 dan 1895 yang ditutup lantaran alasan wabah kolera dan typus.

Tahun 1846 juga gelaran haji ditutup karena merebaknya wabah kolera. Tahun 1814 dan 1831 juga pernah ditutup karena wabah thaun dan wabah hindi. Teranyar adalah tahun 1987 saat wabah menginitis menyebar dengan cepat. Setidaknya ada 10.000 jamaah yang terinfeksi.

Muhsin Zahrani, seorang pem­bimbing haji dan umrah yang sudah 15 tahun bermukim di Saudi menceritakan, bagaimana Masjidil Haram agak sepi lantaran larangan tersebut. Dia bilang, awalnya memang banyak warga Saudi yang mengira larangan tersebut hoaks. Namun kabar tersebut benar dibuktikan 4,5 dan 6 Maret kemarin tak ada jamaah yang bisa masuk ke lantai Kabah. “Mau diadakan kebersihan besar­ besaran. Untuk antisipasi corona,” kata Muhsin, saat dikontak Rakyat Merdeka, tadi malam.

Baca Juga : Menko PMK : Kabupaten/Kota Harus Punya Minimal 1 PCR

Keputusan tersebut membuat Mas­jidil Haram agak sepi. Karena tak ada yang tawaf di lantai dasar. Tawaf masih bisa dilakukan di lantai dua dan seterusnya. Hanya saja, bagi yang sudah sepuh hal ini sedikit kendala. Karena jarak satu kali putaran di lantai atas adalah sekitar 1 km. Artinya kalau 7 kali harus berjalan 7 km. “Banyak yang cerita akhirnya jamaah bayar dam (denda),” ucapnya.

Ketum PBNU, KH Said Aqil Si­radj menilai, keputusan yang di­ ambil kerajaan sudah tepat. Dia bilang, keputusan tersebut untuk me­nyelamatkan umat muslim dari virus corona. Dia juga meminta masyarakat untuk tidak mengaitkan sepinya jamaah yang beribadah di Kabah dengan peristiwa kiamat. “Kia­mat masih jauh,” kata Kiai Said, di Surabaya, kemarin. [BCG]