Jokowi Panggilin Bos Parpol, Ada Apa Ya..?

Presiden Jokowi dan Ketum PAN Zulkifli Hasan. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi dan Ketum PAN Zulkifli Hasan. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi bertemu dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketum Golkar Airlangga Hartarto di Istana. Ada apa ya Jokowi mulai panggilin bos­-bos parpol?

Pagi kemarin, Ketum Pan Zul­kifli hasan bertandang ke Istana. Zul datang diam­diam. bahkan, pertemuannya dengan Jokowi tidak masuk dalam agenda Presiden yang diterima wartawan Istana. Keber­adaannya baru diketahui saat keluar dari Istana negara sekitar pukul 10 pagi. Zul ngacir menumpangi mobil golf, yang melintas lumayan kencang.

Zul yang hari itu mengenakan batik cokelat lengan panjang berpa­du celana kain warna hitam, enggan berkomentar ketika dicegat war­ tawan. Saat turun dari mobil golf di pintu keluar Istana, Wakil Ketua MPR itu langsung berlari kecil menuju mobil sedan hitam, jenis Toyota Crown Royal Saloon. Mobil dengan nomor polisi B 1583 FRO ini menunggu di parkiran. 

Kepada awak media, ia hanya tersenyum sambil memberi isyarat jari telunjuk di bibirnya. Tanda tidak mau bicara. Beberapa wartawan yang mengejar Zul hingga ke parkiran, juga tidak digubris. Zulhas yang sudah memasuki mobil, enggan membuka kaca pintu mobilnya, yang langsung tancap gas meninggalkan wartawan.

Berita Terkait : Airlangga: Omnibus Law Ciptakan Pekerjaan

Sorenya, sekitar pukul 15.20 WIB, giliran sejumlah elit Golkar yang menyambangi istana. Ketum Partai Golkar Airlangga yang datang menumpangi mobil dinas RI 16, didampingi oleh Sekjen Golkar Lodewijk Freidrich Paulus dan Po­litisi Golkar Azis Syamsuddin. Mu­lanya tidak ada yang berkomentar saat memasuki istana. Azis terlihat hanya melambaikan tangan ke arah wartawan.

Usai pertemuan, Airlangga hanya mengatakan bahwa kedatangannya bersama dua elite partai Golkar lainnya adalah dalam rangka membahas penanganan virus corona dan Omnibus Law Cipta Kerja. Menurutnya, pembahasan soal ini, tidak hanya dilakukan Presiden Jokowi dengan Golkar, tapi juga dengan petinggi partai-­partai lainnya.

“Ya jadi hampir seluruh partai, baik yang di pemerintah koalisi maupun yang di luar koalisi,” katanya di Kompleks Istana Kepresidenan.

Sebelumnya, Ketum Golkar Air­langga Hartarto juga diutus Jokowi bertemu dengan Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (5/3) malam.

Berita Terkait : Golkar Tegetkan Menang 60 Persen Di Pilkada Tahun Ini

Sementara politikus PAN Yandri Susanto, saat konfirmasi mengatakan kedatangan Ketumnya ke Istana itu hanyalah dalam rangka silaturahmi. “Silaturahmi, habis Kongres,” ujar Yandri kepada Rakyat Merdeka tadi malam. “Dan insyaAllah bang Zul mengundang Pak Jokowi untuk hadir di pelantikan DPP PAN 2020­-2025,” sambungnya.

Ketika disinggung, apakah ada pembicaraan mengenai ajakan untuk merapat ke koalisi pemerintahan, salah satu orang dekat Zulhas ini mengaku tidak tahu. “Tapi bisa saja. Bang Zul dan Pak Jokowi kan baik hubungannya kan. Dan saya lihat Bang Zul selama ini juga mensupport Pak Jokowi kok, program­-program yang bagus Bang Zul support terus. Tapi kalau ada yang kurang pas, Bang Zul juga kasih kritik dan terukur,” ucapnya.

Menurut dia, bergabung atau tidaknya PAN ke dalam koalisi pemerintahan, tergantung Presiden Jokowi. “Bola ada di tangan Pak Jokowi,” kode Yandri.

Kendati demikian, sejauh ini, kata dia belum ada pernyataan bergabung ke dalam koalisi pemerintahan dari partainya. Lagi pula, keputusan yang bersifat strategis seperti itu dalam tradisi PAN harus diputuskan secara kolektif dan kolegial. “Mungkin diputuskan di Rakernas atau di Rapimnas. Jadi bukan keputusan di Ketua Umum sendiri.”

Baca Juga : Corona Bisa Picu Resesi

Di sisi lain, Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan kunjung­an petinggi Partai Golkar yang diawali makan malam di Cikeas, Bogor, Jawa Barat itu membawa pesan Pre­siden Jokowi. Demokrat juga diajak untuk memberikan masukan terkait restrukturisasi perekonomian dan Pil­kada 2020 yang akan serentak di 270 wilayah seluruh Indonesia. SBY, sebut Hinca menyambut positif ajakan itu.

“Kita senang mendengar ajakan ini, dan menyambutnya. Sampaikan salam saya kepada Presiden Jokowi,” kata Hinca, menirukan pernyataan SBY.

Ketika ditanya, apakah ada ajakan untuk bergabung ke dalam koalisi pemerintahan, Hinca mengatakan bahwa Partai Demokrat tetap akan berada di posisi penyeimbang. “Kami setia di sikap politik kami sebagai penyeimbang, yang sudah kami pakoni sejak 6 tahun lalu. Yang sudah baik kami dukung yang belum kami perbaiki dan kritisi,” pungkasnya.

Pengamat politik Ujang Komarudin menilai, besar kemungkinan perte­muan yang dilakukan Jokowi dengan bos­-bos partai, baik langsung maupun tidak langsung adalah untuk lobi­-lobi terkait RUU Omnibus Law. Apalagi, belakangan Demokrat mulai kritis terhadap RUU tersebut. [SAR]